Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa saham Asia-Pasifik bergerak melemah pada perdagangan Selasa (1/9/2026), seiring kekhawatiran investor terhadap kembali memanasnya konflik bersenjata di Timur Tengah.
Melansir CNBC, sentimen pasar tertekan setelah eskalasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,91%, sementara indeks Topix bergerak relatif datar. Pergerakan tersebut mencerminkan sikap hati-hati investor di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq sama-sama turun lebih dari 1% pada awal perdagangan. Pelemahan bursa Korea Selatan menjadi salah satu penurunan terbesar di kawasan Asia-Pasifik pada awal perdagangan Selasa.
Di Australia, indeks acuan S&P/ASX 200 juga tercatat melemah 0,36%. Tekanan terhadap pasar saham regional terjadi ketika investor kembali mencermati risiko ekonomi dan pasar keuangan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Sentimen negatif tersebut muncul setelah Iran meluncurkan rudal pada malam hari ke dua pangkalan udara AS yang berada di Yordania. Serangan itu dilakukan sebagai respons atas serangan AS terhadap Iran di Pulau Larak, yang berada di kawasan strategis Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan mengancam akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah serangan rudal tersebut. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar bahwa konflik antara kedua negara dapat kembali meluas.
Di sisi lain, Trump bersama sejumlah pejabat senior AS juga disebut tengah mempertimbangkan serangan terbatas di Selat Hormuz. Menurut laporan Axios yang mengutip tiga pejabat AS, langkah tersebut dipertimbangkan untuk mencegah Iran menyerang kapal-kapal yang melintas di jalur perdagangan strategis tersebut.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar global karena merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia. Setiap gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasokan energi dan menekan sentimen investor di pasar keuangan global.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.