Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031 Destry Damayanti mengakui perekonomian global masih berada dalam fase higher for longer, di mana tingkat suku bunga, inflasi, dan imbal hasil obligasi (bond yield) di negara-negara maju bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan.
Kondisi tersebut, menurut Destry, akan menjadi salah satu faktor utama yang dipertimbangkan BI dalam merumuskan kebijakan domestik ke depan. Pernyataan itu disampaikan saat merespons pertanyaan mengenai kenaikan global bond yields yang terjadi di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Jepang.
"Ini kan sesuai juga dengan pengamatan kami, juga dalam asesmen kami terakhir. Kita memang menghadapi situasi higher for longer. Jadi bond yield yang tinggi, kemudian inflasi juga tinggi di negara maju, kemudian juga suku bunga masih terus tinggi," kata Destry usai diambil sumpah jabatannya sebagai Gubernur BI di Mahkamah Agung, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Destry menilai kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan bagi negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Karena itu, BI akan terus mencermati perkembangan global sebagai bagian dari pertimbangan dalam menetapkan arah kebijakan.
"Nah ini sesuatu yang pasti akan kami antisipasi pada saat kami membuat kebijakan untuk domestik. Jadi faktor-faktor global itu akan sangat juga mempengaruhi banyak latar belakang kami nanti dalam membuat kebijakan domestik," ujarnya.
Menurut Destry, tingginya ketidakpastian global membuat stabilitas ekonomi tetap menjadi fokus utama BI dalam waktu dekat. Sebelumnya, ia menegaskan bahwa bank sentral akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, dan sistem keuangan sebagai fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.
"Jadi itu ya mungkin efeknya bahwa kita akan tetap memperhatikan itu," kata Destry.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.