Jakarta, CNBC Indonesia - Para anggota dewan gubernur bank sentral dan otoritas jasa keuangan di Asia-Pasifik berkumpul dalam konferensi Biennial Policy Conference (BPC) di Bali pada 26-27 Agustus 2026.
Dalam konferensi ini, turut hadir peraih Nobel Ekonomi Prof. Peter Howitt dan Prof. Daron Acemoglu.
Selain itu, turut hadir pula Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae, Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) periode terdahulu, Miranda S. Goeltom, Halim Alamsyah, dan Dody Budi Waluyo, serta Anggota Dewan Gubernur bank sentral di kawasan Asia-Pasifik.
Deputi Gubernur BI Thomas Thomas Djiwandono mengatakan konferensi ini digelar untuk mewujudkan sinergi kebijakan lintas otoritas dan lintas negara yang berperan krusial agar bank sentral mampu menjaga stabilitas makrofinansial sekaligus mengarahkan pemanfaatan teknologi bagi kesejahteraan masyarakat.
Perubahan global kini semakin kompleks akibat disrupsi teknologi, perubahan iklim, dan fragmentasi geoekonomi. Di tengah kondisi itu, inovasi menjadi motor utama pertumbuhan, sementara stabilitas ekonomi dan keuangan menjadi jangkar yang membuat inovasi bisa tumbuh dengan aman.
"Karena itu, sinergi kebijakan lintas otoritas dan lintas negara menjadi keharusan," kata Thomas saat menutup BPC di Bali, dikutip Senin (31/8/2026).
Thomas menekankan bahwa stabilitas adalah prasyarat mendasar bagi kemajuan suatu negara di tengah berlangsungnya "creative destruction" yang terus menggerakkan dinamika ekonomi.
Bank sentral merupakan penjaga utama stabilitas makrofinansial yang memungkinkan inovasi berkembang dengan aman. Karena itu, bauran kebijakan yang terintegrasi juga harus terus berinovasi merespons guncangan yang semakin nonlinier.
"Teknologi membawa efisiensi, tetapi efisiensi tidak boleh terpisah dari kemanusiaan. Inklusivitas tidak datang dengan sendirinya bersama teknologi, melainkan harus dirancang ke dalamnya," tegas Thomas.
Oleh karena itu, BI mengambil peran aktif dalam mengarahkan perkembangan ekosistem digital agar teknologi tetap menjadi sarana untuk mencapai manfaat ekonomi yang lebih luas.
Lebih lanjut, Thomas menyampaikan bahwa persoalan multidimensi yang dihadapi saat ini tidak dapat diselesaikan oleh bank sentral secara soliter.
"Kolaborasi lintas negara dan jaring pengaman keuangan kawasan dibutuhkan sebagai perisai bersama dalam menghadapi dinamika siklus keuangan global," ujar Thomas.
Sementara itu, Prof. Peter Howitt, menyoroti dua jalur utama yang mendorong inovasi sebagai motor pertumbuhan jangka panjang.
"Pertama, faktor nonfinansial, yaitu persaingan usaha yang sehat dan perlindungan kekayaan intelektual. Kedua, peran sektor keuangan yang kuat dan stabil dalam membiayai laju inovasi suatu negara," kata Howitt.
Lebih jauh, Prof. Howitt menekankan peran strategis bank sentral dalam menjaga stabilitas harga sebagai jangkar bagi keberlanjutan inovasi.
"Inflasi tinggi meningkatkan ketidakpastian dan biaya pendanaan, sementara guncangan finansial dapat menekan aktivitas riset dan pengembangan yang penting bagi kapasitas inovasi jangka panjang," terangnya.
Karena itu, regulasi bank sentral perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas sistem keuangan dan dukungan terhadap inovasi.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Prof. Daron Acemoglu, yang melihat peran negara sebagai faktor penting dalam menentukan manfaat kemajuan teknologi.
"Arah pengembangan teknologi, khususnya kecerdasan artifisial, akan menentukan apakah kemajuan tersebut dapat memperkuat stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat atau justru memperlebar kesenjangan," ungkap Acemoglu.
Ia menekankan bahwa penguatan kapasitas dan tata kelola lembaga menjadi prasyarat penting agar arah kemajuan teknologi dapat memberi manfaat secara luas bagi manusia.
Sejumlah isu strategis turut mengemuka dalam konferensi ini. Pada aspek kebijakan makrofinansial, penguatan kerangka kebijakan terintegrasi diperlukan untuk merespons perubahan ekonomi yang semakin kompleks.
Di bidang transformasi digital, perkembangan Central Bank Digital Currency (CBDC), tokenisasi, aset digital, dan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) semakin mendorong kebutuhan akan ekosistem digital yang efisien, saling terhubung, dan tangguh.
Sementara itu, meningkatnya risiko perubahan iklim turut menempatkan pengelolaan risiko iklim dan mobilisasi pembiayaan berkelanjutan sebagai bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi.
Berbagai perkembangan tersebut memperkuat kebutuhan akan kebijakan yang adaptif, tata kelola yang kuat, serta sinergi regional dan global untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.