Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Ekonomi

Ganti Metode Tanam Modern, Amran Sebut Petani Bisa Cuan Rp35 Juta

NadiKabar Biro
Ganti Metode Tanam Modern, Amran Sebut Petani Bisa Cuan Rp35 Juta
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Ganti Metode Tanam Modern, Amran Sebut Petani Bisa Cuan Rp35 Juta.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menargetkan penerapan metode tanam modern alias Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) pada minimal 1 juta hektare (ha) lahan pada 2027.

Metode tersebut diklaim dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menambah penghasilan petani hingga sekitar Rp35 juta per ha.

Amran mengatakan pemerintah akan memperluas penerapan PM-AAS dengan menyiapkan subsidi benih untuk menarik minat petani. Target 1 juta ha tersebut akan berlaku secara nasional.

"Caranya adalah untuk tahun pertama insyaallah tahun depan kita subsidi benih. Supaya menarik, subsidi benih target 1 juta hektare," ucap Amran di Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi Sukamandi, Subang, Rabu (2/9).

Ia kemudian menghitung potensi tambahan produksi dan pendapatan apabila metode tersebut diterapkan pada 1 juta ha. Amran menyebut peningkatan produktivitas dapat mencapai sekitar 5 ton per ha dibandingkan pola sebelumnya.

"Se-Indonesia minimal 1 juta tahun depan. Enggak, kita mulai sekarang, mulai sekarang kita jalan tetapi tahun depan kita anggarkan minimal 1 juta ha," ujarnya.

Menurut Amran, jika produktivitas meningkat sekitar 5 ton per ha, penerapan pada 1 juta ha akan menghasilkan tambahan sekitar 5 juta ton gabah. Dalam hitungan lain yang disampaikannya, produksi dapat mencapai sekitar 10 juta ton dengan nilai sekitar Rp65 triliun.

"Kalau itu terjadi, meningkatkan kesejahteraan. Kalau 1 juta (ha), katakanlah bisa nanti 2 juta (ha), 1 juta aja, kalau 1 juta kali 5 ton itu 5 juta ton. Kalau 2 juta (ha) berarti 10 juta ton," kata Amran.

Ia kemudian menyebut 10 juta ton tersebut jika dikalikan harga sekitar Rp6.500 per kilogram (kg) dapat menghasilkan nilai sekitar Rp65 triliun. Namun, angka tersebut merupakan perhitungan nilai produksi yang disampaikan Amran, bukan secara spesifik tambahan pendapatan bersih petani.

Adapun PM-AAS merupakan sistem pertanian intensif berbasis teknologi yang menekankan efisiensi, mekanisasi, pola tanam rapat, dan peningkatan produktivitas.

Adapun metode yang dikembangkan oleh Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) ini antara lain menggunakan sistem tanam benih langsung (direct seeding), varietas unggul, pemupukan terukur, pengelolaan air, mekanisasi, serta pengendalian hama dan gulma.

Amran mengatakan metode tanam modern itu telah diuji coba selama sekitar dua tahun dan mulai diterapkan di sejumlah provinsi. Hasil uji coba menunjukkan produktivitas yang sebelumnya berada di kisaran 5-5,5 ton per ha dapat meningkat menjadi 11-13 ton per ha.

"Ini adalah teknologi baru, namanya metode PM-AAS. Nah ini metode baru, kita sudah uji coba sudah dua tahun. Sekarang ini sudah menyebar ke 10-11 provinsi," ucap Amran.

Ia menjelaskan peningkatan produksi terutama berasal dari peningkatan populasi tanaman dalam 1 ha. Pada pola sebelumnya, populasi sekitar 360 ribu rumpun dapat ditingkatkan menjadi sekitar 800 ribu hingga 1 juta rumpun dengan pola tanam yang lebih rapat.

Menurut Amran, biaya produksi memang bertambah sekitar Rp2 juta per ha, terutama untuk kebutuhan benih dan pupuk. Namun, ia memperkirakan tambahan biaya tersebut masih lebih kecil dibandingkan kenaikan pendapatan yang bisa diperoleh petani.

"Lebih tinggi Rp2 juta (modalnya) tetapi (petano) penghasilannya naik Rp30 juta, Rp35 juta," katanya.

Amran juga mengatakan metode tersebut dapat menghemat waktu karena benih ditanam langsung tanpa melalui proses persemaian terlebih dahulu. Dengan begitu, ia menilai pola tanam hingga tiga kali dalam setahun lebih memungkinkan dilakukan.

"Ini langsung direct seeding. Jadi dari padi, bibit benih ini langsung disemai. Tidak ada lagi biaya untuk pembibitan. Ini menguntungkan segi waktu," ujarnya.

Untuk varietas, Amran menyebut salah satu yang digunakan dalam metode tersebut adalah Inpari 32.

Amran mengatakan perluasan PM-AAS tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga keberlanjutan swasembada dan ketahanan pangan. Ia menyebut penerapan metode tersebut akan diprioritaskan bagi daerah yang siap melakukan percepatan.

"Ini adalah solusi, pertama adalah meningkatkan kesejahteraan petani, yang kedua adalah keberlanjutan swasembada pangan, ketahanan pangan, kedaulatan pangan," kata Amran.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Ekonomi #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia