Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Rabu (2/9/2026). Penguatan terjadi di tengah sentimen global yang masih dibayangi memanasnya konflik AS-Iran dan lonjakan harga minyak.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG pada pukul 09.00 WIB berada di level 6.626,61, naik 26,67 poin atau 0,40% dari penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.599,94.
Sebanyak 278 saham menguat, 90 saham melemah, dan 595 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi pada awal perdagangan tercatat mencapai Rp412,4 miliar, dengan volume perdagangan 632,4 juta saham dan frekuensi 56.270 kali.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pembukaan perdagangan mencapai sekitar Rp11.574 triliun.
Adapun penguatan IHSG terjadi setelah pada perdagangan Selasa (1/9/2026), indeks ditutup melonjak 1,14% ke level 6.599,94.
Sementara itu, IHSG berpotensi menghadapi tekanan pada perdagangan hari ini, di tengah memburuknya sentimen global akibat eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran serta lonjakan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah negara-negara utama.
AS kembali melancarkan serangan udara ke Iran pada Selasa (1/9/2026), yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas AS di kawasan Timur Tengah. Eskalasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Harga minyak Brent melonjak 4,6% ke US$94,65 per barel pada perdagangan Selasa, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 0,6% menjadi US$90,77 per barel. Dalam dua hari terakhir, harga Brent dan WTI telah melonjak sekitar 6%.
Kenaikan harga energi tersebut turut menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi global dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah. Yield US Treasury 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 4,788%, level tertinggi dalam 20 bulan. Di Jepang, yield obligasi pemerintah 10 tahun menembus 3% untuk pertama kalinya sejak 1996, sementara yield obligasi Inggris tenor yang sama mencapai 5,2341%, tertinggi sejak Juni 2008.
Dari dalam negeri, sentimen juga cenderung beragam. PMI manufaktur Indonesia kembali masuk zona kontraksi pada Agustus 2026 dengan level 49,8, berbalik dari posisi ekspansif pada bulan sebelumnya. Penurunan produksi dan tenaga kerja menjadi salah satu faktor yang menekan aktivitas manufaktur.
Di sisi lain, inflasi Indonesia mulai meningkat. BPS mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 0,21% secara bulanan dan 3,19% secara tahunan, berbalik dari deflasi 0,14% pada Juli. Kenaikan terutama didorong kelompok makanan, minuman dan tembakau, termasuk daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar, dan beras.
Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada Juli 2026 sebesar US$110 juta, setelah mengalami defisit US$450 juta pada bulan sebelumnya. Namun, surplus tersebut jauh lebih tipis dibandingkan periode sebelumnya seiring impor yang tumbuh 27,02% secara tahunan, lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekspor sebesar 6,05%.
Sentimen eksternal juga akan dicermati dari pasar tenaga kerja AS. Data Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) menunjukkan lowongan kerja AS naik 89.000 menjadi 7,27 juta pada Juli, tetapi masih di bawah ekspektasi pasar sebesar 7,30 juta. Data tersebut dapat menjadi perhatian investor dalam membaca arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.