Jakarta, CNBC Indonesia — Pertumbuhan penyaluran kredit PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sepanjang semester I-2026 mencapai angka double digit. Hal ini menjadi salah satu sorotan utama dari kinerja Perseroan yang positif sepanjang paruh pertama tahun 2026.
Seperti diketahui, BRI hari Senin melaporkan kinerjanya, dengan capaian laba bersih tahun berjalan sebesar Rp31,2 triliun sepanjang semester I-2026, naik 17,5% secara tahunan (yoy) dari sebesar Rp26,53 triliun pada tahun semester I-2025. Capaian itu melampaui perkiraan Indo Premier Sekuritas, JP Morgan, BNI Sekuritas, maupun konsensus pasar.
Pada fungsi intermediasi, total kredit dan pembiayaan BRI secara konsolidasi tumbuh sebesar 16,2% yoy menjadi Rp1.646 triliun. Komposisi kredit UMKM sebesar 75,1%, dan jumlahnya meningkat 8,6% yoy.
Pertumbuhan kredit BRI itu melampaui rencana bisnis bank (RBB) tahun ini. Peningkatan itu juga diiringi dengan perbaikan kualitas aset.
Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) turun ke 2,9%, sementara pencadangannya alias NPL coverage naik menyentuh 180%. Rasio kredit dalam risiko atau loan at risk (LAR) turun menjadi 9,2%, sedangkan LAR coverage meningkat 57%.
Indo Premier memaparkan ada beberapa perbaikan signifikan pada segmen mikro. Di antaranya, penurunan kualitas kredit bersih menjadi NPL turun menjadi rata-rata Rp1,7 triliun pada semester I-2026 dibandingkan Rp2 triliun pada kuartal I-2026 dan angka tertinggi sebesar Rp3,5 triliun pada Januari 2025.
Di sisi lain, pertumbuhan kredit BRI juga didukung oleh segmen korporasi dan komersial yang masing-masing meningkat sebesar 47% dan 58% yoy. Indo Premier mengataka hal ini juga mendorong revisi panduan pertumbuhan kredit 2026 menjadi 8-10%.
JP Morgan menilai, penempatan dana pemerintah serta kemampuan BRI untuk menempatkan dana tersebut pada tingkat suku bunga tinggi di BI akan menjadi pendorong penting bagi rasio margin bunga bersih (NIM), di samping penyaluran dana secara komersial.
Mengikuti yang kuat pertumbuhan kredit di semester I-2026, manajemen BRI menaikkan panduan pertumbuhan pinjaman FY26 menjadi 8-10% dari 7-9%, dengan tetap mempertahankan NIM, biaya kredit, dan pedoman CIR. Menurut BNI Sekuritas, BRI menjadi satu-satunya bank BUMN besar yang tidak merevisi turun panduan NIM.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.