Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Ekonomi

Pertamina Patra Niaga Prediksi Konsumsi BBM Capai 88 Juta KL pada 2026

NadiKabar Biro
Pertamina Patra Niaga Prediksi Konsumsi BBM Capai 88 Juta KL pada 2026
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Pertamina Patra Niaga Prediksi Konsumsi BBM Capai 88 Juta KL pada 2026.

JAKARTA — Pertamina Patra Niaga mengungkap konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, bahkan diproyeksikan mencapai 88 juta kiloliter (KL) tahun ini.

Direktur Perencanaan & Pengembangan Bisnis Pertamina Patra Niaga Harsono Budi Santoso mengatakan konsumsi BBM nasional meningkat dari sekitar 70 juta KL dalam empat hingga lima tahun terakhir menjadi 84 juta KL. Angka tersebut diperkirakan kembali naik hingga 87-88 juta KL pada 2026.

"Ini merupakan angka yang juga cukup tinggi dan sebagian dari BBM yang kita konsumsi, kita ketahui bersama ini sangat tergantung dari BBM import, bahkan crude oil kita pun juga import," kata Harsono dalam acara IndoEBTKE ConEx 2026, Rabu (2/9).

Menurutnya, tingginya ketergantungan terhadap impor BBM dan minyak mentah menjadi persoalan bagi ketahanan energi Indonesia. Kondisi tersebut juga dinilai berisiko terhadap kedaulatan energi nasional.

"Ini yang tentunya dari sisi energi security, kemudian dari sisi sovereignty, ini tentunya sangat fragile untuk kita, untuk negara yang kita cintai ini," ujarnya.

Harsono mengatakan kondisi tersebut mendorong Pertamina melakukan diversifikasi energi domestik sekaligus mempercepat transisi menuju energi baru dan terbarukan (EBT).

Menurutnya, upaya transisi telah dilakukan sejak 2008 melalui pengembangan biodiesel. Saat itu, pemanfaatan biodiesel dimulai dengan campuran 2,5 persen atau B2,5 dan kini telah berkembang menjadi B50.

"Jadi perjalanan cukup panjang, 16-17 tahun, dan setelah itu kita tentunya punya program yang lain lagi. Kalau sebelumnya di sisi BBM diesel, tentunya hari ini kita akan mulai masuk ke BBM gasoline atau bensin," jelasnya.

Pertamina Patra Niaga juga mulai mendorong penggunaan bioetanol sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM berbasis fosil.

Harsono mengatakan sejak 2023 Pertamina mulai mencampurkan etanol sebesar 5 persen ke dalam BBM. Produk Pertamax Green 95 dengan campuran tersebut saat ini telah didistribusikan di lebih dari 180 SPBU.

"Memang saat itu dan sampai dengan hari ini sifatnya adalah voluntary dimana BBM untuk pertama green 95 sudah didistribusikan ke lebih dari 180 SPBU dengan 5 persen etano di dalamnya," katanya.

Ia mengatakan pengembangan bioetanol ke depan akan diarahkan tidak hanya pada perluasan distribusi, tetapi juga peningkatan kadar campuran dan pengembangan varian produk baru.

Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Pertamina menargetkan adanya tambahan sejumlah fasilitas produksi etanol. Salah satunya pabrik etanol di Banyuwangi dengan kapasitas 30 ribu KL yang diharapkan dapat beroperasi dalam dua tahun mendatang.

"Dengan sebaran BBM yang tentunya nanti akan menggunakan etano di dalamnya baik itu dengan komposisi yang lebih tinggi ataupun dengan sebaran yang lebih luas ataupun dengan varian produk yang nantinya tidak hanya di RON 95 tetapi sudah mulai masuk ke RON 92 sebagainya," tutur Harsono.

Namun, ia menilai percepatan pengembangan bioetanol masih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama terkait regulasi, harga, infrastruktur, dan ketersediaan bahan baku.

"Ini tentunya akan membutuhkan support dan juga kerjasama dari kita semua tidak hanya dalam hal regulasi mandatori dari penyerapan etano akan tetapi juga nanti dari sisi pricing policy kemudian dari sisi infrastruktur kemudian juga tentunya dari feedstock yang saat ini masih sangat terbatas," pungkasnya.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Ekonomi #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia