Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Ekonomi

Trump Ancam Setop Perdagangan jika The Fed Tak Pangkas Suku Bunga

NadiKabar Biro
Trump Ancam Setop Perdagangan jika The Fed Tak Pangkas Suku Bunga
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Trump Ancam Setop Perdagangan jika The Fed Tak Pangkas Suku Bunga.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam bakal menghentikan perdagangan dengan negara-negara mitra utama AS jika Federal Reserve (The Fed) tidak menurunkan suku bunga.

Dalam pernyataan di Truth Social pada Jumat (4/9), Trump menegaskan ia memiliki wewenang untuk melakukannya, sebagaimana diakui oleh Mahkamah Agung (MA).

"TURUNKAN SUKU BUNGA ATAU SAYA AKAN BERHENTI BERDAGANG DENGAN NEGARA-NEGARA YANG MENYEBABKAN KITA DEFISIT, yang telah diakui secara tegas oleh Mahkamah Agung AS dalam keputusannya yang konyol dan sangat merugikan soal Tarif, bahwa 'Presiden' memiliki hak mutlak untuk melakukannya," kata Trump.

Defisit perdagangan terjadi ketika suatu negara lebih banyak mengimpor daripada mengekspor.

AS mengalami defisit perdagangan terbesar dengan China tahun lalu, serta dengan Meksiko dan Vietnam, senilai lebih dari US$200 miliar (sekitar Rp3.526 triliun).

Berdasarkan data perdagangan federal, secara keseluruhan, AS mencatat defisit perdagangan sebesar US$1,2 triliun (sekitar Rp21 kuadriliun) dengan semua mitra dagang.

Ancaman Trump disampaikan tak lama setelah laporan pasar tenaga kerja AS pada Agustus 2026 menunjukkan tingginya jumlah pekerja baru.

Berdasarkan laporan tersebut, ada 162 ribu pekerja baru di AS. Jumlah ini dua kali lipat dari perkiraan para ekonom.

Laporan ini membuka peluang bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga guna melawan kekhawatiran inflasi. Para pejabat akan bertemu akhir bulan ini untuk memutuskan berapa suku bunga yang tepat.

Menurut data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI), tingkat inflasi tahunan di AS telah melonjak satu persen menjadi 3,4 persen pada Juli.

Lonjakan inflasi terutama disebabkan oleh melambungnya harga gas buntut konflik di Selat Hormuz.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Ekonomi #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia