Jakarta, CNBC Indonesia- Pelaku pasar keuangan global terus mencermati volatilitas pasar global di tengah ketegangan Timur Tengah serta perang Rusia Vs Ukraina hingga tekanan inflasi dan arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS, The Fed.
Di pasar keuangan Indonesia, masih ramainya sentiment dari dalam dan luar negeri ini membuat tekanan di pasar saham, SBN hingga nilai tukar Rupiah masih terus berlanjut. Sentimen ini juga menjadi pertimbangan bagai Bank Indonesia dalam menetapkan kebijakan BI rate hingga akhir tahun 2026.
Bagi Director Eastsprings Investments Indonesia, Liew Kong Qian menilai Bank Indonesia cukup berhati-hati dan konservatif dalam merespons isu global dalam menetapkan arah kebijakan BI Rate.
Diperkirakan The Fed masih memiliki peluang untuk menaikkan level Fed Funds Rate (FFR) sebanyak 1 kali hingga akhir tahun 2026 sementara kebijakan suku bunga BI sudah "a head of the curve" dan masih akan mempertimbangkan Rupiah namun tekanan untuk BI Rate Kembali naik cukup terbatas.
Seperti apa pelaku pasar melihat daya tahan dan arah pasar keuangan RI di tengah tekanan sentiment dari dalam dan luar negeri? Selengkapnya simak dialog Shania Alatas dengan Director Eastsprings Investments Indonesia, Liew Kong Qian dalam Power Lunch, CNBC (Rabu, 02/09/2026)
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.