Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Internasional

Alasan AS Bombardir Pulau Larak Iran dalam Serangan Lanjutan

NadiKabar Biro
Alasan AS Bombardir Pulau Larak Iran dalam Serangan Lanjutan
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Alasan AS Bombardir Pulau Larak Iran dalam Serangan Lanjutan.

JAKARTA — Amerika Serikat kembali menyerang Iran pada Minggu (30/8) setelah konflik sempat mereda selama sebulan terakhir.

Pasukan AS membombardir Pulau Larak, salah satu pulau kecil di Selat Hormuz yang diyakini menyimpan peluncur roket Teheran.

"Hari ini, pasukan AS menyerang dua peluncur milik Iran di Pulau Larak," ujar juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), seperti dikutip AFP.

Menurut AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) "bersiap untuk meluncurkan rudal yang membawa ranjau laut ke Selat Hormuz".

IRGC telah merespons serangan ini dengan mengebom dua pangkalan militer AS di Yordania, yakni King Hussein dan AlAzraq.

"(Serangan ini) menghancurkan infrastruktur teknis dan perbaikan, serta lokasi penempatan fighter," demikian keterangan IRGC, seperti dikutip Al Jazeera.

"Agresi dan kejahatan tidak akan menyelesaikan keputusasaan musuh dalam upaya melemahkan kendali Iran atas Selat Hormuz. Setiap serangan juga akan menerima balasan yang lebih menghancurkan," lanjut IRGC.

Menurut mantan direktur urusan Semenanjung Arab di Kementerian Pertahanan AS, David Des Roches, serangan AS di Pulau Larak kemungkinan besar menargetkan Fajr-5, sistem peluncur roket ganda jarak jauh yang dipercaya memiliki jangkauan 75 kilometer.

"Rudal itu mampu menjangkau jalur pelayaran di sana (Selat Hormuz)," kata Roches kepada Al Jazeera.

"Beberapa kapal melintasi perairan Oman untuk menghindari serangan Iran terhadap kapal sipil netral. Rudal-rudal ini berpotensi menebar ranjau di perairan tersebut," ucapnya.

Menurut Roches, jika serangan Iran diluncurkan, situasi di jalur selatan bakal kacau. Ia sendiri mengamini bahwa Iran punya kemampuan yang cukup signifikan untuk melakukan hal tersebut.

Saling serang ini terjadi setelah konflik AS dan Iran memasuki bulan keenam, dan pada saat ketegangan sebenarnya mulai mereda.

Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintahan Trump lebih mengutamakan perang ekonomi dibandingkan serangan militer terhadap Iran.

Iran telah memblokir Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelumnya dilalui oleh seperlima pasokan minyak dunia, sejak AS dan Israel memulai perang pada 28 Februari.

Upaya diplomatik yang dipelopori oleh para mediator, termasuk Pakistan dan Qatar, telah dilakukan selama berbulan-bulan untuk mengakhiri perang namun tidak membuahkan hasil.

Meskipun gencatan senjata telah disepakati pada April dan nota kesepahaman menuju perjanjian damai final telah ditandatangani pada Juni, belum ada kesepakatan yang tercapai.

Kedua negara tetap saling berselisih terutama mengenai keamanan dan kendali di Selat Hormuz.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Internasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia