Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Internasional

Aliansi Al Qaeda dan Houthi Disebut Jadi Ancaman Baru bagi AS

NadiKabar Biro
Aliansi Al Qaeda dan Houthi Disebut Jadi Ancaman Baru bagi AS
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Aliansi Al Qaeda dan Houthi Disebut Jadi Ancaman Baru bagi AS.

Amerika Serikat menghadapi ancaman baru setelah kelompok Al-Shabaab, sayap Al-Qaeda di Somalia dan Houthi di Yaman, membangun kerja sama.

Kedua kelompok yang sebelumnya memiliki perbedaan sektarian itu kini bekerja sama untuk mendapatkan senjata, pelatihan, uang, serta akses strategis di kawasan Laut Merah dan Teluk Aden. Kerja sama tersebut menjadi perhatian AS karena dapat meningkatkan kemampuan militer kedua kelompok.

Al-Shabaab memiliki sumber dana yang besar, tetapi kelompok tersebut membutuhkan senjata dan pelatihan. Sementara itu, Houthi memiliki persenjataan canggih dan kemampuan teknologi, tetapi kelompok tersebut membutuhkan uang serta basis baru untuk memperluas serangan terhadap kepentingan Barat.

Hubungan tersebut melibatkan Jibril "Si Tangan Satu" Yahya Ali, warga Somalia yang tinggal dan beroperasi di Yaman.

Menurut pejabat AS, Jibril menjadi penghubung antara Al-Shabaab dan Houthi sejak 2023. Ia membantu kedua kelompok memfasilitasi pertukaran senjata.

Namun, musuh bersama kini menyatukan Al-Shabaab dan Houthi.

"Mereka membenci Barat, mereka membenci Israel," kata mantan kepala intelijen Somalia, Abdulaahi Mohamed Ali.

Dinas Kontra-Terorisme Yaman menggambarkan Jibril sebagai salah satu tokoh penting dalam memperkuat hubungan kedua kelompok.

Penilaian internal yang ditinjau The Wall Street Journal menyebut, "Hubungan antara Houthi dan Al-Shabaab terjalin melalui pertukaran keahlian dan koordinasi, khususnya dalam memfasilitasi transfer senjata dan peralatan militer."

Peran Jibril membuatnya menjadi target AS.

Pada 12 Februari, empat bulan setelah menikah dengan Budoor Murshid, Jibril dan istrinya berkendara menikmati matahari terbenam.

Saat itu, telepon Budoor berdering. Pasangan tersebut memarkir mobil Toyota Corolla mereka. Budoor keluar dari mobil untuk menerima panggilan telepon.

Kemudian, sebuah rudal AS menghantam atap mobil tersebut. Rudal itu tidak meledak, tetapi menghancurkan bagian kendaraan.

Jibril tewas seketika dalam serangan tersebut. Sedangkan, seorang teman membawa Budoor menjauh dari lokasi.

Dua sumber AS yang mengetahui operasi tersebut mengonfirmasi bahwa serangan udara AS menewaskan Jibril.

Namun, Komando Pusat AS yang bertanggung jawab atas pasukan AS di Timur Tengah mengatakan serangan tersebut bukan operasi militer.

Seorang juru bicara Badan Intelijen Pusat AS (CIA) juga menolak mengatakan apakah mereka berada di balik pembunuhan tersebut.

Al-Shabaab membutuhkan senjata dan kemampuan militer yang lebih canggih.

Pada 2024, kelompok tersebut mengirim utusan senior bernama Sheikh Ahmed Elmi Samatar untuk bekerja bersama Jibril.

Samatar kemudian memberikan daftar kebutuhan senjata kepada Houthi. Daftar tersebut mencakup rudal anti pesawat yang ditembakkan dari bahu, roket Katyusha 107 millimeter, senapan sniper Dragunov, drone serang peledak, rudal anti-tank, dan peralatan penglihatan malam buatan AS.

Seorang pejabat intelijen militer AS mengonfirmasi bahwa al-Shabaab menginginkan persenjataan canggih dari Houthi.

Pemerintah Yaman menangkap Samatar pada Januari 2025. Pemerintah Yaman kemudian membebaskannya melalui pertukaran tahanan dengan Houthi. Setelah itu, Samatar kembali ke Somalia dan meninggalkan Jibril untuk mengurus kepentingan al-Shabaab di Yaman.

Jibril kemudian terus menjadi perantara pengiriman senjata. Al-Shabaab juga mengirim dua ahli senjata ke Yaman untuk membantu Jibril.

Setelah Jibril terbunuh, Al-Shabaab memilih pengganti di Yaman untuk melanjutkan pekerjaan tersebut.

Menurut laporan intelijen Yaman, pengiriman senjata dilakukan melalui perusahaan-perusahaan samaran di Yaman. Perusahaan tersebut menyamarkan senjata sebagai produk sipil sebelum mengirimkannya ke Mukalla dan pelabuhan lain.

Pejabat intelijen militer AS mengatakan senjata tersebut kemudian menyeberangi Teluk Aden menggunakan perahu cepat atau kapal nelayan. Para pengirim lalu memindahkan senjata ke daratan melalui wilayah pantai Somalia utara yang memiliki pengawasan lebih lemah.

Senjata tersebut selanjutnya dibawa ke unit-unit tempur Al-Shabaab di Somalia selatan, tempat kegiatan pemberontak

Pada April 2025, AS menghancurkan dua kapal tanpa bendera yang memasuki perairan Somalia dari Yaman. Komando Afrika AS mengatakan kedua kapal tersebut membawa senjata konvensional canggih.

Belum diketahui secara pasti jenis senjata dalam daftar permintaan Al-Shabaab yang sudah sampai ke tangan kelompok tersebut.

Namun, kemungkinan Al-Shabaab mendapatkan drone serang dan senjata lain yang dapat digunakan untuk menyerang pangkalan AS dan Somalia dari udara telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan militer kedua negara.

"Saya tidak tahu apa rencana mereka, tetapi jelas ada sesuatu yang sedang direncanakan," kata mantan komandan pasukan khusus Somalia, Brigjen Ahmed Abdullahi Sheikh.

Houthi dan Al-Shabaab memiliki latar belakang sektarian yang berbeda. Houthi mayoritas beragama Islam Syiah, sedangkan al-Shabaab menganut Islam Sunni.

Perbedaan tersebut sebelumnya membuat kedua kelompok berada dalam posisi berseberangan. Namun, kebencian terhadap AS dan Israel kini menjadi salah satu faktor yang menyatukan mereka.

Komandan pasukan AS Jenderal Dagvin Anderson mengatakan kerja sama tersebut memberikan keuntungan bagi kedua kelompok.

"Al-Shabaab, afiliasi Al-Qaeda terbesar dan paling menguntungkan, mendapatkan akses ke senjata dan pelatihan yang lebih canggih," kata Anderson kepada The Wall Street Journal.

"Di sisi lain, Houthi memperluas jangkauan geografis mereka, mendapatkan pijakan yang dapat semakin menggoyahkan salah satu titik kritis ekonomi dunia," katanya.

"Ini bukan hanya masalah regional. Ini memiliki implikasi global," tambahnya.

Bagi Houthi, kerja sama dengan al-Shabaab tidak hanya bertujuan mendapatkan uang. Kelompok tersebut juga mengincar posisi strategis di Somalia selatan.

Wilayah tersebut berada di sekitar Teluk Aden, salah satu jalur penting bagi perdagangan internasional. Posisi tersebut dapat membantu Houthi mengawasi lalu lintas kapal yang melewati kawasan tersebut.

Penasihat keamanan nasional Somalia, Awes Yusuf Ahmed, mengatakan hubungan kedua kelompok pada awalnya lebih bersifat transaksional.

"Secara tradisional, hubungan antara Houthi dan al-Shabaab murni bersifat transaksional," kata Ahmed.

"Itu tidak berarti tidak ada faktor baru yang ditambahkan setelah perang Iran-AS yang dapat memiliki kepentingan strategis," tambahnya.

Salah satu keinginan Houthi adalah mendapatkan bantuan Al-Shabaab untuk memasang radar. Radar tersebut dapat digunakan untuk memantau kapal yang melintas di perairan yang mereka bagi.

Situasi di kawasan tersebut semakin rumit setelah Israel mengakui kemerdekaan Somaliland pada Desember. Somaliland merupakan wilayah di barat laut Somalia yang menyatakan diri sebagai negara terpisah pada 1991.

Somaliland memiliki Pelabuhan Berbera di kawasan Laut Merah. Pelabuhan tersebut memiliki landasan pacu yang sangat panjang sehingga NASA pernah menyewanya sebagai lokasi pendaratan darurat pesawat ulang-alik.

Posisi Berbera dinilai dapat memberikan Israel lokasi strategis untuk memantau dan menghadapi Houthi.

Mantan perwira intelijen senior Israel, Michael Milshtein, mengatakan Houthi menjadi salah satu perhatian utama Israel ketika negara tersebut mengakui Somaliland.

"Pengerahan militer di Somaliland memberi Anda posisi yang sangat kuat untuk menghadapi Houthi," kata Milshtein.

Pemerintah Israel tidak memberikan tanggapan mengenai hal tersebut.

Sementara itu, pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, mengatakan kelompoknya terus memantau aktivitas Israel di Somaliland.

Al-Houthi menilai aktivitas Israel tersebut bertujuan mengendalikan Teluk Aden, Selat Bab al-Mandeb, dan Laut Merah.

"Kami akan bergerak kapan saja untuk menargetkan aktivitas atau keberadaan musuh Israel di Somaliland," kata al-Houthi.

Pada Juni, empat anggota delegasi Houthi dilaporkan berlayar dari Yaman menuju Somalia selatan. Mereka kemudian berjalan melewati semak belukar untuk bertemu dengan perwakilan al-Shabaab di Jilb, ibu kota de facto wilayah yang dikuasai kelompok tersebut.

Pejuang Al-Shabaab juga secara rutin melakukan perjalanan ke Yaman untuk mengikuti pelatihan dari Houthi.

Pelatihan tersebut mencakup pembuatan bom pinggir jalan, penggunaan persenjataan canggih, kemampuan menembak, operasi anti pesawat, dan pembuatan bom jebakan.

Seorang pejabat intelijen militer AS mengatakan sebanyak 100 pejuang al-Shabaab telah melakukan perjalanan ke Yaman untuk mengikuti pelatihan.

PBB juga melaporkan bahwa sekitar 30 militan al-Shabaab dikirim untuk mempelajari keahlian menembak, operasi anti pesawat, dan teknik membuat bom jebakan yang lebih mematikan.

Pada Juni, sekelompok pejuang al-Shabaab bahkan menghabiskan tiga bulan di Sa'dah, Yaman. Mereka mempelajari cara merakit drone dan menggunakan sistem yang memungkinkan operator melihat gambar dari kamera drone seperti berada di dalam kokpit.

Pelatih Houthi juga melakukan perjalanan ke Somalia untuk melatih anggota al-Shabaab dalam operasi drone.

Lebih lanjut, Al-Shabaab memiliki kemampuan finansial untuk membeli senjata dan jasa dari Houthi.

Menurut penilaian intelijen AS, al-Shabaab menghasilkan sebanyak US$100 juta dengan mengeruk bisnis dan masyarakat di pos pemeriksaan pinggir jalan serta pelabuhan Mogadishu.

Al-Shabaab juga mengeksploitasi tambang emas tradisional di Pegunungan Cal Madow bagian utara, menurut Abdullahi.

AS sendiri terus melakukan serangan terhadap al-Shabaab.

Menurut Komando Afrika AS, militer Amerika telah melakukan sekitar 40 serangan udara terhadap target al-Shabaab di Somalia sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut hampir sama dengan 41 serangan yang dilakukan sepanjang 2025.

Amerika Serikat menghadapi ancaman baru setelah kelompok Al-Shabaab, sayap Al-Qaeda di Somalia dan Houthi di Yaman, membangun kerja sama.

Kedua kelompok yang sebelumnya memiliki perbedaan sektarian itu kini bekerja sama untuk mendapatkan senjata, pelatihan, uang, serta akses strategis di kawasan Laut Merah dan Teluk Aden. Kerja sama tersebut menjadi perhatian AS karena dapat meningkatkan kemampuan militer kedua kelompok.

Al-Shabaab memiliki sumber dana yang besar, tetapi kelompok tersebut membutuhkan senjata dan pelatihan. Sementara itu, Houthi memiliki persenjataan canggih dan kemampuan teknologi, tetapi kelompok tersebut membutuhkan uang serta basis baru untuk memperluas serangan terhadap kepentingan Barat.

Hubungan tersebut melibatkan Jibril "Si Tangan Satu" Yahya Ali, warga Somalia yang tinggal dan beroperasi di Yaman.

Menurut pejabat AS, Jibril menjadi penghubung antara Al-Shabaab dan Houthi sejak 2023. Ia membantu kedua kelompok memfasilitasi pertukaran senjata.

Namun, musuh bersama kini menyatukan Al-Shabaab dan Houthi.

"Mereka membenci Barat, mereka membenci Israel," kata mantan kepala intelijen Somalia, Abdulaahi Mohamed Ali.

Dinas Kontra-Terorisme Yaman menggambarkan Jibril sebagai salah satu tokoh penting dalam memperkuat hubungan kedua kelompok.

Penilaian internal yang ditinjau The Wall Street Journal menyebut, "Hubungan antara Houthi dan Al-Shabaab terjalin melalui pertukaran keahlian dan koordinasi, khususnya dalam memfasilitasi transfer senjata dan peralatan militer."

Peran Jibril membuatnya menjadi target AS.

Pada 12 Februari, empat bulan setelah menikah dengan Budoor Murshid, Jibril dan istrinya berkendara menikmati matahari terbenam.

Saat itu, telepon Budoor berdering. Pasangan tersebut memarkir mobil Toyota Corolla mereka. Budoor keluar dari mobil untuk menerima panggilan telepon.

Kemudian, sebuah rudal AS menghantam atap mobil tersebut. Rudal itu tidak meledak, tetapi menghancurkan bagian kendaraan.

Jibril tewas seketika dalam serangan tersebut. Sedangkan, seorang teman membawa Budoor menjauh dari lokasi.

Dua sumber AS yang mengetahui operasi tersebut mengonfirmasi bahwa serangan udara AS menewaskan Jibril.

Namun, Komando Pusat AS yang bertanggung jawab atas pasukan AS di Timur Tengah mengatakan serangan tersebut bukan operasi militer.

Seorang juru bicara Badan Intelijen Pusat AS (CIA) juga menolak mengatakan apakah mereka berada di balik pembunuhan tersebut.

Al-Shabaab membutuhkan senjata dan kemampuan militer yang lebih canggih.

Pada 2024, kelompok tersebut mengirim utusan senior bernama Sheikh Ahmed Elmi Samatar untuk bekerja bersama Jibril.

Samatar kemudian memberikan daftar kebutuhan senjata kepada Houthi. Daftar tersebut mencakup rudal anti pesawat yang ditembakkan dari bahu, roket Katyusha 107 millimeter, senapan sniper Dragunov, drone serang peledak, rudal anti-tank, dan peralatan penglihatan malam buatan AS.

Seorang pejabat intelijen militer AS mengonfirmasi bahwa al-Shabaab menginginkan persenjataan canggih dari Houthi.

Pemerintah Yaman menangkap Samatar pada Januari 2025. Pemerintah Yaman kemudian membebaskannya melalui pertukaran tahanan dengan Houthi. Setelah itu, Samatar kembali ke Somalia dan meninggalkan Jibril untuk mengurus kepentingan al-Shabaab di Yaman.

Jibril kemudian terus menjadi perantara pengiriman senjata. Al-Shabaab juga mengirim dua ahli senjata ke Yaman untuk membantu Jibril.

Setelah Jibril terbunuh, Al-Shabaab memilih pengganti di Yaman untuk melanjutkan pekerjaan tersebut.

Menurut laporan intelijen Yaman, pengiriman senjata dilakukan melalui perusahaan-perusahaan samaran di Yaman. Perusahaan tersebut menyamarkan senjata sebagai produk sipil sebelum mengirimkannya ke Mukalla dan pelabuhan lain.

Pejabat intelijen militer AS mengatakan senjata tersebut kemudian menyeberangi Teluk Aden menggunakan perahu cepat atau kapal nelayan. Para pengirim lalu memindahkan senjata ke daratan melalui wilayah pantai Somalia utara yang memiliki pengawasan lebih lemah.

Senjata tersebut selanjutnya dibawa ke unit-unit tempur Al-Shabaab di Somalia selatan, tempat kegiatan pemberontak

Pada April 2025, AS menghancurkan dua kapal tanpa bendera yang memasuki perairan Somalia dari Yaman. Komando Afrika AS mengatakan kedua kapal tersebut membawa senjata konvensional canggih.

Belum diketahui secara pasti jenis senjata dalam daftar permintaan Al-Shabaab yang sudah sampai ke tangan kelompok tersebut.

Namun, kemungkinan Al-Shabaab mendapatkan drone serang dan senjata lain yang dapat digunakan untuk menyerang pangkalan AS dan Somalia dari udara telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan militer kedua negara.

"Saya tidak tahu apa rencana mereka, tetapi jelas ada sesuatu yang sedang direncanakan," kata mantan komandan pasukan khusus Somalia, Brigjen Ahmed Abdullahi Sheikh.

Ilustrasi Houthi Yaman. Foto: REUTERS/Khaled Abdullah

Houthi dan Al-Shabaab memiliki latar belakang sektarian yang berbeda. Houthi mayoritas beragama Islam Syiah, sedangkan al-Shabaab menganut Islam Sunni.

Perbedaan tersebut sebelumnya membuat kedua kelompok berada dalam posisi berseberangan. Namun, kebencian terhadap AS dan Israel kini menjadi salah satu faktor yang menyatukan mereka.

Komandan pasukan AS Jenderal Dagvin Anderson mengatakan kerja sama tersebut memberikan keuntungan bagi kedua kelompok.

"Al-Shabaab, afiliasi Al-Qaeda terbesar dan paling menguntungkan, mendapatkan akses ke senjata dan pelatihan yang lebih canggih," kata Anderson kepada The Wall Street Journal.

"Di sisi lain, Houthi memperluas jangkauan geografis mereka, mendapatkan pijakan yang dapat semakin menggoyahkan salah satu titik kritis ekonomi dunia," katanya.

"Ini bukan hanya masalah regional. Ini memiliki implikasi global," tambahnya.

Bagi Houthi, kerja sama dengan al-Shabaab tidak hanya bertujuan mendapatkan uang. Kelompok tersebut juga mengincar posisi strategis di Somalia selatan.

Wilayah tersebut berada di sekitar Teluk Aden, salah satu jalur penting bagi perdagangan internasional. Posisi tersebut dapat membantu Houthi mengawasi lalu lintas kapal yang melewati kawasan tersebut.

Penasihat keamanan nasional Somalia, Awes Yusuf Ahmed, mengatakan hubungan kedua kelompok pada awalnya lebih bersifat transaksional.

"Secara tradisional, hubungan antara Houthi dan al-Shabaab murni bersifat transaksional," kata Ahmed.

"Itu tidak berarti tidak ada faktor baru yang ditambahkan setelah perang Iran-AS yang dapat memiliki kepentingan strategis," tambahnya.

Salah satu keinginan Houthi adalah mendapatkan bantuan Al-Shabaab untuk memasang radar. Radar tersebut dapat digunakan untuk memantau kapal yang melintas di perairan yang mereka bagi.

Situasi di kawasan tersebut semakin rumit setelah Israel mengakui kemerdekaan Somaliland pada Desember. Somaliland merupakan wilayah di barat laut Somalia yang menyatakan diri sebagai negara terpisah pada 1991.

Somaliland memiliki Pelabuhan Berbera di kawasan Laut Merah. Pelabuhan tersebut memiliki landasan pacu yang sangat panjang sehingga NASA pernah menyewanya sebagai lokasi pendaratan darurat pesawat ulang-alik.

Posisi Berbera dinilai dapat memberikan Israel lokasi strategis untuk memantau dan menghadapi Houthi.

Mantan perwira intelijen senior Israel, Michael Milshtein, mengatakan Houthi menjadi salah satu perhatian utama Israel ketika negara tersebut mengakui Somaliland.

"Pengerahan militer di Somaliland memberi Anda posisi yang sangat kuat untuk menghadapi Houthi," kata Milshtein.

Pemerintah Israel tidak memberikan tanggapan mengenai hal tersebut.

Sementara itu, pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, mengatakan kelompoknya terus memantau aktivitas Israel di Somaliland.

Al-Houthi menilai aktivitas Israel tersebut bertujuan mengendalikan Teluk Aden, Selat Bab al-Mandeb, dan Laut Merah.

"Kami akan bergerak kapan saja untuk menargetkan aktivitas atau keberadaan musuh Israel di Somaliland," kata al-Houthi.

Pada Juni, empat anggota delegasi Houthi dilaporkan berlayar dari Yaman menuju Somalia selatan. Mereka kemudian berjalan melewati semak belukar untuk bertemu dengan perwakilan al-Shabaab di Jilb, ibu kota de facto wilayah yang dikuasai kelompok tersebut.

Pejuang Al-Shabaab juga secara rutin melakukan perjalanan ke Yaman untuk mengikuti pelatihan dari Houthi.

Pelatihan tersebut mencakup pembuatan bom pinggir jalan, penggunaan persenjataan canggih, kemampuan menembak, operasi anti pesawat, dan pembuatan bom jebakan.

Seorang pejabat intelijen militer AS mengatakan sebanyak 100 pejuang al-Shabaab telah melakukan perjalanan ke Yaman untuk mengikuti pelatihan.

PBB juga melaporkan bahwa sekitar 30 militan al-Shabaab dikirim untuk mempelajari keahlian menembak, operasi anti pesawat, dan teknik membuat bom jebakan yang lebih mematikan.

Pada Juni, sekelompok pejuang al-Shabaab bahkan menghabiskan tiga bulan di Sa'dah, Yaman. Mereka mempelajari cara merakit drone dan menggunakan sistem yang memungkinkan operator melihat gambar dari kamera drone seperti berada di dalam kokpit.

Pelatih Houthi juga melakukan perjalanan ke Somalia untuk melatih anggota al-Shabaab dalam operasi drone.

Lebih lanjut, Al-Shabaab memiliki kemampuan finansial untuk membeli senjata dan jasa dari Houthi.

Menurut penilaian intelijen AS, al-Shabaab menghasilkan sebanyak US$100 juta dengan mengeruk bisnis dan masyarakat di pos pemeriksaan pinggir jalan serta pelabuhan Mogadishu.

Al-Shabaab juga mengeksploitasi tambang emas tradisional di Pegunungan Cal Madow bagian utara, menurut Abdullahi.

AS sendiri terus melakukan serangan terhadap al-Shabaab.

Menurut Komando Afrika AS, militer Amerika telah melakukan sekitar 40 serangan udara terhadap target al-Shabaab di Somalia sepanjang tahun ini. Jumlah tersebut hampir sama dengan 41 serangan yang dilakukan sepanjang 2025.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Internasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia