Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Internasional

China Bangun Kembali Jalan Rusak dalam Hitungan Hari Usai Banjir Parah

NadiKabar Biro
China Bangun Kembali Jalan Rusak dalam Hitungan Hari Usai Banjir Parah
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait China Bangun Kembali Jalan Rusak dalam Hitungan Hari Usai Banjir Parah.

JAKARTA — China membangun kembali jalan yang rusak hanya dalam hitungan hari akibat banjir bandang di wilayah Gyirong, Shigatse, Daerah Otonom Xizang.

Pada pukul 16.00, Senin (31/8), tim penyelamat telah membersihkan jalan hingga sekitar 1,1 kilometer dari Pelabuhan Gyirong di Shigatse, Daerah Otonom Xizang. Hal ini menandai upaya terakhir untuk melewati bagian tersulit dari Jalan Raya Nasional G216 yang rusak, jalan utama menuju pelabuhan.

Kementerian Manajemen Darurat China mengerahkan tim penyelamat profesional dari China Anneng Group untuk mempercepat pembukaan kembali jalan raya di Kabupaten Gyirong.

Para petugas membersihkan puing-puing, menambal bagian jalan yang rusak, dan menempatkan batu di tengah aliran air yang deras.

Bencana terjadi setelah longsor lumpur besar dari sisi Nepal menghantam kawasan Pelabuhan Gyirong pada Rabu pagi pekan lalu. Bencana tersebut menyebabkan korban jiwa dan sejumlah orang masih dilaporkan hilang.

Banjir bandang dan longsor merusak parah Jalan G216. Selain itu, aliran listrik dan telekomunikasi juga terputus. Kondisi tersebut mempersulit operasi pencarian dan penyelamatan.

Pada Senin, China Anneng mengerahkan 158 personel penyelamat dan 28 unit peralatan ke kawasan inti bencana. Peralatan tersebut antara lain ekskavator dan loader.

Namun, proses perbaikan semakin sulit ketika tim mendekati kawasan jurang di sekitar pelabuhan. Tebing curam dengan bebatuan yang tidak stabil berada di satu sisi lokasi kerja. Sementara itu, aliran air dengan arus kuat berada di sisi lainnya.

Ruang kerja yang sempit juga membuat alat berat tidak dapat beroperasi secara bersamaan. Lumpur lunak di dasar sungai juga membuat roda dan rantai ekskavator mudah tergelincir.

Batu-batu besar yang ditempatkan di dalam air juga kerap terseret arus deras.

Kondisi tersebut membatasi pergerakan mesin dan memperlambat proses pengangkutan material.

Tim penyelamat kemudian menggunakan sistem estafet dengan ekskavator untuk memindahkan batu-batu besar satu per satu. Batu tersebut ditempatkan di sepanjang tepi aliran air untuk menahan erosi.

Setelah itu, petugas mengisi dan memadatkan material di belakang susunan batu tersebut. Cara ini dilakukan secara bertahap untuk membentuk kembali dasar jalan yang rusak.

Di lokasi dengan arus paling kuat, operator bahkan mengarahkan alat berat langsung ke dalam air. Langkah tersebut dilakukan untuk memperpanjang bagian jalan secara bertahap hingga terbentuk jalur sementara.

Selain memperbaiki jalan, tim juga memperkuat sistem keselamatan untuk mencegah bencana bahaya geologi sekunder.

Petugas mengawasi kondisi tebing di sekitar lokasi selama proses pekerjaan berlangsung, dikutip dari China Daily.

Tim menggunakan perangkat pemantauan berbasis laser dan kecerdasan buatan atau AI. Teknologi tersebut digunakan untuk mendeteksi deformasi tebing, jatuhan batu, serta tanda-tanda ketidakstabilan lainnya.

Petugas juga telah menyiapkan jalur evakuasi darurat di sekitar lokasi kerja. Jika sistem pemantauan mendeteksi perubahan kondisi lereng yang abnormal, tim akan mengeluarkan peringatan dan segera mengevakuasi pekerja.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Internasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia