Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Internasional

Ilmuwan Minta 1.000 Orang Kubur Celana Dalam, Hasilnya Bikin Kaget

NadiKabar Biro
Ilmuwan Minta 1.000 Orang Kubur Celana Dalam, Hasilnya Bikin Kaget
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Ilmuwan Minta 1.000 Orang Kubur Celana Dalam, Hasilnya Bikin Kaget.

JAKARTA — Sekitar 1.000 orang di Swiss ikut dalam eksperimen ilmiah yang terdengar tidak biasa.

Mereka diminta mengubur pasang celana dalam berbahan katun di tanah selama beberapa tahun untuk melihat seberapa aktif organisme tanah menguraikan bahan tersebut.

Eksperimen tersebut dilakukan oleh peneliti dari Universitas Zurich (UZH) dan pusat penelitian pertanian Swiss, Agroscope.

Para ilmuwan menggunakan celana dalam karena bahan katun sebagian besar tersusun dari selulosa yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme di dalam tanah.

Para ilmuwan meluncurkan eksperimen bernama "Bukti dengan Celana Dalam" pada 2021, seperti dilaporkan Gulf News.

Mereka membagikan celana dalam katun organik kepada warga di berbagai wilayah Swiss.

Sebanyak lebih dari 2.000 pasang celana dalam dan 12.000 kantong teh kemudian dikubur di sekitar 1.000 lokasi. Para peserta mengikuti prosedur yang sama saat mengubur benda tersebut.

Setelah lima tahun, para sukarelawan menggali kembali celana dalam dan kantong teh tersebut. Mereka memotret kondisi pakaian dalam sebelum mengirim sampelnya kepada para peneliti untuk dianalisis.

Prinsip eksperimen itu cukup sederhana. Semakin banyak bahan katun yang hilang, semakin tinggi aktivitas organisme yang menguraikan material di dalam tanah.

Para peneliti kemudian menggunakan hasil tersebut untuk membuat apa yang mereka sebut sebagai "Indeks Celana Dalam."

Mereka membandingkannya dengan "Indeks Kantong Teh", metode yang sebelumnya telah digunakan untuk mengukur tingkat pembusukan material organik di tanah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi celana dalam berbeda-beda berdasarkan jenis lahan tempat benda tersebut dikubur.

Laporan Ars Technica menunjukkan beberapa celana dalam masih relatif utuh, sedangkan sebagian lainnya hampir seluruhnya terurai dan hanya menyisakan karet pinggang serta potongan kain.

Kebun pribadi memiliki tingkat dekomposisi paling tinggi. Tanah di kebun juga cenderung memiliki kandungan karbon organik dan nutrisi yang lebih tinggi.

Sebaliknya, halaman rumput menunjukkan aktivitas biologis paling rendah. Lahan pertanian dan padang rumput berada di antara kedua jenis lahan tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa penggunaan lahan menjadi salah satu faktor paling kuat yang berkaitan dengan tingkat dekomposisi.

Faktor tersebut bahkan lebih berpengaruh dibandingkan sejumlah karakteristik kimia dan lingkungan tanah yang diukur dalam penelitian.

Namun, celana dalam yang cepat terurai tidak otomatis menunjukkan bahwa tanah tersebut lebih sehat.

Para peneliti menjelaskan bahwa dekomposisi yang sangat cepat juga dapat menunjukkan kandungan nutrisi yang terlalu tinggi. Kondisi tersebut dapat terjadi di kebun yang menerima terlalu banyak pupuk.

Suhu dan kelembaban juga mempengaruhi aktivitas organisme tanah. Organisme tersebut umumnya menjadi kurang aktif ketika kondisi tanah sangat dingin atau terlalu kering.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa "Indeks Celana Dalam" bukanlah alat untuk menentukan kesehatan tanah secara menyeluruh.

Model statistik penelitian hanya menjelaskan 16,5 persen variasi pada Indeks Celana Dalam. Sementara itu, model yang menggunakan Indeks Kantong Teh menjelaskan 21,5 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa masih ada berbagai faktor lain yang mempengaruhi proses pembusukan yang belum tercakup dalam penelitian.

Kesehatan tanah sendiri mencakup banyak aspek. Kondisi tersebut meliputi keseimbangan nutrisi, struktur tanah, keanekaragaman hayati, kemampuan menahan air, serta kondisi kimia tanah.

Eksperimen tersebut juga menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam penelitian ilmiah.

Para ilmuwan warga mengumpulkan sampel dari berbagai wilayah di Swiss sehingga peneliti dapat memperoleh data dalam skala yang sulit dicapai hanya oleh tim ilmuwan.

Sekitar 240 sukarelawan bahkan tercantum sebagai penulis bersama dalam makalah ilmiah tersebut.

Para peneliti melihat "Indeks Celana Dalam" sebagai cara sederhana untuk membantu masyarakat memahami kehidupan organisme yang berada di dalam tanah.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Internasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia