JAKARTA — Pulau Larak menjadi salah satu titik strategis yang menjadi target perang Amerika Serikat dan Iran. Pulau kecil milik Iran ini berada di sekitar Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak utama dunia.
Pulau ini kembali menjadi sorotan setelah militer AS menyerang dua peluncur rudal Iran di pulau tersebut pada Minggu (30/8).
Menurut seorang pejabat AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengoperasikan dua peluncur yang menjadi sasaran serangan.
Pejabat tersebut juga mengatakan pasukan Iran sedang menyiapkan roket yang dapat membawa ranjau laut untuk ditempatkan di Selat Hormuz.
AS mengatakan serangan itu bertujuan mencegah ancaman terhadap kapal yang melintas di jalur tersebut.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut serangan itu sebagai tindakan terbatas untuk menghadapi ancaman yang dinilai dapat mengganggu lalu lintas maritim.
Pulau Larak berukuran kecil. Luasnya hanya sekitar 49 kilometer persegi. Namun, lokasi pulau tersebut membuatnya memiliki nilai strategis bagi Iran.
Pulau ini terletak di bagian selatan Iran, di sekitar Selat Hormuz. Pulau tersebut juga berada dekat dengan Pulau Qeshm dan Pulau Hormuz.
Menurut HNN, terdapat empat faktor yang membuat Larak penting dalam konflik AS-Iran, yaitu lokasinya yang dekat dengan Selat Hormuz, kedekatannya dengan jalur pelayaran internasional, kemampuannya mendukung pengawasan maritim, serta potensi penggunaannya untuk mendukung operasi militer terhadap pelayaran atau angkatan laut.
Posisi tersebut membuat Larak tidak hanya penting bagi Iran, tetapi juga menjadi perhatian bagi negara-negara yang berkepentingan dengan keamanan pelayaran di kawasan Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur ini menjadi salah satu rute terpenting bagi perdagangan energi dunia.
Sebelum konflik terbaru, sekitar seperlima konsumsi minyak global melewati Selat Hormuz. Jalur tersebut juga digunakan untuk mengangkut gas alam cair menuju pasar internasional.
Karena itu, gangguan di Selat Hormuz dapat memberikan dampak yang jauh melampaui kawasan Timur Tengah.
Jika kapal tidak dapat melintas dengan aman, perusahaan pelayaran dapat menunda perjalanan atau mengubah rute. Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi.
Gangguan pelayaran juga berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan energi. Kenaikan tersebut kemudian dapat menambah tekanan inflasi di berbagai negara.
Serangan AS pada 30 Agustus berkaitan dengan dugaan persiapan penggunaan ranjau laut.
Ranjau laut merupakan alat peledak yang ditempatkan di bawah permukaan air untuk merusak kapal. Senjata tersebut juga sulit dideteksi karena dapat tersembunyi di bawah air.
Menurut AS, pasukan Iran di Larak sedang menyiapkan roket yang dapat membawa ranjau laut ke Selat Hormuz.
AS sebelumnya juga melakukan operasi untuk membersihkan ranjau dari jalur pelayaran internasional di kawasan tersebut. Karena itu, Washington menilai dugaan persiapan penempatan ranjau sebagai ancaman terhadap keselamatan kapal yang melintas.
Ancaman ranjau dapat membuat operator menunda pelayaran, mengubah rute, meningkatkan pengamanan, atau menunggu sampai jalur laut dinyatakan aman.
Iran mengecam serangan AS terhadap Pulau Larak. Garda Revolusi Iran juga menyatakan akan membalas tindakan tersebut.
Iran kemudian melaporkan telah meluncurkan rudal ke posisi AS di Yordania. Namun, Yordania mengatakan sistem pertahanannya mencegat rudal-rudal tersebut.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.