Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Internasional

Konglomerat Meninggal Tanpa Anak, Tinggalkan Harta Rp867 Triliun

NadiKabar Biro
Konglomerat Meninggal Tanpa Anak, Tinggalkan Harta Rp867 Triliun
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Konglomerat Meninggal Tanpa Anak, Tinggalkan Harta Rp867 Triliun.

Jakarta, CNBC Indonesia - Wafatnya konglomerat logistik Jerman, Klaus-Michael Kühne pada 24 Agustus 2026 tidak hanya menandai berakhirnya perjalanan salah satu pengusaha paling berpengaruh di Eropa. Kepergiannya juga mengubah peta kekayaan filantropi Eropa.

Melansir Euro News, Kühne, yang meninggal dunia pada usia 89 tahun di kediamannya di Schindellegi, Swiss, meninggalkan kekayaan yang diperkirakan mencapai US$49 miliar atau sekitar Rp 867 triliun. Karena ia tidak memiliki anak, kekayaan tersebut telah lama dipersiapkan untuk dialihkan ke Kühne Foundation, yayasan yang didirikannya bersama orang tuanya pada 1976.

Kühne Foundation sendiri mengonfirmasi bahwa pendirinya meninggal dunia setelah mengalami sakit berkepanjangan. Yayasan itu menyebut Kühne bukan hanya seorang pengusaha dan filantropis, tetapi juga sosok yang membentuk perkembangan organisasi tersebut selama lima dekade.

Kekayaan yang telah disiapkan sejak puluhan tahun lalu

Berbeda dari warisan biasa yang diberikan kepada anggota keluarga, struktur kepemilikan Kühne telah disusun sedemikian rupa sehingga aset bisnisnya dapat terus berada di bawah kendali institusi yang memiliki tujuan filantropis.

Kühne Foundation menyatakan bahwa seluruh aset sang pendiri pada akhirnya akan dialihkan kepada yayasan. Dengan demikian, yang berpindah bukan sekadar uang tunai, melainkan kepemilikan atas kerajaan bisnis yang dibangun Kühne selama puluhan tahun.

Melalui Kühne Holding AG, portofolio tersebut mencakup kepemilikan besar di berbagai perusahaan, termasuk Kühne+Nagel, Hapag-Lloyd, Lufthansa, Brenntag, Flix dan Aenova, selain aset properti serta bisnis hotel. Kühne Holding sendiri mengonfirmasi bahwa portofolionya mencakup sejumlah perusahaan besar tersebut.

Dengan struktur tersebut, yayasan berpotensi menjadi salah satu organisasi filantropi dengan basis aset terbesar di Eropa.

Dari perusahaan keluarga menjadi raksasa logistik dunia

Sebagian besar kekayaan Kühne berasal dari kepemilikannya di Kühne+Nagel, perusahaan logistik yang didirikan oleh kakeknya, August Kühne, bersama Friedrich Nagel.

Kühne bergabung dengan perusahaan keluarga pada 1958. Ia kemudian menjadi pemimpin perusahaan dan memainkan peran penting dalam ekspansi internasionalnya, menjadikan Kühne+Nagel salah satu perusahaan logistik terbesar dunia, terutama dalam pengiriman barang melalui udara dan laut.

Perusahaan tersebut kini mempekerjakan sekitar 88.000 orang dan memiliki lebih dari 1.300 lokasi di sekitar 100 negara.

Namun Kühne tidak berhenti pada perusahaan keluarga.

Ia membangun portofolio investasi yang membuat namanya memiliki pengaruh besar di sektor transportasi Eropa. Salah satu investasi terpentingnya adalah Hapag-Lloyd, perusahaan pelayaran kontainer global. Ia juga menjadi pemegang saham besar Lufthansa, maskapai penerbangan nasional Jerman.

Selain itu, Kühne pernah memegang sekitar seperlima saham VTG, perusahaan penyewaan gerbong kereta terbesar di Eropa. Ia membeli saham tersebut dengan nilai sekitar €160 juta pada 2016 dan menjualnya dua tahun kemudian dengan harga sekitar €300 juta.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Internasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia