Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Internasional

Venezuela Sebut Kesepakatan Energi dengan AS Berlaku 25 Tahun

NadiKabar Biro
Venezuela Sebut Kesepakatan Energi dengan AS Berlaku 25 Tahun
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Venezuela Sebut Kesepakatan Energi dengan AS Berlaku 25 Tahun.

JAKARTA — Presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez menyatakan kesepakatan energi dengan Amerika Serikat (AS) akan berlaku 25 tahun, menargetkan kenaikan produksi minyak mentah menjadi 1,5 juta barel per hari, sekaligus mengeklaim kedaulatan negara atas sumber daya alamnya tetap terjaga.

Rodriguez menyebut kesepakatan itu "bersejarah" dalam pidato larut malam pada Sabtu, menyatakan perjanjian ini akan membantu memulihkan ekonomi, mendongkrak pendapatan pemerintah, dan membentuk masa depan negara.

Rodriguez, yang sebelumnya menjabat wakil presiden, naik menjadi presiden pada 5 Januari 2026 usai Nicolas Maduro ditangkap pasukan AS di Caracas.

"Proyek bilateral 25 tahun ini mencakup pengembangan 17 ladang minyak strategis dengan target produksi lebih dari 1,5 juta barel per hari," kata Rodriguez di stasiun penyiaran negara VTV, dikutip Reuters, Sabtu (29/8).

"Angka itu hanya berkaitan dengan kesepakatan bilateral antara Venezuela dan Amerika Serikat," imbuhnya.

Rodriguez menambahkan, target 1,5 juta bph itu baru sasaran awal. Rencana yang lebih luas juga mencakup pengembangan delapan blok migas baru (greenfield) sebagai bagian dari perluasan sektor energi negara.

Presiden AS Donald Trump pada Jumat mengumumkan rencana AS mengambil kendali sebagian atas cadangan minyak Venezuela, dengan taruhan perusahaan-perusahaan AS bisa memulihkan industri energi negara itu sekaligus menekan harga bahan bakar AS.

Trump memberi sedikit detail, hanya menyebut AS telah mengamankan kendali mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak terbukti Venezuela lewat kemitraan dengan pihak swasta.

Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, tetapi hanya memproduksi sekitar 1,25 juta barel per hari, jauh di bawah potensinya, setelah bertahun-tahun kurang investasi, salah kelola, dan sanksi.

Rodriguez menyebut kesepakatan itu berpotensi menghasilkan sekitar US$209 miliar pendapatan bagi negara, setara Rp3.711,2 triliun (kurs Rp17.757), dengan asumsi harga acuan US$65 per barel atau setara Rp1,15 juta (kurs Rp17.757). Ia mengakui harga minyak bisa berfluktuasi.

Ia menyebut sekitar US$19 dari tiap barel yang diproduksi dan dijual dalam skema itu, sekitar Rp337 ribu (kurs Rp17.757), akan mengalir langsung ke Venezuela.

Lebih awal pada Sabtu, puluhan kelompok pendukung pemerintah berkumpul di pusat kota Caracas memprotes kehadiran AS di Venezuela. Sementara pejabat Venezuela bersiap menandatangani kesepakatan pekan depan yang memberi hak eksplorasi dan produksi migas baru ke sejumlah perusahaan, termasuk perusahaan AS.

Dua sumber dekat negosiasi menyebut Jumat bahwa Chevron termasuk perusahaan yang diperkirakan merampungkan pembicaraan mengalihkan usaha patungannya di Venezuela ke kerangka kerja energi baru negara itu.

"Kami tetap memegang kepemilikan dan kedaulatan atas sumber daya alam kami," kata Rodriguez.

"Sembari memanfaatkan modal, teknologi, dan keahlian operasional untuk mendukung pemulihan industri strategis yang sangat terdampak sanksi," ujar dia lagi.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Internasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia