Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Internasional

Viral! Bulu Ketiak Warna-Warni Jadi Tren Baru di China

B
Viral! Bulu Ketiak Warna-Warni Jadi Tren Baru di China
Dokumentasi dan liputan mendalam NadiKabar.com terkait Viral! Bulu Ketiak Warna-Warni Jadi Tren Baru di China...

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah perempuan muda di China menjadikan bulu ketiak sebagai bagian dari ekspresi diri. Alih-alih mencukurnya, mereka memilih mewarnai rambut ketiak dengan warna-warna mencolok, mengubah bagian tubuh yang selama ini kerap dianggap tabu menjadi pernyataan mode sekaligus bentuk penegasan atas otonomi tubuh.

Melansir South China Morning Post, tren tersebut kembali mendapat perhatian seiring maraknya unggahan di media sosial China. Di RedNote, platform gaya hidup yang populer di kalangan anak muda, pengguna membagikan foto bulu ketiak yang diwarnai biru, kuning, pirang, hingga warna-warna cerah lainnya.

Sebagian bahkan membagikan tutorial pemutihan dan pewarnaan, disertai peringatan mengenai kemungkinan iritasi kulit serta warna yang mudah memudar.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Pada 2011, Lady Gaga pernah menarik perhatian publik setelah tampil dengan bulu ketiak berwarna hijau. Setelah itu, tren mewarnai bulu ketiak dan menghiasnya dengan glitter atau yang dikenal sebagai glitter pits turut berkembang di berbagai negara melalui media sosial.

Bagi sebagian perempuan China, tren tersebut bukan sekadar eksperimen kecantikan.

Xiaokui, seorang perempuan muda yang menggunakan nama samaran, mengatakan pengalaman masa kecil membuatnya merasa malu terhadap bulu ketiaknya. Saat masih duduk di sekolah dasar, seorang teman pernah mempertanyakan rambut yang tumbuh di ketiaknya.

Menurut laporan media China 36Kr, pengalaman tersebut membuatnya memandang bulu ketiak sebagai sesuatu yang tidak menarik, kotor, dan identik dengan bau.

Selama bertahun-tahun Xiaokui memilih mencukur bulu ketiaknya. Namun, setelah melihat seorang influencer tampil dengan bulu ketiak berwarna merah muda cerah, ia terdorong mencoba pendekatan berbeda. Ia kemudian mewarnai bulu ketiaknya menjadi pirang dan mengunggah hasilnya secara daring.

Respons positif dari teman-temannya membuatnya merasa lebih percaya diri terhadap tubuhnya.

Pengalaman serupa dialami Shanshan. Terinspirasi penampilan Lady Gaga dengan bulu ketiak hijau, ia memilih mewarnai rambut ketiaknya menjadi kuning. Setelah melakukan pewarnaan sebanyak tiga kali, ia mengaku semakin nyaman dengan penampilan alaminya.

Dari tabu menjadi pilihan pribadi

Menariknya, stigma terhadap bulu ketiak di China tidak selalu sekuat sekarang. Dalam tradisi Konfusianisme, terdapat gagasan bahwa tubuh merupakan pemberian orang tua sehingga perubahan terhadap tubuh tidak dianjurkan secara sembarangan.

Representasi perempuan dalam karya seni China masa lalu juga menunjukkan bahwa rambut ketiak bukan sesuatu yang selalu disembunyikan. Lukisan dari era Dinasti Song (960 - 1279), misalnya, menampilkan sosok perempuan dengan bagian ketiak yang terlihat.

Sejumlah pengamat budaya menilai stigma terhadap bulu ketiak di China kemungkinan dipengaruhi oleh masuknya standar kecantikan dari Barat. Pada 1980-an dan 1990-an, semakin luasnya konsumsi film, televisi, majalah mode, serta iklan produk kecantikan Barat ikut memperkenalkan gagasan bahwa feminitas ideal identik dengan kulit yang mulus dan bebas rambut.

Produk pencukur dan penghilang bulu kemudian semakin memperkuat standar tersebut.

Namun, standar itu perlahan mendapat tantangan. Gerakan body positivity mendorong masyarakat untuk menerima beragam karakteristik tubuh, termasuk rambut tubuh, bentuk tubuh, dan kondisi kulit yang tidak selalu sesuai dengan standar kecantikan konvensional.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Internasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia