Jakarta - Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) menilai pembangunan infrastruktur pendukung sepeda motor listrik tidak cukup hanya berfokus pada penambahan jumlah Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU), tetapi perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan pola mobilitas pengguna.
PR & Event Executive Aismoli Riniwaty Sinaga mengatakan kebutuhan infrastruktur setiap pengguna dapat berbeda, tergantung jenis kendaraan, pola perjalanan, lokasi, hingga tingkat pemanfaatan infrastrukturnya.
“Kecukupan juga tidak bisa hanya dibandingkan antara jumlah motor dan SPBKLU. Kebutuhan ojol (ojek online), pekerja kantoran maupun sektor pariwisata akan berbeda dari sisi lokasi dan jenis infrastrukturnya,” kata Riniwaty ketika dihubungi dari Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan, anggota Aismoli saat ini merupakan merek-merek sepeda motor listrik yang menggunakan dua pendekatan utama, yakni sistem penukaran baterai (battery swapping) dan baterai terintegrasi (integrated battery) dalam memasarkan produknya.
Untuk merek dengan sistem penukaran baterai, masing-masing telah memiliki strategi terkait jumlah dan penempatan kabinet penukaran baterai. Sementara untuk sepeda motor dengan baterai terintegrasi, sejumlah merek menyediakan fasilitas pengisian daya melalui grup usaha maupun bekerja sama dengan penyedia infrastruktur.
“Jadi, indikatornya bukan hanya berapa jumlah SPBKLU, tetapi lokasi, profil pengguna, teknologi kendaraan dan tingkat utilisasinya,” ujarnya.
Riniwaty mengatakan sebagian besar kebutuhan pengguna sepeda motor listrik saat ini masih dapat dipenuhi melalui pengisian daya di rumah atau kantor. Karena itu, pengembangan ekosistem ke depan tidak hanya bergantung pada infrastruktur publik.
Menurut dia, communal charging hub, tempat pengisian daya bersama yang bisa digunakan oleh beberapa pengguna kendaraan listrik, juga akan semakin relevan, terutama bagi pengguna yang memiliki keterbatasan kapasitas listrik di tempat tinggal maupun membutuhkan pengisian daya darurat ketika berada di perjalanan.
Dengan demikian, pembangunan infrastruktur sepeda motor listrik menuju peningkatan adopsi kendaraan listrik perlu mengombinasikan pengisian daya di rumah atau kantor, fasilitas pengisian daya bersama dan publik, serta sistem penukaran baterai sesuai kebutuhan pengguna dan karakteristik wilayah.
Hingga Maret 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat sebanyak 4.892 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) telah beroperasi di 3.163 titik. Perlu dicatat, data SPKLU ini bercampur dengan penggunaan roda empat listrik.
Sementara itu, Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) juga terus berkembang untuk mendukung ekosistem motor listrik nasional.
Sebanyak 1.907 SPBKLU telah tersebar di Indonesia hingga Maret, 1.480 unit di antaranya berada di Jawa, 238 unit di Sumatera, 120 unit di Bali, 48 unit di Sulawesi, 20 unit di Kalimantan, dan 1 unit di Nusa Tenggara.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.