Jakarta - Mantan atlet judo Indonesia Sidik Algadri menawarkan lima solusi untuk pembenahan pembangunan olahraga Indonesia di dalam bukunya yang berjudul "Membangun Otot di Negeri Kertas".
"Buku ini tidak berhenti pada kritik. Saya menawarkan lima pilar reformasi olahraga Indonesia, pertama, reposisi peran negara," kata Sidik Agadri dalam acara Bedah Buku "Membangun Otot di Negeri Kertas" di Jakarta, Sabtu.
Ia mengatakan bahwa negara harus kuat sebagai regulator dan fasilitator, namun jangan terlalu jauh masuk ke wilayah teknis pembinaan di federasi olahraga. Federasi, kata dia, harus diberikan ruang profesional yang memadai untuk mengatur cabang olahraga melalui para ahli-ahlinya seperti pelatih, asisten pelatih, dan lainnya.
Pilar kedua, kata dia, adalah reformasi anggaran. Algadri yang juga menjadi Staf Ahli Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat mengatakan bahwa pembinaan atlet tidak boleh bergantung pada anggaran tahunan yang fluktuatif.
Kemudian, pilar berikutnya adalah birokrasi berbasis data. Para atlet dan pelatih yang dipilih, kata dia, tidak boleh atas dasar kedekatan atau kepentingan faktor-faktor nonteknis.
"Yang harus menentukan adalah prestasinya, data yang valid, dan ilmu pengetahuan yang didukung oleh sport science," katanya.
Algadri menyebutkan pilar keempat adalah sistem pembinaan berjenjang dan terintegrasi. Ia menjelaskan sistem pembinaan dari daerah sampai pusat yang terintegrasi. Talenta harus ditemukan sejak dini di daerah-daerah dan dikembangkan secara berjenjang dan berkelanjutan.
Pilar kelima, kata dia, adalah kemandirian ekonomi olahraga. Menurutnya, olahraga prestasi tidak boleh selamanya hanya menunggu dukungan pendanaan dari anggaran nasional atau APBN dan anggaran daerah atau APBD.
"Kita harus membangun industri olahraga: sponsorship, hak siar, merchandising, dan ekosistem bisnis yang sehat dan berkelanjutan," katanya.
Ia mengatakan bahwa lima pilar reformasi olahraga itu bukan mimpi, melainkan pilihan. Pertanyaan selanjutnya, kata dia, apakah pemangku kepentingan olahraga memiliki keberanian untuk mengeksekusinya.
Algadri menambahkan, dari pengalamannya sebagai atlet judo hingga berkecimpung dalam birokrasi, ia menemukan salah satu masalah besar dalam pembangunan olahraga adalah peningkatan kemampuan atlet.
Pembangunan olahraga, kata dia, terlalu lama berada dalam hal-hal yang menghasilkan dokumen kebijakan, anggaran, rapat-rapat, dan sebagainya yang disebutnya sebagai "kertas", tetapi belum cukup serius membangun "otot", yaitu terkait latihan atlet, sport science yang presisi, nutrisi yang bergizi, dan pelatih yang berkualitas.
Ia mengatakan bahwa keresahan atas kondisi tersebut yang menggerakkannya untuk menulis buku tersebut, yang menurutnya, bukan untuk menyalahkan pihak-pihak tertentu dan bukan untuk sekadar kritik.
Algadri meyakini bahwa ketika ada keberanian menghadapi masalah, maka harus ada keberanian untuk menawarkan jalan keluarnya.
"Kita harus jujur bertanya. Mengapa prestasi olahraga Indonesia sering naik turun? Mengapa sistem pembinaan kita belum mampu secara konsisten melahirkan juara-juara dunia?," katanya.
Acara Bedah Buku "Membangun Otot di Negeri Kertas" menghadirkan sejumlah pembicara terkemuka seperti akademisi Rocky Gerung, wartawan senior olahraga Asro Kamal Rokan, Guru Besar UPI Prof Yunyun Yudiana.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.