Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Analis nilai ekspektasi kaya cepat jadi tantangan literasi Gen Z

NadiKabar Biro
Analis nilai ekspektasi kaya cepat jadi tantangan literasi Gen Z
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Analis nilai ekspektasi kaya cepat jadi tantangan literasi Gen Z.

Jakarta - Analis investasi menilai ekspektasi meraih kekayaan dalam waktu singkat menjadi tantangan dalam memperkuat literasi investasi dan keuangan generasi Z, sehingga edukasi perlu menekankan proses membangun kekayaan secara bertahap dan konsisten.

Head of Investment Specialist PT Syailendra Capital Syanne Gracetine Polii mengatakan generasi muda perlu memahami bahwa membangun kekayaan membutuhkan proses dan tidak semata-mata mengejar hasil dalam waktu singkat.

“Kita harus mengakui bahwa sekarang itu persaingan dalam era di mana anak muda fokusnya kaya cepat,” kata Syanne dalam Syailendra Media Talks bertajuk “Gold 360°: One Asset, Four Perspectives”, di Jakarta, Senin.

Menurut dia, pesan mengenai investasi jangka panjang saat ini berhadapan dengan beragam informasi keuangan di media sosial yang menampilkan kemungkinan memperoleh keuntungan dengan cepat.

Kondisi tersebut, kata Syanne, dapat membuat pemahaman mengenai proses membangun kekayaan secara bertahap lebih sulit diterima oleh sebagian investor muda.

Untuk menghadapinya, ia menilai generasi muda perlu membangun cara pandang yang mempertimbangkan konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang dalam setiap keputusan keuangan.

“Kalau dari pribadi saya yang juga pernah merasakan struggle nominal investasinya terbatas, selalu pakai pertimbangan Pain and Gain,” ujarnya.

Ia menjelaskan pendekatan tersebut digunakan untuk mempertimbangkan konsekuensi antara memenuhi kebutuhan atau mengikuti tren saat ini dengan mempersiapkan kondisi keuangan pada masa mendatang.

Menurut Syanne, cara berpikir tersebut dapat membantu generasi muda menentukan prioritas tanpa harus mengabaikan kebutuhan masa kini maupun persiapan keuangan jangka panjang.

“Pertanyaan antara memilih masa kini dan masa depan sebenarnya, Itu dua hal yang menurut saya memang harus diperjuangkan, harus dicicil, harus ada pengorbanan masing-masing sih,” ujar dia pula.

Selain membangun cara pandang tersebut, Syanne menilai literasi investasi perlu menanamkan pemahaman bahwa pembentukan kekayaan membutuhkan waktu dan konsistensi.

Ia mengatakan upaya literasi juga perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kanal yang dekat dengan generasi muda, seperti media sosial, konten edukasi, podcast, serta kegiatan yang menghadirkan edukator untuk berbagi pengalaman mengenai pengelolaan keuangan jangka panjang.

“Kita (harus) fokus memperkuat juga literasi melalui sosial media, melalui event-event, melalui konten, mengundang edukator melalui podcast untuk sharing pengalaman mereka building wealth dalam jangka panjang,” kata Syanne.

Menurut dia, edukasi tersebut perlu dilakukan secara konsisten agar pemahaman investasi tidak berhenti pada pengenalan produk, tetapi juga membentuk kemampuan generasi muda mengambil keputusan keuangan sesuai kebutuhan dan tujuan masing-masing.

Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks literasi keuangan kelompok usia 18-25 tahun sebesar 73,32 persen, sedangkan indeks inklusi keuangannya mencapai 95,69 persen.

Secara nasional, indeks literasi keuangan pada 2026 mencapai 69,57 persen dan indeks inklusi keuangan 93,61 persen. Capaian tersebut meningkat dibandingkan 2025 yang masing-masing sebesar 66,64 persen dan 92,74 persen.

OJK menjelaskan pengukuran literasi keuangan dalam SNLIK mencakup pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku, sedangkan indeks inklusi mengukur penggunaan produk dan layanan jasa keuangan.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi keuangan, OJK mencatat telah menyelenggarakan 3.228 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau 11,31 juta peserta sejak 1 Januari hingga 23 Juli 2026. Hingga 30 Juli 2026, kanal edukasi digital Sikapi Uangmu juga telah menerbitkan 227 konten dengan sekitar 2,15 juta penonton.

OJK bersama Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga menjalankan program Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) 2026.

Salah satu kegiatannya pada Agustus 2026 memberikan edukasi kepada 3.500 anggota Pramuka mengenai kebiasaan menabung, pengelolaan uang secara bijak, serta persiapan kebutuhan dan tujuan keuangan sejak usia muda.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia