Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Apa itu haus validasi? Kenali ciri, penyebab dan cara mengatasinya

NadiKabar Biro
Apa itu haus validasi? Kenali ciri, penyebab dan cara mengatasinya
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Apa itu haus validasi? Kenali ciri, penyebab dan cara mengatasinya.

Jakarta - Kebutuhan mendapat pengakuan dari orang lain merupakan hal yang wajar. Namun, jika penilaian dan penerimaan orang lain menjadi penentu utama rasa percaya diri, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi perilaku mencari validasi secara berlebihan.

Validasi dapat berupa pujian, perhatian, persetujuan, likes, komentar, hingga respons positif dari orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku ini semakin mudah terlihat di media sosial, ketika seseorang dapat mengetahui secara langsung bagaimana orang lain merespons unggahan atau aktivitasnya.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara penggunaan media sosial dan harga diri cukup kompleks. Tinjauan sistematis terbaru yang terbit pada 2025 menganalisis 37 penelitian pada orang dewasa dan menemukan bahwa penggunaan media sosial berkaitan dengan sejumlah faktor psikologis, termasuk harga diri, kecemasan, depresi, kesepian, dan fear of missing out (FOMO). Namun, para peneliti menekankan bahwa hubungan tersebut tidak selalu sama pada setiap orang.

Haus validasi bukan diagnosis gangguan mental tertentu. Istilah tersebut lebih tepat digunakan untuk menggambarkan kecenderungan seseorang yang sangat membutuhkan pengakuan, persetujuan atau penerimaan dari lingkungan untuk merasa dirinya berharga atau cukup baik.

Dalam kadar tertentu, mencari apresiasi merupakan bagian normal dari hubungan sosial. Masalah dapat muncul ketika penilaian dari orang lain menjadi satu-satunya sumber kepercayaan diri.

Seseorang yang terlalu bergantung pada validasi eksternal dapat merasa sangat senang ketika mendapatkan pujian, tetapi kecewa, cemas atau merasa tidak berharga ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan.

Ciri orang yang terlalu mencari validasi

Berikut beberapa tanda yang dapat diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari, merangkum dari sejumlah sumber.

1. Sulit merasa percaya diri tanpa pujian

Seseorang mungkin merasa hasil pekerjaannya tidak cukup baik sebelum mendapatkan pengakuan dari orang lain. Pujian kemudian menjadi semacam tolok ukur untuk menentukan apakah dirinya berhasil atau tidak.

2. Terlalu memikirkan pendapat orang lain

Orang yang sangat membutuhkan validasi dapat menghabiskan banyak waktu memikirkan bagaimana dirinya dinilai. Bahkan, keputusan pribadi bisa berubah hanya karena khawatir mendapat komentar negatif.

3. Sering mengecek respons di media sosial

Jumlah likes, komentar, tayangan atau respons terhadap unggahan dapat menjadi sumber kepuasan. Ketika responsnya sedikit, seseorang bisa merasa kecewa atau mempertanyakan dirinya sendiri.

Kajian mengenai pengalaman remaja di media sosial menemukan bahwa sebagian pengguna dapat terjebak dalam kebiasaan memeriksa likes dan komentar secara berulang. Perbandingan jumlah likes dengan teman juga dapat memengaruhi harga diri, terutama pada mereka yang sudah memiliki kecemasan sebelumnya.

Kritik yang sebenarnya bertujuan memperbaiki sesuatu dapat dianggap sebagai penolakan terhadap diri sendiri. Akibatnya, seseorang cenderung defensif atau terus mencari orang lain yang memberikan pendapat sesuai dengan keinginannya.

5. Sering membandingkan diri dengan orang lain

Kebiasaan membandingkan pencapaian, penampilan, pekerjaan, hubungan atau gaya hidup dengan orang lain dapat membuat seseorang merasa kurang.

Penelitian menunjukkan bahwa hubungan media sosial dengan harga diri dipengaruhi banyak faktor, termasuk cara seseorang menggunakan platform tersebut dan kecenderungannya melakukan perbandingan sosial.

6. Mengubah diri agar disukai orang lain

Tanda lainnya adalah terlalu sering menyesuaikan gaya bicara, penampilan, pilihan atau perilaku hanya demi mendapatkan penerimaan lingkungan.

Dalam sebuah tinjauan sistematis mengenai self-presentation di Facebook, presentasi diri yang tidak autentik secara konsisten dikaitkan dengan harga diri yang lebih rendah dan tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi.

Penyebab seseorang haus validasi

Kecenderungan mencari validasi dapat muncul karena berbagai faktor dan tidak bisa disebabkan oleh satu hal saja.

Salah satunya adalah harga diri yang rendah. Ketika seseorang kesulitan menilai dirinya secara positif, pengakuan dari orang lain dapat menjadi cara untuk mendapatkan rasa berharga.

Faktor lain adalah pengalaman sosial, rasa tidak aman, ketakutan terhadap penolakan, kebiasaan membandingkan diri serta lingkungan yang terlalu menekankan pencapaian dan penilaian eksternal.

Media sosial juga dapat memperkuat pola tersebut karena memberikan umpan balik yang mudah dilihat. Sebuah meta-analisis terhadap 121 sampel independen dengan total 91.462 peserta menemukan hubungan negatif yang kecil tetapi signifikan antara penggunaan situs jejaring sosial dan harga diri. Hubungan tersebut lebih kuat pada penggunaan media sosial yang bermasalah.

Meski demikian, hasil penelitian tidak boleh dimaknai bahwa penggunaan media sosial otomatis membuat seseorang memiliki harga diri rendah. Hubungan antara keduanya bersifat kompleks dan berbeda antarindividu.

Cara mengurangi kebiasaan mencari validasi

Perhatikan situasi ketika keinginan mendapatkan pengakuan muncul. Misalnya, setelah mengunggah sesuatu, mendapat kritik atau melihat pencapaian orang lain.

Dengan mengetahui pemicunya, seseorang dapat mulai membedakan kebutuhan nyata dengan dorongan untuk mendapatkan persetujuan.

2. Belajar menghargai diri sendiri

Cobalah menilai keberhasilan berdasarkan usaha, proses dan nilai pribadi, bukan hanya berdasarkan respons orang lain.

Pujian tetap dapat diterima sebagai bentuk apresiasi, tetapi jangan menjadikannya satu-satunya ukuran harga diri.

3. Batasi kebiasaan mengecek media sosial

Jika jumlah likes atau komentar membuat suasana hati berubah, kurangi frekuensi mengecek notifikasi. Penggunaan media sosial yang lebih terkontrol dapat membantu seseorang tidak terlalu bergantung pada umpan balik digital.

4. Kurangi kebiasaan membandingkan diri

Apa yang terlihat di media sosial biasanya hanya sebagian dari kehidupan seseorang. Karena itu, membandingkan kehidupan pribadi dengan unggahan orang lain dapat menghasilkan penilaian yang tidak seimbang.

5. Belajar menerima kritik

Tidak semua kritik merupakan penolakan. Pisahkan antara kritik terhadap tindakan atau hasil pekerjaan dengan penilaian terhadap nilai diri sebagai manusia.

6. Bangun hubungan yang sehat

Berada di lingkungan yang memberikan dukungan tanpa menuntut seseorang untuk selalu memenuhi ekspektasi dapat membantu membangun rasa aman dan kepercayaan diri.

7. Pertimbangkan bantuan profesional

Jika kebutuhan terhadap validasi sudah mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, aktivitas sehari-hari atau menimbulkan tekanan emosional yang berat, berkonsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat menjadi pilihan.

Pada akhirnya, mencari validasi sesekali merupakan hal yang manusiawi. Yang perlu diperhatikan adalah ketika pengakuan dari orang lain menjadi satu-satunya sumber rasa berharga. Membangun harga diri dari dalam diri, mengurangi ketergantungan pada respons eksternal dan menggunakan media sosial secara lebih sehat dapat membantu seseorang memiliki penilaian diri yang lebih stabil.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia