Jakarta - Ketombe menjadi salah satu masalah kulit kepala yang cukup sering dialami. Serpihan putih yang terlihat di rambut atau bahu terkadang membuat seseorang merasa kurang percaya diri, apalagi jika muncul saat sedang berkumpul dengan orang lain.
Karena bentuknya menyerupai serpihan kulit, tidak sedikit yang mengira ketombe bisa berpindah dari satu orang ke orang lain. Ada pula anggapan bahwa menggunakan sisir, topi, atau bantal milik orang yang berketombe dapat membuat seseorang ikut mengalami masalah yang sama.
Lantas, benarkah ketombe bisa menular?
Jawabannya adalah mitos. Ketombe pada umumnya tidak menular dan tidak dapat berpindah dari satu orang ke orang lain melalui kontak biasa.
Layanan kesehatan Inggris, NHS, menyebut ketombe sebagai kondisi kulit yang umum dan menegaskan bahwa seseorang tidak dapat "tertular" ketombe dari orang lain.
Hal serupa juga berlaku pada dermatitis seboroik, salah satu kondisi yang berkaitan dengan ketombe. American Academy of Dermatology (AAD) menyatakan bahwa dermatitis seboroik tidak menular.
Artinya, duduk berdekatan, bersalaman, atau beraktivitas bersama seseorang yang memiliki ketombe tidak otomatis membuat kamu mengalami ketombe.
Lalu, apa sebenarnya penyebab ketombe?
Ketombe berkaitan dengan kondisi kulit kepala dan proses pergantian sel kulit, bukan karena seseorang "tertular" dari orang lain.
Salah satu faktor yang berperan adalah keberadaan jenis ragi yang secara alami hidup di kulit. AAD menjelaskan bahwa ragi tersebut terdapat pada kulit banyak orang, tetapi pada sebagian orang dapat memicu reaksi yang berhubungan dengan dermatitis seboroik. Produksi minyak kulit atau sebum juga dapat berperan.
Karena mikroorganisme tersebut memang secara alami dapat ditemukan di kulit, keberadaannya tidak berarti seseorang mendapatkan ketombe dari orang lain.
Selain itu, ketombe juga bukan otomatis tanda bahwa seseorang tidak menjaga kebersihan rambut. AAD menyebut ketombe tidak disebabkan oleh kebersihan yang buruk. Kebiasaan perawatan rambut, kondisi kulit yang berminyak, serta sejumlah kondisi medis dapat berhubungan dengan munculnya ketombe.
Kenapa ketombe bisa muncul terus?
Ketombe dapat muncul kembali meskipun sebelumnya sudah membaik. Kondisi ini dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk stres dan cuaca dingin.
NHS juga menjelaskan bahwa ketombe dapat berkaitan dengan dermatitis seboroik, eksim, psoriasis, atau kondisi kulit kepala lainnya. Karena itu, serpihan di kulit kepala tidak selalu berarti ketombe biasa.
Jika kulit kepala terasa sangat gatal, merah, bengkak, atau muncul keluhan di area tubuh lainnya, sebaiknya jangan langsung menganggapnya sebagai ketombe biasa. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu memastikan penyebabnya.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.