Jakarta - Asosiasi Pelaku Usaha Kokas Nusantara (APUKN) mendorong pemerintah, pengelola kawasan industri, serta pemangku kepentingan terkait untuk meningkatkan pemantauan kondisi hidrologi selama musim kemarau guna menjaga kelancaran operasional industri kokas nasional.
Ketua APUKN Elias Ginting mengatakan kemarau mulai memberikan tantangan terutama akibat keterbatasan pasokan air di kawasan industri serta penurunan muka air sungai yang berdampak pada distribusi coking coal dari Kalimantan.
Menurut dia, dalam keterangan resmi dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, sejumlah tenant termasuk industri kokas di kawasan Morowali mulai melakukan penyesuaian operasional menyusul keterbatasan pasokan air. Dalam kondisi tertentu, pasokan air dilaporkan hanya sekitar 50 persen dari tingkat normal.
"Air merupakan salah satu utilitas penting bagi industri kokas, terutama untuk pendinginan, pengendalian emisi dan berbagai proses penunjang. Industri saat ini terus melakukan efisiensi dan optimalisasi penggunaan air agar produksi tetap berjalan," kata Elias.
APUKN mencatat tekanan akibat kemarau juga terjadi pada sisi pasokan bahan baku. Sekitar 20 persen kebutuhan coking coal industri kokas berasal dari sumber domestik, terutama sebagai bagian dari campuran atau blending bahan baku.
Sebagian pasokan tersebut berasal dari Kalimantan dan bergantung pada transportasi sungai.
Kata dia, berdasarkan pengolahan data Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III oleh APUKN, rata-rata tinggi muka air di Muara Teweh turun dari sekitar 21,02 meter pada Juli menjadi 20,39 meter pada Agustus 2026.
Pada 12 Agustus, muka air bahkan sempat tercatat sekitar 19 meter. Penurunan juga terpantau di Marabahan dan Gampa.
Elias menjelaskan penurunan muka air sungai dapat membuat tongkang tidak selalu mampu membawa muatan pada kapasitas normal.
Operator dalam kondisi tertentu harus mengurangi muatan atau menyesuaikan jadwal pelayaran demi menjaga keselamatan.
"Sekitar 20 persen bahan baku coking coal kami berasal dari dalam negeri. Ketika muka air sungai turun, kapasitas pengangkutan ikut terpengaruh. Jika kemarau panjang masih akan berlanjut maka produksi kokas akan tertekan dan akan berdampak cukup signifikan terhadap volume ekspor produk ini serta meningkatkan beban biaya logistik," ujarnya.
Meski demikian, APUKN menegaskan kegiatan produksi industri kokas secara umum masih berjalan. Pelaku industri telah melakukan sejumlah langkah mitigasi, mulai dari efisiensi penggunaan air, pengaturan muatan dan jadwal tongkang hingga menjaga tingkat persediaan bahan baku.
APUKN berharap pemerintah pengelola kawasan industri, BWS, pemasok batu bara, dan pelaku logistik dapat meningkatkan koordinasi serta pemantauan kondisi hidrologi selama musim kemarau.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kelancaran pasokan coking coal domestik bagi industri kokas maupun rantai industri hilir pengguna kokas, seperti feronikel, besi dan baja, serta stainless steel.
"Yang perlu kita jaga adalah agar tekanan akibat kemarau ini tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih besar terhadap rantai pasok dan program hilirisasi industri nasional," kata Elias.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.