Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Arkeolog teliti figuratif berusia 67.800 tahun di Karst Sulawesi

NadiKabar Biro
Arkeolog teliti figuratif berusia 67.800 tahun di Karst Sulawesi
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Arkeolog teliti figuratif berusia 67.800 tahun di Karst Sulawesi.

Makassar - Tim Arkelog meneliti sejumlah lukisan figuratif digambar manusia prasejarah diperkirakan berusia 67.800 tahun pada dinding gua kapur, tersebar di wilayah karst Sulawesi seperti di Leang Maros, Leang Pangkep Sulawesi Selatan, dan Liang Metanduno Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

"Penelitian ini membantah teori yang selama ini kita pelajari melalui buku-buku bahwa lukisan tertua bermula di Eropa, itu kemudian terbantahkan," ungkap Peneliti dan Arkeolog Universitas Hasanuddin Prof Akin Duli di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin.

Rock art atau lukisan itu ada berupa jari runcing, jenis hewan, maupun strategi berburu di masa lampau yang berbentuk bayangan berwarna merah marun dari bahan dasar oker. Gambarnya cukup detail dan masih sangat jelas terlihat menempel di dinding walau sudah berusia ribuan tahun.

Dari analisa, itu adalah cetakan tangan manusia, namun ada yang ganjil. Karena pada jemarinya tidak tumpul seperti milik manusia, tetapi pada ujung jarinya meruncing mirip cakar hewan.

Penemuan terbaru ini membantahkan narasi-narasi terdahulu. Sebab, dengan penanggalan uranium-series menunjukkan angka mencengangkan, sekitar 67.800 tahun lukisan ini bukan hanya seni tertua, melainkan sebuah "buku manual" teknologi dan organisasi sosial dari masa silam.

"Sulawesi ini masuk kawasan Wallacea dan memegang peranan penting. Bukti ini menjadi dasar kita membantah bahwa budaya melukis gua bukan berasal dari Eropa," tuturnya menekankan.

Asal-usul keindahan itu bukan klaim Eropa saja. Teori bahwa keindahan keluar dari Eropa itu yang sebenarnya tergugat. Seni itu inherent (melekat) di dalam tubuh manusia. "Rasa keindahan ada bersama sifat amarah atau tertawa. Manusia di mana saja berpotensi melahirkan itu," ujar peneliti lainnya Muhamad Nur.

Dalam lukisan tersebut, para arkeolog menemukan estetika. Ada pola garis-garis tegas dan figur manusia yang mengelilingi hewan buruan seperti babi hutan dan anoa. Para ahli menyebutnya strategi 'jari runcing' sebuah teknik pengepungan kolektif.

"Temuan di situs seperti Bulu Sipong menunjukkan aktivitas sosial sangat terorganisir. Jelas sekali adegan perburuannya. Proses kawanan babi atau anoa digiring oleh pemburu. Ini bukan hanya gambar, tapi aktivitas sosial tentang perburuan," kata Pakar Protosejarah Unhas ini menjelaskan.

Para arkeolog melihat lukisan-lukisan ini dengan kacamata baru. Mengingat itu bukan sebagai coretan estetik tanpa makna, melainkan sebagai arsip teknologi. Di panel-panel gua tersebut, figur manusia digambarkan bersanding dengan hewan buruan, dihubungkan oleh pola garis yang presisi.

"Penggambaran ini memiliki hubungan paralel yang sangat intim dengan cara manusia bertahan hidup. Modifikasi jari menyerupai cakar binatang itu sudah cukup lama dilakukan oleh manusia modern awal," kata Arkeolog dari BRIN Budianto Hakim ini mengungkapkan.Lukisan itu adalah bukti sejak 67 milenium lalu, manusia di Nusantara telah memiliki aturan main. Apa yang boleh diburu, apa yang tabu, dan bagaimana sebuah kelompok bergerak bersama. Ia melihat ada benang merah antara lukisan goa dengan tradisi masyarakat Bugis-Makassar moderen.

Hingga kini, ritual membuat cap tangan pada tiang rumah baru masih dilakukan sebagai "penolak bala" atau pagar magis yang dipercaya masyarakat Sulawesi.Interpretasi ini menempatkan manusia di Sulawesi pada 67.000 tahun lalu, sebagai makhluk yang sudah mampu berpikir abstrak secara kompleks.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia