Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

AS Buka Markas Kapal Selam Nuklir di Depan RI, Kirim 1.000 Pasukan

NadiKabar Biro
AS Buka Markas Kapal Selam Nuklir di Depan RI, Kirim 1.000 Pasukan
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait AS Buka Markas Kapal Selam Nuklir di Depan RI, Kirim 1.000 Pasukan.

Jakarta, CNBC Indonesia - Kehadiran militer Amerika Serikat (AS) di Australia dipastikan akan semakin masif. Washington dilaporkan bersiap untuk membuka dan mengoperasikan markas armada kapal selam bertenaga nuklir kelas Virginia di pangkalan HMAS Stirling, dekat Perth, pada tahun 2027 mendatang.

Mengutip ABC, Kamis (03/09/2026), rencana ekspansi di negara tetangga RI ini dibahas secara langsung dalam pertemuan antara Menteri Pertahanan Australia Richard Marles dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Washington DC.

Berdasarkan kesepakatan postur kekuatan, sekitar 1.000 personel Angkatan Laut AS dijadwalkan akan ditempatkan di HMAS Stirling mulai tahun depan guna mendukung operasi kapal selam mematikan tersebut, melengkapi rotasi tahunan Marinir AS yang sudah lebih dulu berjalan di Darwin.

Marles membeberkan bahwa pengumuman lebih rinci terkait perluasan postur kekuatan militer AS ini akan disampaikan pada pertemuan AUSMIN saat ia dan Menteri Luar Negeri Penny Wong bertemu dengan rekan sejawat mereka dari AS dalam beberapa bulan ke depan.

"Sejak kami menjadi pemerintah, Anda dapat melihat garis lurus dari pertumbuhan kekuatan Amerika di Australia, dan kami pikir itu sangat penting dalam hal memberikan pencegahan di Indo-Pasifik, serta memberikan stabilitas dan perdamaian di Indo-Pasifik. Dan itu sangat sesuai dengan kepentingan nasional Australia," tegasnya.

Selain pangkalan kapal selam, Pentagon juga menyoroti rencana percepatan inisiatif postur kekuatan di pangkalan-pangkalan wilayah utara Australia yang kerap dianggap sebagai titik lemah. Pembacaan resmi pertemuan tersebut turut menyarankan kerja sama industri militer yang lebih masif antara kedua negara, termasuk produksi rudal berpemandu.

Di sisi lain, isu sensitif terkait anggaran juga menjadi sorotan. AS terus memberikan tekanan kepada sekutunya untuk meningkatkan investasi militer secara substansial. Hegseth secara khusus menekankan perlunya sekutu yang cakap untuk berkontribusi pada pertahanan kolektif dan berinvestasi dalam keamanan berdaulat mereka sendiri. Menanggapi desakan tersebut, Marles membela diri dengan menegaskan bahwa peningkatan pengeluaran militer Australia baru-baru ini telah diterima dengan baik.

"Kami sekarang memiliki pengeluaran pertahanan sebesar 2,8% dari PDB menurut ukuran NATO, yang menempatkan kami di depan sebagian besar negara NATO, dengan pengecualian negara-negara Nordik, Baltik, Polandia, dan garis depan semacam itu. Itu berarti pengeluaran kita saat ini, sehubungan dengan pertahanan, lebih besar dari Jerman, Inggris, Prancis, Spanyol, dan Italia," paparnya.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia