Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Awas AI Slop

NadiKabar Biro
Awas AI Slop
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Awas AI Slop.

Jakarta - Pernahkah melihat desain di spanduk UMKM makanan di pinggir jalan yang dibuat menggunakan akal imitasi (AI), gambar nasi uduk lebih mirip manik-manik putih bulat. Lalu entah apa di sebelah lele goreng dan lalapan, bentuknya mirip kecoak.

Atau, spanduk tentang promosi sekolah swasta yang menggambarkan seorang siswa, namun jari tangan kanannya hanya empat. Itulah AI Slop.

Internet, dan dunia nyata, sedang dibanjiri konten semacam itu.

Istilah AI Slop merujuk pada konten dalam jumlah besar yang dibuat dengan generator teks, gambar, dan video, dengan kualitas yang sering kali rendah dan nilai informasi yang terbatas. Konten berupa gambar dan teks yang dibuat secara asal-asalan.

Di media sosial misalnya, entah itu Instagram, X, YouTube, dan paling banyak Threads, berseliweran konten yang dibuat oleh AI dengan pola yang mirip.

Dalam konten berupa teks di media sosial Threads, yang disebut layaknya Twitter era awal, tidak sedikit konten yang menceritakan pengalaman pribadi yang dibuat oleh AI dengan pola yang mudah dikenali. Walaupun gagasan dalam kontennya mungkin memberikan manfaat dari sebuah informasi baru, tapi tidak sedikit yang tercampur dengan halusinasi AI di dalamnya.

Alhasil, sebuah informasi yang harusnya bermanfaat menjadi dipertanyakan kebenarannya. Apakah ini nyata, atau halusinasi akal imitasi semata.

Lucunya, saking banyaknya konten seperti itu, tersebar pula diagram pola kalimat AI yang dibuat warganet untuk mengenali konten AI tersebut. Misalnya, konten tersebut menceritakan pengalaman seseorang mengobrol dengan teman, kerabat, atau siapapun, tentang suatu hal baru atau yang jarang diungkap, lalu membuat "sender" atau si pembuat utas "terdiam" karena baru menyadari suatu hal. Lalu mengalirlah penjelasan dari utas yang panjang untuk mengikat engagement.

Pada teks artikel yang lebih panjang dari media sosial, AI Slop juga mudah dikenali dengan kalimat yang generik, struktur serta frasa yang klise, dan terus berulang-ulang. Penutupnya juga seragam dengan membuat pertanyaan retoris atau kesimpulan yang merangkum ulang tanpa menambah apapun.

Riset dari SEO tool, Ahrefs, pada 2025 mencatat 74,2 persen halaman web yang baru terbit mengandung materi buatan AI.

Analisis korpus web yang dilakukan profesor dari Charles Sturt University Australia Dirk Spennemann memperkirakan 30 hingga 40 persen teks aktif di internet kini berasal dari sumber yang dihasilkan atau disunting AI.

Jumlah tersebut memberi gambaran bahwa produksi konten berbasis AI sudah menjadi bagian besar dari ekosistem informasi digital.

Lalu apa alasannya AI Slop membanjiri informasi saat ini? Generator AI membuat produksi konten jauh lebih murah dan cepat. Pada saat yang sama, banyak platform digital seperti YouTube, Instagram, X dan lainnya masih bekerja dengan sistem yang memberi bayaran pada akun yang aktif mengunggah dalam jumlah besar. Semakin banyak materi yang diproduksi, semakin banyak pula peluang sebuah konten muncul di hadapan pengguna.

Kondisi tersebut menciptakan dorongan yang kuat untuk mengejar kuantitas. Konten dibuat agar mudah diproduksi, mudah ditemukan mesin pencari, dan cukup menarik untuk mendapatkan distribusi algoritmik. Kedalaman informasi menjadi urusan belakangan.

Google telah merespons persoalan tersebut melalui sejumlah pembaruan algoritma sepanjang 2024 hingga 2026. Salah satu sasaran yang dituju adalah praktik yang mereka kategorikan sebagai produksi konten dalam skala besar yang dibuat terutama untuk mendapatkan trafik.

Namun pada akhirnya, manusia bisa mengenali pola-pola AI. Dan situs yang sangat bergantung pada produksi konten AI secara massal dilaporkan mengalami penurunan trafik organik yang besar setelah perubahan tersebut.

Di sinilah persoalan AI slop mulai menyentuh masalah yang lebih besar: kepercayaan.

Institut Khazanah Research Malaysia dalam seri kajiannya mengenai AI Slop dan keruntuhan model, menempatkan hilangnya keyakinan terhadap informasi sebagai salah satu risiko penting.

Ketika masyarakat semakin sulit membedakan informasi asli dan yang dibuat oleh AI, dampaknya dapat terasa pada bidang-bidang yang sangat bergantung pada informasi yang dipercaya publik.

Selain desain dan teks, persoalan juga menjalar pada sebuah foto dan video hasil karya AI yang kian mendekati realita. Ketika foto atau video seorang tokoh terkenal diciptakan dari AI dan sangat mirip dengan aslinya yang nyata, akan banyak orang menebak-nebak: foto ini asli atau AI?

Begitu juga dengan foto atau video dari orang biasa namun adegannya yang tidak umum. Seseorang yang kritis mungkin mempertanyakan keasliannya. Namun orang-orang yang tidak berpikir panjang akan segera mempercayainya.

Masalahnya bahkan dapat berlanjut ke teknologi AI itu sendiri. Peneliti AI dari Oxford Ilia Shumailov dan koleganya menerbitkan studi di jurnal Nature yang menemukan bahwa model AI yang dilatih secara rekursif menggunakan data yang dihasilkan model AI lain, dapat mengalami penurunan kualitas. Fenomena tersebut dikenal sebagai model collapse.

Sederhananya, model yang terus belajar dari keluaran model sebelumnya berisiko semakin jauh dari keragaman data asli. Polanya mirip dengan menyalin dokumen berkali-kali. Setiap salinan mungkin masih dapat dibaca, tetapi detail tertentu perlahan hilang. Setelah proses berlangsung berulang, informasi yang lebih jarang muncul semakin mudah tersisih dan pola yang paling umum semakin dominan.

Data yang jarang muncul memiliki peluang lebih besar untuk hilang ketika sebuah sistem terus mengandalkan data sintetis yang dihasilkan dari sistem sebelumnya. Misalnya, ketika seorang jurnalis salah dalam menulis berita, ataupun sekadar salah dalam tata bahasa Indonesia yang baik dan benar, namun ditulis terus menerus dan berulang, AI akan menangkap itu sebagai sebuah kebenaran.

Dan data itu akan digunakan AI setelahnya untuk memproduksi sebuah tulisan yang juga keliru.

AI memang membuat produksi konten semakin murah dan cepat. Konten sintetis dalam jumlah besar kemudian masuk ke internet dan sebagian di antaranya dapat menjadi sumber data bagi pengembangan model berikutnya.

Jika data tersebut terlalu banyak mengandung materi sintetis, kualitas dan keragaman data pelatihan dapat ikut terpengaruh. Model yang menghasilkan keluaran lebih generik kemudian berpotensi menambah lagi jumlah konten serupa di internet.

Yang tersisa di era AI sekarang adalah bagaimana menjaga kualitas informasi tetap terjaga ketika kemampuan produksi informasi sintetis tumbuh jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memeriksanya.

Proses kurasi kini menjadi sesuatu yang semakin mahal. Tanpa proses tersebut, sistem informasi berisiko semakin dipenuhi materi yang mudah dibuat, mudah diperbanyak, tetapi semakin sulit dipercaya.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia