Batam - Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri terus mendalami jaringan internasional di balik sejumlah pengungkapan penyelundupan narkotika melalui jalur laut di Kepulauan Riau (Kepri) dengan melibatkan aparat penegak hukum (APH) dari sejumlah negara.
Direktur Tindak Pidana Narkoba (Dirtipidnarkoba) Bareskrim Polri Brigjen Pol Eko Hadi Santoso di Batam, Selasa, mengatakan penyelidikan terhadap jaringan tersebut masih dilakukan secara berkelanjutan.
"Prinsip penyelidikan adalah prinsip yang berkelanjutan. Jadi apa yang kita temukan hari ini juga merupakan hasil pengolahan data dan penyelidikan yang dilakukan jauh hari sebelumnya. Demikian juga nanti hasil pendalaman menjadi cara menentukan penyelidikan berikutnya," kata Eko.
Dalam satu bulan terakhir, aparat telah menggagalkan sejumlah penyelundupan narkotika di perairan Kepri, yakni 1,3 ton ketamin dari MV King Sun, 2,6 ton sabu cair dari MV Ocean Porter serta 800 kilogram ketamin dari kapal Fu Chang Xing I.
"Mengapa kami sebut sebagai jaringan internasional? Karena awak kapalnya, pergerakan, pelintasannya semua berada di lautan internasional. Sehingga kita perlu bekerja sama dengan APH atau counterpart aparat penegak hukum yang berperan di negara masing-masing," ujarnya.
Menurut Eko, Bareskrim Polri telah menjalin kerja sama bilateral dengan aparat penegak hukum sejumlah negara untuk melakukan pertukaran informasi terkait jaringan tersebut.
"Untuk aktor dalam kasus penyelundupan ini ada, tapi tidak berada di negara kita. Masih diolah oleh beberapa counterpart kita yang berada di luar negeri, baik itu di Malaysia, Singapura, China dan lain-lain," katanya.
Terkait sejumlah kapal asing yang masuk ke wilayah Indonesia, Eko mengatakan pihaknya belum dapat memastikan apakah Indonesia menjadi tujuan akhir atau hanya menjadi wilayah transit.
"Kita belum bisa berhipotesa. Selama itu masuk wilayah hukum Indonesia, kita melakukan penindakan. Terkadang ada yang hanya lewat, terkadang ada tujuan," katanya.
Ia menjelaskan jaringan penyelundupan narkotika juga memiliki pola pengendalian yang tidak selalu dapat diketahui sejak awal.
"Kadang mereka dikendalikan, terputus, menunggu kira-kira lima menit. Ke mana harus mereka meluncur, ke mana mereka harus komunikasi, siapa yang akan menemui mereka dan lain-lain. Itu tentu memerlukan pendalaman human intelligence dan teknologi intelijen yang melibatkan counterpart di negara lain," ujarnya.
Eko juga membenarkan bahwa sejumlah pengungkapan penyelundupan dalam beberapa pekan terakhir memiliki korelasi dalam proses penyelidikan.
"Ini semua memiliki korelasi. Hasil hari ini tentu ada kurang lebih korelasi dengan kasus sebelumnya. Mudah-mudahan ini berhenti sampai sekarang. Tapi kalau kita lakukan pendalaman terus ke depan dan ada kemungkinan untuk kita melakukan intercept, akan kita lakukan," katanya.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.