Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Benarkah stres bisa sebabkan rambut rontok? Ini penjelasannya

NadiKabar Biro
Benarkah stres bisa sebabkan rambut rontok? Ini penjelasannya
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Benarkah stres bisa sebabkan rambut rontok? Ini penjelasannya.

Jakarta - Rambut rontok sebenarnya merupakan bagian normal dari siklus pertumbuhan rambut. Namun, jika jumlahnya tiba-tiba lebih banyak dari biasanya, kondisi tersebut tentu bisa membuat khawatir. Salah satu hal yang sering dikaitkan dengan kerontokan rambut adalah stres.

Lantas, benarkah stres bisa menyebabkan rambut rontok?

Jawabannya, bisa. Stres fisik maupun emosional dapat memengaruhi siklus pertumbuhan rambut dan memicu kerontokan. Salah satu kondisi yang paling sering berkaitan dengan stres adalah telogen effluvium, yaitu kerontokan sementara yang terjadi ketika banyak folikel rambut masuk ke fase istirahat secara bersamaan.

Bagaimana stres bisa menyebabkan rambut rontok?

Ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan merespons dengan meningkatkan sejumlah hormon, termasuk kortisol. Jika stres berlangsung cukup berat atau berkepanjangan, perubahan tersebut dapat memengaruhi siklus pertumbuhan rambut.

Dalam kondisi normal, rambut melewati beberapa tahap, yaitu fase pertumbuhan, fase istirahat, dan fase kerontokan. Ketika tubuh mengalami tekanan tertentu, lebih banyak folikel rambut dapat berpindah ke fase istirahat lebih cepat. Beberapa waktu kemudian, rambut-rambut tersebut akan mengalami kerontokan.

Kerontokan akibat stres biasanya tidak langsung terlihat ketika seseorang sedang mengalami masalah. Rambut bisa mulai rontok lebih banyak beberapa bulan setelah pemicu stres terjadi. Karena jedanya cukup panjang, seseorang terkadang tidak menyadari bahwa kerontokan yang dialami berkaitan dengan kejadian sebelumnya.

Apa itu telogen effluvium?

Telogen effluvium merupakan salah satu bentuk kerontokan rambut yang biasanya bersifat sementara. Kondisi ini dapat terjadi setelah tubuh mengalami tekanan, baik secara emosional maupun fisik.

Selain stres psikologis, pemicunya bisa berupa sakit berat, demam tinggi, operasi, perubahan berat badan yang cepat, kekurangan nutrisi, atau perubahan hormonal tertentu.

Ciri yang cukup umum adalah rambut rontok lebih banyak ketika mandi, menyisir, atau saat rambut disentuh. Penipisan biasanya terjadi secara menyeluruh di kulit kepala, bukan hanya pada satu bagian tertentu.

Kabar baiknya, kerontokan jenis ini umumnya tidak bersifat permanen. Setelah faktor pemicunya teratasi, pertumbuhan rambut biasanya akan kembali secara bertahap. Cleveland Clinic menyebutkan bahwa rambut pada banyak kasus dapat kembali tumbuh dalam beberapa bulan.

Tidak semua rambut rontok disebabkan stres

Meski stres memang dapat memicu kerontokan, bukan berarti setiap rambut rontok pasti disebabkan oleh stres.

Ada berbagai penyebab lain, seperti faktor keturunan, perubahan hormon, kondisi kesehatan tertentu, kekurangan nutrisi, efek obat, hingga kebiasaan perawatan rambut. Karena itu, penting untuk tidak langsung menyimpulkan penyebab kerontokan hanya berdasarkan kondisi psikologis.

Pola kerontokan juga bisa memberikan petunjuk. Kerontokan akibat telogen effluvium cenderung menyebabkan rambut menipis secara menyeluruh dan muncul cukup cepat. Sementara itu, kerontokan akibat faktor keturunan umumnya berkembang secara lebih perlahan.

Jika merasa rambut rontok semakin banyak setelah melewati periode yang penuh tekanan, langkah pertama adalah memperhatikan kondisi tubuh secara keseluruhan.

Menjaga pola tidur, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan mencari cara yang sehat untuk mengelola stres dapat membantu menjaga kesehatan tubuh dan rambut. Hindari pula kebiasaan perawatan rambut yang dapat menyebabkan kerusakan, seperti penggunaan alat panas secara berlebihan atau mengikat rambut terlalu kencang.

Namun, tidak perlu langsung panik ketika menemukan beberapa helai rambut di bantal atau kamar mandi. Rambut memang mengalami kerontokan secara alami setiap hari. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan yang cukup jelas dari kondisi biasanya, seperti rambut menipis dengan cepat atau jumlah rambut yang rontok terus meningkat.

Jika kerontokan berlangsung lama, semakin parah, muncul bagian kulit kepala yang terlihat jelas, atau terdapat gejala lain pada kulit kepala, sebaiknya periksakan ke dokter. Pemeriksaan dapat membantu memastikan apakah penyebabnya benar berkaitan dengan stres atau ada kondisi lain yang perlu ditangani.

Jadi, stres memang bisa menyebabkan rambut rontok, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Pada banyak kasus, kerontokan yang berkaitan dengan stres bersifat sementara dan rambut dapat kembali tumbuh setelah tubuh pulih serta pemicunya teratasi.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia