Jakarta - Kepastian tata kelola ruang serta bentang alam secara berkelanjutan dinilai menjadi solusi dalam mengatasi ketiga tantangan geopolitik dan ekonomi yang dihadapi Indonesia yakni ketahanan pangan, kemandirian energi, dan ketahanan iklim.
Pendiri Yayasan Panca Palma Tropika Indonesia, Petrus Gunarso, menegaskan akar tantangan ekologi dan pembangunan nasional tidak bisa diselesaikan melalui pendekatan sektoral yang terpisah melainkan harus dipandang sebagai satu kesatuan bentang alam (lanskap).
"Pendekatan kita harus bergeser. Persoalan hari ini bukan sekadar tentang kebun sawit semata, melainkan persoalan tata kelola bentang alam secara utuh dan terintegrasi," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Menurut dia tata kelola lanskap berkelanjutan wajib mengintegrasikan seluruh elemen ruang secara proporsional dan memiliki kepastian hukum, yang mencakup: kawasan konservasi, hutan produksi, perkebunan kelapa sawit, pertanian pangan, dan sungai serta daerah aliran sungai.
"Penetapan proporsi area perlindungan ekosistem harus jelas dan terlindungi. Juga perlu optimalisasi budidaya sektor kehutanan yang lestari," kata Petrus dalam Forum Diskusi Terbatas (FDT) bertema “Membangun Ketahanan, Kemandirian Pangan dan Energi Melalui Nexus Baru Tata Kelola Sawit Berkelanjutan".Terkait perkebunan sawit, lanjutnya, perlu kepastian luas area komoditas strategis nasional secara presisi. Perlindungan dan peningkatan produktivitas lahan pangan berbasis kekuatan 7 juta hektar sawah nasional juga harus diperhatikan.
Petrus mengatakan, penataan ruang pemukiman yang tumbuh seiring dinamika demografi, ditopang jaringan jalan dan jembatan yang terencana juga menjadi bagian dari strategi yang dilakukan.
Ia menambahkan bahwa kepastian ruang merupakan prasyarat mutlak untuk menjalankan aksi iklim yang terukur dan efisien.
Ketika ruang telah pasti, lanjutnya, maka konservasi dapat dijalankan, potensi serapan karbon dapat dihitung secara akurat, biodiversitas dapat dilindungi, ketahanan iklim dapat dibangun, dan industri sawit dapat berkontribusi nyata bagi kedaulatan pangan serta energi nasional.
Dalam kegiatan yang diselenggarakan Rumah Sawit Indonesia (RSI) di IPB University Bogor itu Petrus menegaskan bahwa integrasi antar-komponen ini memerlukan komitmen lintas sektor.
"Semua fungsi strategis, mulai dari penataan ruang, konservasi hayati, perhitungan karbon, hingga transformasi sawit, hanya dapat dilakukan jika bentang alam dikelola dalam satu kerangka tata kelola yang pasti, inklusif, dan berkelanjutan," katanya.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.