Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

BI dan pemerintah perkuat strategi pengendalian inflasi pangan

NadiKabar Biro
BI dan pemerintah perkuat strategi pengendalian inflasi pangan
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait BI dan pemerintah perkuat strategi pengendalian inflasi pangan.

Jakarta - Pejabat Gubernur Sementara (Pgs) Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan, pihaknya bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah terus memperkuat kerja sama untuk menjaga stabilitas harga pangan guna mengendalikan inflasi di daerah.

Salah satu strateginya yakni melalui pengendalian inflasi pangan dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

“Volatile food inflation-nya lagi naik. Nah, makanya memang BI bersama-sama dengan pemerintah daerah dan pemerintah pusat, kita juga menangani program untuk pengendalian inflasi pangan,” kata Destry saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa.

Menurutnya, peningkatan inflasi menjadi perhatian bersama karena komponen harga bergejolak (volatile food) sangat dipengaruhi oleh kondisi pasokan dan harga komoditas pangan.

“Kalau kita lihat core inflation-nya masih tetap stabil, malah meningkat sedikit, artinya ada aktivitas ekonomi dari 2,7 (persen) ke 2,9. Tapi memang untuk volatile food-nya naik dari 2-an ke 4. Jadi memang PR kita bersama-sama menjaga stabilitas harga pangan,” ujarnya.

Menurut Destry, pengendalian inflasi, khususnya pada komponen volatile food, tidak dapat hanya dilakukan oleh bank sentral. Pemerintah juga perlu melakukan intervensi dari sisi pasokan untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan.

Adapun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Agustus 2026. Inflasi tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,73 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus 2026.

Inflasi Agustus 2026 terutama didorong oleh volatile food yang mengalami inflasi sebesar 0,88 persen dengan andil 0,15 persen terhadap inflasi umum.

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen tersebut antara lain daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.

Pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, daging ayam ras memberikan andil inflasi sebesar 0,17 persen. Sementara itu, cabai rawit, ikan segar, dan beras masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen.

Selain itu, kacang panjang, buncis, jagung manis, ketimun, semangka, sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret putih mesin (SPM) masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,01 persen.

Sementara itu, inflasi inti pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,21 persen dengan andil sebesar 0,13 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi antara lain emas perhiasan, pelumas atau oli mesin, telepon seluler, serta biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi.

Adapun komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami deflasi sebesar 0,33 persen dengan andil deflasi sebesar 0,07 persen. Deflasi terutama didorong oleh tarif angkutan udara dan bensin.

Pada periode yang sama, kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar 0,50 persen dengan andil deflasi sebesar 0,06 persen. Tarif angkutan udara memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen, sedangkan bensin memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia