Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Thomas Djiwandono menilai sinergi kebijakan lintas otoritas dan lintas negara dapat menjaga stabilitas makrofinansial sekaligus mengarahkan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Perubahan global kini semakin kompleks akibat disrupsi teknologi, perubahan iklim, dan fragmentasi geoekonomi. Di tengah kondisi itu, inovasi menjadi motor utama pertumbuhan, sementara stabilitas ekonomi dan keuangan menjadi jangkar yang membuat inovasi bisa tumbuh dengan aman," ujar Thomas dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Thomas Djiwandono menyampaikan pandangannya tersebut saat terlibat dalam acara Biennial Policy Conference (BPC) di Bali, dengan tema “The Future of Central Banking: Policy Synergy for Innovation-Driven, Inclusive, and Sustainable Economic Growth", yang dihadiri peraih Nobel Ekonomi Prof. Peter Howitt dan Prof. Daron Acemoglu.
Menurut Thomas, stabilitas merupakan prasyarat mendasar bagi kemajuan suatu negara di tengah berlangsungnya creative destruction yang terus menggerakkan dinamika ekonomi.
Bank sentral berperan sebagai penjaga stabilitas makrofinansial yang memungkinkan inovasi berkembang secara aman. Maka, bauran kebijakan yang terintegrasi perlu terus berinovasi untuk merespons guncangan ekonomi yang semakin kompleks dan nonlinier.
"Teknologi membawa efisiensi, tetapi efisiensi tidak boleh terpisah dari kemanusiaan. Inklusivitas tidak datang dengan sendirinya bersama teknologi, melainkan harus dirancang ke dalamnya," ujar Thomas.
Untuk itu, BI mengambil peran aktif dalam mengarahkan perkembangan ekosistem digital agar teknologi dapat menjadi sarana untuk menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Thomas menambahkan, persoalan multidimensi yang dihadapi perekonomian saat ini tidak dapat diselesaikan oleh bank sentral secara sendiri-sendiri.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.