Jakarta - Bitcoin tertahan di kisaran 78.000 dolar Amerika Serikat (AS) per bitcoin, setelah gagal mempertahankan di level 80.000 dolar AS.
Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh arus dana exchange-traded fund (ETF) dan arah kebijakan Bank Sentral AS atau The Fed.
Bitcoin sebelumnya menguat sekitar 26 persen dari 62.700 dolar AS hingga mencapai 81.235 dolar AS. Namun, aset kripto terbesar tersebut kemudian terkoreksi dan kembali bergerak di bawah level psikologis 80.000 dolar AS.
CEO dan Founder FLOQ, salah satu platform investasi aset kripto, Yudhono Rawis dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (5/9), menilai koreksi tersebut belum mengubah prospek Bitcoin secara keseluruhan. Namun, pasar kini memasuki fase pembuktian untuk melihat apakah permintaan investor masih cukup kuat menopang harga.
“Reli Bitcoin sepanjang Agustus menunjukkan bahwa minat investor terhadap aset kripto masih sangat kuat. Namun, setelah gagal bertahan di atas 80.000 dolar AS, pasar sekarang masuk ke fase pembuktian,” ujar Yudhono.
Menurut dia, investor perlu mencermati permintaan spot dan arus dana institusional untuk mengukur kekuatan pasar setelah reli.
ETF Bitcoin dan Ethereum di AS mencatat inflow bersih sekitar 2,71 miliar dolar AS pada pekan yang berakhir 24 Agustus. Bitcoin menyumbang porsi terbesar dengan inflow sekitar 1,92 miliar dolar AS.
Namun, arus dana tersebut mulai melambat. Data Farside Investors menunjukkan spot Bitcoin ETF AS mencatat net outflow sekitar 201,9 juta dolar AS pada 28 Agustus, setelah sebelumnya membukukan arus masuk positif selama beberapa hari.
Yudhono mengatakan, konsistensi arus ETF bakal menjadi indikator penting ketika Bitcoin bergerak di kisaran 77.000-80.000 dolar AS.
“Jika arus ETF kembali positif ketika Bitcoin berada di area 77.000-80.000 dolar AS, itu bisa menjadi indikasi bahwa investor besar masih melihat koreksi sebagai kesempatan untuk membangun posisi,” katanya pula.
Selain arus ETF, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter AS. Pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada 28 Agustus lalu direspons sebagai sinyal hawkish.
Warsh menegaskan inflasi AS masih berada di atas target dua persen dan perkembangan inflasi dalam beberapa bulan terakhir belum menunjukkan perbaikan yang cukup berarti.
Memasuki September, data ketenagakerjaan AS untuk Agustus yang dijadwalkan dirilis pada 4 September dan data Consumer Price Index (CPI) pada 11 September akan menjadi perhatian pasar.
Kedua data tersebut akan menjadi pertimbangan menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September 2026.
Yudhono memperkirakan volatilitas Bitcoin masih tinggi sepanjang September karena pasar akan semakin bergantung pada data ekonomi.
“Pasar akan sangat sensitif terhadap angka tenaga kerja dan inflasi AS. Jika data menunjukkan ekonomi mulai mendingin tanpa inflasi kembali melonjak, ruang bagi aset berisiko untuk kembali menguat akan terbuka,” katanya lagi.
Sebaliknya, inflasi yang tetap tinggi dapat memperpanjang tekanan terhadap Bitcoin, karena mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter AS.
Adapun dalam jangka pendek, level 80.000-81.000 dolar AS menjadi zona penting bagi Bitcoin. Jika mampu menembus dan bertahan di atas zona tersebut, momentum penguatan berpeluang kembali terbentuk.
Namun, jika gagal merebut kembali 80.000, Bitcoin berpotensi melanjutkan konsolidasi sembari menunggu katalis makro berikutnya.
“Pertanyaannya bukan sekadar apakah Bitcoin bisa kembali ke 80.000 dolar AS. Yang lebih penting adalah apakah 80.000 dolar AS nantinya dapat berubah dari resistance menjadi support,” kata Yudhono.
Menurut dia, sinyal penguatan akan lebih kuat apabila perubahan tersebut disertai kembalinya arus modal institusional dan kondisi makroekonomi yang lebih kondusif.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.