Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

BNPB atasi karhutla di Teluk Bintuni dengan helikopter "water bombing"

NadiKabar Biro
BNPB atasi karhutla di Teluk Bintuni dengan helikopter "water bombing"
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait BNPB atasi karhutla di Teluk Bintuni dengan helikopter "water bombing".

Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat melalui pengerahan satu unit helikopter water bombing yang secara kumulatif telah melaksanakan 69 kali penyiraman air.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan dalam keterangan di Jakarta, Sabtu, menjelaskan operasi water bombing dilakukan dalam dua pengerahan atau sortie pada Jumat (28/8).

"Sortie pertama dilaksanakan di klaster 3 dengan 26 kali water bombing atau sekitar 26 ribu liter air pada area sekitar empat hektare. Sementara sortie kedua dilakukan di klaster 1 dengan 28 kali water bombing atau sekitar 28 ribu liter air pada area sekitar tiga hektare," katanya.

Dari hasil pemadaman, jelas Berton, kedua lokasi sudah tidak ditemukan kobaran api, namun masih terpantau kepulan asap tipis sisa kebakaran. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya panas atau bara di bawah tutupan vegetasi, sehingga pemantauan dan penanganan secara berulang tetap diperlukan untuk mencegah api kembali berkembang.

Secara kumulatif, dukungan operasi udara BNPB di Teluk Bintuni telah mencapai tiga sortie dengan total 69 kali water bombing atau sekitar 69 ribu liter air.

"Penanganan karhutla di Papua Barat dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan di masing-masing wilayah. Selain Teluk Bintuni, karhutla juga terpantau di sejumlah wilayah lain, seperti di Kabupaten Fakfak, Manokwari Selatan, dan Pegunungan Arfak," ujarnya.

Berton menyebut pengerahan sarana udara juga mempertimbangkan aspek teknis dan keselamatan operasi. Setiap penugasan helikopter disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan kemampuan sarana untuk menjangkau lokasi sasaran secara efektif.

Dengan bertambahnya dukungan sarana pemadaman, pengerahan helikopter BNPB PK-DBM akan terus dievaluasi sesuai perkembangan kondisi lapangan dan kebutuhan penanganan karhutla di Papua Barat, termasuk kemungkinan dukungan untuk wilayah lain yang membutuhkan.

Evaluasi tersebut juga mempertimbangkan kondisi operasional helikopter, jarak menuju lokasi sasaran, akses dari pangkalan terdekat, sumber air dan karakteristik medan.

"Pertimbangan teknis menjadi penting, terutama untuk wilayah dengan medan pegunungan dan lokasi kebakaran yang sulit dijangkau," ucap Berton.

Secara keseluruhan, berdasarkan pantauan satelit NASA-Terra/Aqua, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20 hingga pukul 19.00 WIB pada 28 Agustus 2026, terdapat 36 titik panas di wilayah Provinsi Papua Barat. Jumlah tersebut terdiri atas satu titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 31 titik dengan tingkat kepercayaan sedang, dan empat titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Sementara itu, luas indikatif lahan terbakar di Provinsi Papua Barat hingga 27 Agustus 2026, tercatat 2.496,39 hektare berdasarkan data SIPONGI Kementerian Kehutanan.

BNPB bersama BPBD dan seluruh unsur terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan karhutla secara terpadu. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah api meluas, melindungi masyarakat dan lingkungan sekitar, serta memastikan dukungan sumber daya dikerahkan sesuai tingkat kebutuhan dan kondisi di lapangan.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia