Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan terjadi peningkatan titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tiga provinsi di Kalimantan yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, pada Senin.
“Kita lihat bahwa di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Selatan, jumlah titik panas itu relatif bertambah. Di Kalimantan Barat signifikan bertambahnya. Di Kalimantan Selatan maupun Kalimantan Tengah relatif menurun,” ujar Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP. Panjaitan di Jakarta, Senin.
Berdasarkan pemantauan titik api di tiga provinsi tersebut, kata dia, terdapat kenaikan jumlah titik api dengan jarak pandang berkisar satu hingga dua kilometer.
Sementara itu pada tiga provinsi di Sumatera yakni Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi, jumlah titik api secara umum relatif menurun.
Meski demikian BNPB mencatat peningkatan titik panas di Sumatera Selatan sebanyak 209 titik sehingga totalnya mencapai 1.013 titik panas.
“Sedangkan di Riau maupun di Jambi titik panas berkurang secara signifikan. Jarak pandang pun bervariasi antara empat sampai lima kilometer di Riau maupun Sumatera Selatan, sedangkan Jambi sekitar tujuh kilometer,” ujarnya.
Menurut Berton, kondisi tersebut juga berkaitan dengan kualitas udara yang dapat dipantau melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang disediakan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Ia mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan layanan ISPU melalui laman resmi KLH untuk mengetahui kondisi kualitas udara hingga tingkat kabupaten/kota.
“Masyarakat dapat mengakses, sehingga nanti tindakan-tindakan untuk mencegah bila kualitas udara tersebut sudah berbahaya ataupun tidak sehat dapat dilakukan dengan baik,” katanya.
Selain kualitas udara, BNPB memantau sebaran polutan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Berton mengatakan sebaran polutan di sejumlah wilayah Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, diperkirakan masih relatif pekat pada Senin (31/8) dan Selasa (1/9).
“Kita lihat di Kalimantan Barat, Tengah, maupun Selatan, relatif sangat pekat. Ini menandakan bahwa jumlah asap sangat tebal di daerah-daerah tersebut,” katanya.
Sebaran polutan juga terpantau di sejumlah wilayah Sumatera, antara lain Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Sementara itu, kondisi di Papua dan Jawa diperkirakan cenderung mengalami penurunan intensitas sebaran polutan.
Berton mengatakan masyarakat perlu memperhatikan perkembangan kualitas udara dan melakukan langkah pencegahan apabila kondisi udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Adapun situasi karhutla per Senin (31/8) untuk Kalimantan Barat terdapat 7.377 titik panas (naik 3.553), fire spot sebanyak 104 (naik 88), dengan jarak pandang kurang dari 1 km.
Di Kalimantan Tengah, ada 5.244 titik panas ( turun 147), fire spot sebanyak 72 (naik 16), dengan jarak pandang kurang dari satu km. Kalimantan Selatan titik panas mencapai 504 (turun 405), fire spot sebesar 55 (naik 3), jarak pandang kurang dari 2 km.
Kemudian Riau, titik panas mencapai 62 (turun 202), fire spot mencapai 12 (turun 2), adapun jarak pandang sekitar 4-5 km. Sedangkan di Sumatera Selatan, titik panas mencapai 1.013 (naik 209), fire spot sebanyak 11 (turun 7) dengan jarak pandang kurang dari 5 km.
Sementara di Jambi, titik panas mencapai 49 (turun 86), fire spot sebanyak 4, dan jarak pandang sekitar 6-7 km.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.