Mataram - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas tembaga mendominasi ekspor Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan nilai mencapai 155,36 juta dolar AS atau setara 93,55 persen dari total ekspor pada Juli 2026.
Kepala BPS NTB Wahyudin di Mataram, Selasa, mengatakan nilai ekspor NTB selama Juli 2026 sebesar 166,08 juta dolar AS.
"Komoditas tembaga yang diekspor adalah katoda hasil dari smelter," ujar dia.
Wahyudin menuturkan tembaga menjadi komoditas utama yang menopang kinerja ekspor NTB dengan kontribusi jauh lebih besar dibandingkan komoditas ekspor lainnya.
Komoditas tembaga tersebut dikirim dari NTB menuju ke China, Thailand, hingga Korea Selatan melalui Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya.
Selain tembaga, imbuh dia, komoditas perhiasan dan permata menyumbang 7,65 juta dolar AS atau 4,60 persen dari total ekspor NTB. Komoditas tersebut antara lain berupa perak dan mutiara budidaya yang dikirim melalui Bandara Sultan dan Bandara I Gusti Ngurah Rai untuk tujuan Uni Emirat Arab, Thailand, hingga Jepang.
Komoditas ikan dan udang berada pada posisi berikutnya dengan nilai ekspor 2,66 juta dolar AS atau 1,60 persen. Produk yang diekspor meliputi udang vaname, tuna, tuna sirip kuning beku, hingga lobster dengan tujuan Amerika Serikat, Malaysia, dan sejumlah negara lainnya.
Sementara itu, ekspor komoditas batu apung tercatat senilai 187.395 dolar AS. Adapun ekspor komoditas lainnya meliputi produk hewani senilai 121.371 dolar AS, mesin dan peralatan listrik 62.303 dolar AS, serta komoditas lainnya 45.438 dolar AS.
BPS mencatat nilai ekspor secara kumulatif pada Januari sampai Juli 2026 mencapai 1,51 miliar dolar AS atau naik 368,49 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Menurut Wahyudin, nilai ekspor selama Juli 2026 yang mencapai 166,08 juta dolar AS tersebut mengalami kenaikan sebesar 38,90 persen dibanding nilai ekspor pada Juli 2025.
"Peningkatan itu disebabkan oleh peningkatan ekspor barang non tambang pada kelompok tembaga dan perak hasil industri smelter serta kelompok ikan dan udang," papar dia.
Dari sisi impor, BPS mencatat nilai impor NTB secara kumulatif dari Januari sampai Juli 2026 mencapai 47,87 juta dolar AS atau turun 72,03 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Nilai impor yang berlangsung selama Juli 2026 mencapai 4,84 juta dolar AS. Impor terbesar berasal dari komoditas karet dan barang dari karet senilai 2,76 juta dolar AS atau 56,90 persen.
Komoditas tersebut antara lain berupa ban dan gasket yang didatangkan dari Jepang dan Australia. Sebagian besar kegiatan impor masuk melalui Pelabuhan Benete di Kabupaten Sumbawa Barat.
Kondisi nilai ekspor yang jauh lebih besar ketimbang nilai impor membuat neraca perdagangan Nusa Tenggara Barat mengalami surplus selama tujuh bulan pertama 2026 dengan nominal mencapai sekitar 1,47 miliar dolar AS.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.