Jakarta - Perekayasa dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Mektan Agung Prabowo mengatakan model mekanisasi melalui dua pendekatan yakni In situ dan Ex situ dapat digunakan untuk mengoptimalkan pemanfaatan residu atau limbah pertanian yang dapat menjadi sumber nilai tambah ekonomi.
“Jadi harus kita integrasikan antara produktivitas, efisiensi, konservasi sumber daya, pengurangan emisi, dan ekonomi sirkular,” kata Agung dalam acara National Multistakeholder Dialogue bertajuk “Scaling Up Crop Residue Management through Mechanization and Custom Hiring in Indonesia” di Jakarta, Selasa.
Ia menilai potensi residu tanaman sangat besar seiring tingginya produktivitas pertanian dengan rasio produk dan biomassa sekitar satu banding satu. Sehingga perlu ada perubahan paradigma yang melihat residu tanaman bukan sebagai limbah yang segera dibuang, melalui perubahan mekanisasi pertanian dan kemampuan menangani residu tanaman tersebut secara terintegrasi.
Dalam model yang diusulkan, residu pertanian dibagi menjadi dua jalur pemanfaatan. Pertama, pendekatan In situ, yakni residu tetap dimanfaatkan di lahan melalui proses chopping, spreading, incorporation, merging, hingga pengelolaan tanah.
Kedua, pendekatan Ex situ, yakni residu dikumpulkan untuk kemudian digulung, diangkut, diproses lebih lanjut, atau disimpan dalam fasilitas penyimpanan.
Model tersebut dapat menghasilkan manfaat sisa pertanian menjadi media tanam untuk komoditas tertentu seperti jamur merang, pupuk atau menjadi pakan ternak dari jerami padi maupun sisa tanaman jagung.
BRMP menilai kedua pendekatan tersebut tidak dapat diterapkan secara seragam. Pemilihan antara residu yang dikembalikan ke lahan dan yang dikeluarkan untuk dimanfaatkan lebih lanjut harus mempertimbangkan kondisi spesifik lokasi.
“Kita perlu ingat, berapa sih yang bisa dikeluarkan dan yang dimanfaatkan dalam In situ dan Ex situ? Biasanya proporsinya hanya 40 persen yang bisa dimanfaatkan secara ex situ. Jadi, keputusannya harus dengan pendekatan site specific,” katanya.
Agung mengatakan residu dari sisa pertanian dapat dimanfaatkan untuk mendukung sektor agronomi, peternakan, energi hingga industri. Hal ini juga menjadi bagian dari dukungan kepada program nasional pemerintah dalam hal swasembada pangan dan energi.
Pengembangan model mekanisasi tersebut diharapkan mendorong sistem pertanian yang lebih terintegrasi, sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan biomassa dan pengurangan pembakaran residu pertanian.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.