Jakarta - Cuci darah atau hemodialisis umumnya dilakukan dua hingga tiga kali dalam seminggu, tergantung kondisi pasien dan penilaian dokter. Setiap sesi biasanya berlangsung sekitar tiga sampai lima jam.
Hemodialisis merupakan terapi yang membantu menggantikan sebagian fungsi ginjal ketika organ tersebut tidak mampu menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah secara memadai. Proses ini dilakukan menggunakan mesin dialisis yang menyaring darah sebelum mengembalikannya ke tubuh.
Lantas, berapa kali cuci darah dilakukan dalam seminggu dan bagaimana prosedurnya?
1. Cuci darah umumnya dilakukan 2-3 kali seminggu
Kementerian Kesehatan menyebut pasien yang telah mengalami gagal ginjal tahap akhir biasanya memerlukan tindakan cuci darah sebanyak dua sampai tiga kali dalam seminggu. Frekuensi tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Sementara itu, sejumlah panduan internasional menyebut hemodialisis di pusat layanan kesehatan umumnya dilakukan tiga kali seminggu. National Kidney Foundation mencatat setiap sesi biasanya berlangsung sekitar tiga sampai lima jam.
2. Jadwal ditentukan berdasarkan kondisi pasien
Tidak semua pasien memiliki jadwal cuci darah yang sama. Dokter akan menentukan frekuensi dan durasi berdasarkan fungsi ginjal yang tersisa, kondisi kesehatan, jumlah cairan dalam tubuh, hasil pemeriksaan laboratorium serta kecukupan proses dialisis.
Karena itu, pasien tidak dianjurkan mengurangi atau menambah jadwal cuci darah sendiri. Perubahan jadwal perlu dikonsultasikan dengan dokter atau tim yang menangani.
3. Setiap sesi berlangsung sekitar 3-5 jam
Hemodialisis di pusat layanan kesehatan umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga hingga lima jam dalam satu sesi. NHS menyebut sebagian besar pasien menjalani tiga sesi dalam seminggu dengan durasi sekitar empat jam per sesi.
Durasi tersebut dapat berbeda antara satu pasien dan pasien lainnya. Dokter akan menentukan lamanya terapi berdasarkan kebutuhan penyaringan darah.
4. Darah dialirkan menuju mesin dialisis
Sebelum menjalani hemodialisis, pasien harus memiliki akses ke pembuluh darah. Akses tersebut dapat berupa arteriovenous fistula (AV fistula), graft, atau kateter dialisis, sesuai kondisi pasien.
Saat terapi berlangsung, darah dialirkan melalui akses tersebut menuju mesin. Darah kemudian melewati dialyzer atau filter khusus yang berfungsi seperti ginjal buatan untuk membuang zat sisa metabolisme dan kelebihan cairan. Setelah disaring, darah dikembalikan ke tubuh pasien.
5. Pasien dipantau selama proses berlangsung
Selama menjalani hemodialisis, tenaga kesehatan memantau kondisi pasien, termasuk tekanan darah dan kondisi umum selama terapi. Pemantauan diperlukan karena perubahan cairan dan tekanan darah dapat terjadi selama proses dialisis.
Setelah sesi selesai, akses pembuluh darah dilepas atau ditangani sesuai jenis akses yang digunakan, kemudian pasien dapat pulang apabila kondisinya memungkinkan.
6. Ada pilihan hemodialisis di rumah
Selain dilakukan di pusat dialisis, hemodialisis juga dapat dilakukan di rumah pada pasien tertentu setelah mendapatkan pelatihan. Frekuensinya bisa lebih sering dengan durasi yang lebih singkat.
National Kidney Foundation menyebut hemodialisis di rumah dapat dilakukan empat hingga enam hari dalam seminggu pada sebagian pasien, tergantung metode dan resep terapi yang diberikan dokter.
7. Jangan melewatkan jadwal cuci darah
Kepatuhan terhadap jadwal hemodialisis penting bagi pasien yang membutuhkannya. Dialisis berfungsi membantu membuang limbah dan kelebihan cairan yang tidak lagi dapat dikeluarkan secara optimal oleh ginjal.
National Kidney Foundation memperingatkan bahwa melewatkan terapi dialisis dapat menyebabkan penumpukan cairan dan zat sisa dalam tubuh sehingga berpotensi membahayakan kesehatan.
Dengan demikian, cuci darah tidak memiliki satu jadwal yang berlaku untuk semua pasien. Secara umum, hemodialisis dilakukan dua hingga tiga kali seminggu, dengan banyak pasien menjalani tiga sesi per minggu dan durasi sekitar tiga sampai lima jam setiap sesi. Namun, jadwal yang tepat harus ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi dan kebutuhan pasien.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.