Jakarta - Ekonom GREAT Institute Trisha Devita Indraswari menilai penguatan fundamental rumah tangga melalui peningkatan pendapatan riil hingga penciptaan lapangan kerja berkualitas dapat menjaga konsumsi masyarakat.
Trisha menyampaikan konsumsi rumah tangga masih menunjukkan pertumbuhan, namun sejumlah indikator mulai mencerminkan pelemahan daya beli dan meningkatnya kehati-hatian masyarakat dalam membelanjakan pendapatannya.
“Konsumsi memang masih tumbuh, tetapi rumah tangga mulai semakin selektif dalam membelanjakan pendapatannya. Ketika penjualan ritel melemah setelah momentum musiman berakhir, ini menunjukkan bahwa daya dorong konsumsi belum cukup kuat untuk bertahan secara konsisten,” ujar Trisha dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Dalam laporan GREAT Mid-Year Economic Outlook 2026 pihaknya mencatat konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia pada paruh pertama tahun ini.
Secara riil, konsumsi rumah tangga meningkat menjadi sekitar Rp1.887,7 triliun. Namun, setelah menguat pada momentum Ramadhan dan Idul Fitri, pertumbuhan penjualan ritel kembali melemah dan terkontraksi 3,9 persen secara tahunan pada Mei 2026.
Menurut Trisha, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya melihat konsumsi tidak hanya berdasarkan pertumbuhan agregat, tetapi juga dari perubahan perilaku belanja masyarakat.
Ia menjelaskan keputusan konsumsi rumah tangga tidak hanya dipengaruhi oleh pendapatan yang diterima dalam satu periode, tetapi juga persepsi terhadap pendapatan yang dapat dipertahankan ke depan atau permanent income.
Menurut dia, ketika masyarakat menilai pendapatan maupun kondisi pekerjaan di masa depan menjadi lebih tidak pasti, kenaikan pendapatan sementara belum tentu langsung mendorong peningkatan konsumsi.
Perubahan perilaku tersebut tercermin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen yang turun dari 127,0 pada Januari menjadi 117,8 pada Juni 2026, meskipun masih berada dalam zona optimistis.
Ia menilai pelemahan keyakinan konsumen dapat mendorong rumah tangga meningkatkan precautionary saving atau menahan sebagian pendapatan sebagai bantalan menghadapi ketidakpastian.
Dengan demikian, daya beli tidak hanya berkaitan dengan kemampuan masyarakat untuk melakukan konsumsi saat ini (ability to spend), tetapi juga kemauan untuk membelanjakan pendapatan (willingness to spend).
Tekanan kehati-hatian rumah tangga juga terlihat pada pembelian aset bernilai besar, khususnya sektor perumahan. Penjualan rumah primer tercatat terkontraksi 25,67 persen secara tahunan pada triwulan I 2026, sementara pertumbuhan KPR/KPA terus melambat hingga satu digit.
“Pembelian rumah memberikan sinyal yang lebih kuat mengenai keyakinan rumah tangga dibandingkan konsumsi sehari-hari. Ketika masyarakat merasa pendapatan dan pekerjaannya cukup aman, mereka lebih berani mengambil komitmen jangka panjang. Sebaliknya, ketika ketidakpastian meningkat, pembelian bernilai besar menjadi salah satu yang pertama ditunda,” jelas Trisha.
Meski demikian, tekanan konsumsi belum terjadi secara menyeluruh. Rumah tangga masih mempertahankan konsumsi kebutuhan dasar, sementara penyesuaian lebih banyak terjadi pada pengeluaran sekunder, barang tahan lama, dan pembelian yang membutuhkan pembiayaan jangka panjang.
Menurut dia, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian. Dalam jangka pendek, konsumsi masih dapat bertahan melalui penggunaan tabungan atau penyesuaian komposisi belanja.
Namun, keberlanjutan konsumsi akan sangat bergantung pada kekuatan fundamental rumah tangga, seperti pertumbuhan pendapatan riil, kepastian pekerjaan, ekspektasi ekonomi, dan ketahanan keuangan masyarakat.
“Konsumsi masih resilien, tetapi resiliensi itu tidak tanpa batas. Yang perlu dijaga bukan hanya kemampuan masyarakat untuk berbelanja hari ini, tetapi juga keyakinan mereka bahwa pendapatan dan pekerjaan akan tetap terjaga ke depan,” kata Trisha.
GREAT Institute menilai mempertahankan konsumsi rumah tangga pada semester II 2026 membutuhkan pendekatan yang lebih berorientasi pada penguatan fundamental rumah tangga.
Penciptaan pekerjaan berkualitas, peningkatan pendapatan riil, pengendalian biaya hidup, serta pemulihan keyakinan terhadap prospek ekonomi menjadi faktor penting agar konsumsi tetap menjadi fondasi pertumbuhan tanpa terlalu bergantung pada stimulus atau momentum musiman.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.