Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Ekonom: Risiko inflasi pangan September diperkirakan moderat

NadiKabar Biro
Ekonom: Risiko inflasi pangan September diperkirakan moderat
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Ekonom: Risiko inflasi pangan September diperkirakan moderat.

Jakarta - Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian memperkirakan risiko inflasi pangan September 2026 tetap moderat dan selektif dengan cabai rawit serta daging ayam ras sebagai komoditas yang paling perlu diwaspadai.

Menurut Eliza, tekanan harga pangan masih perlu dicermati, tetapi kondisi tersebut belum menunjukkan krisis pasokan secara nasional karena faktor yang memengaruhi setiap komoditas berbeda.

“Perkiraan risiko inflasi pangan September 2026 moderat, bukan krisis pasokan nasional. Tekanan ada, tetapi belum lepas kendali,” kata Eliza kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Bank Indonesia (BI) mencatat kelompok pangan bergejolak (volatile food) mengalami inflasi 0,88 persen secara bulanan pada Agustus 2026, setelah pada Juli mengalami deflasi 1,68 persen. Inflasi tersebut terutama disumbang daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.

Secara tahunan, inflasi kelompok pangan bergejolak pada Agustus mencapai 4,06 persen, meningkat dari 2,52 persen pada bulan sebelumnya.

Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, pada Rabu harga cabai rawit merah rata-rata mencapai Rp82.850 per kilogram (kg) atau naik 11,96 persen, sedangkan daging ayam ras segar Rp42.600 per kg dan beras berkisar Rp14.650–Rp17.850 per kg sesuai kualitas.

Eliza mengingatkan tekanan pada ketiga komoditas itu memiliki karakter berbeda. Menurutnya, daging ayam lebih dipengaruhi perkembangan permintaan dan biaya produksi, cabai rentan terhadap cuaca, sedangkan persoalan beras lebih berkaitan dengan distribusi antardaerah.

“Menyamakan semuanya sebagai dampak kemarau adalah analisis yang terlalu simplifikasi untuk dijadikan dasar kebijakan,” ujarnya.

Memasuki September, Eliza menilai cabai rawit menjadi komoditas paling rentan mengalami tekanan harga karena sifatnya yang mudah rusak dan sensitif terhadap kondisi cuaca.

“Komoditas paling rentan di September itu cabai rawit, lalu daging ayam. Cabai mudah rusak, tidak bisa disimpan lama, dan sangat peka cuaca panas. Karena itu harganya bisa naik cepat,” katanya.

Sementara pada daging ayam, ia melihat tekanan lebih banyak berasal dari faktor fundamental pasar, antara lain biaya pakan, bibit ayam umur sehari (DOC), perkembangan permintaan, serta keterbatasan fasilitas penyimpanan dingin.

Eliza menilai karakter ayam pedaging yang tidak dapat disimpan lama membuat perubahan antara pasokan dan permintaan lebih cepat memengaruhi harga.

Peternak mandiri juga menghadapi tekanan biaya dari pakan dan DOC di sisi hulu sekaligus harus segera menjual ayam hidup ketika memasuki masa panen.

Adapun pada beras, Eliza menilai risiko pada September lebih berkaitan dengan kelancaran penyaluran pasokan ke wilayah yang membutuhkan dibandingkan dengan kekurangan stok secara nasional.

BPS memproyeksikan produksi beras untuk konsumsi penduduk sepanjang Januari–September 2026 mencapai 28,71 juta ton, meningkat tipis 0,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai 5,25 juta ton hingga 12 Agustus 2026.

“Stok beras 5 juta ton lebih adalah prestasi cadangan, bukan jaminan harga di pasar tradisional,” tutur Eliza.

Menurutnya, besarnya stok perlu diikuti kemampuan mendistribusikan beras secara cepat ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan atau kenaikan harga.

Dari sisi cuaca, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan 169 zona musim atau sekitar 25,41 persen luas daratan Indonesia mengalami puncak musim kemarau pada September 2026.

Meski demikian, Eliza menilai dampak kekeringan perlu dilihat berdasarkan kondisi masing-masing daerah dan komoditas sehingga tidak serta-merta menunjukkan adanya gangguan pasokan pangan secara nasional.

Kementerian Pertanian mencatat luas pertanaman padi yang terdampak kekeringan secara nasional sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai 44.694 hektare. Dari jumlah tersebut, seluas 12.304 hektare mengalami gagal panen.

Pemerintah telah melakukan mitigasi melalui pemetaan daerah rawan kekeringan serta optimalisasi sumber air dari bendungan, jaringan irigasi, sungai, mata air, dan air tanah. Pemanfaatannya antara lain dilakukan melalui pompanisasi, perpipaan, sumur, embung, dan irigasi perpompaan.

Untuk mencegah tekanan harga berkembang lebih luas, Eliza menyarankan pemerintah memastikan pasokan air bagi tanaman yang masih dapat dipertahankan, memindahkan pasokan pangan dari daerah surplus ke daerah defisit, serta menyalurkan stok beras ke wilayah yang mengalami kenaikan harga.

"Langkah paling mendesak bukan operasi pasar setelah harga sudah mahal. Pemerintah perlu selamatkan tanaman yang masih ada dengan pompa dan air irigasi, pindahkan pasokan dari daerah surplus ke daerah defisit, dan salurkan stok beras ke wilayah-wilayah yang harganya sudah naik,” ucap dia.

Ia juga menilai harga di tingkat petani, disparitas harga antarkota, curah hujan di sentra produksi, dan arus barang menuju pasar perlu dipantau secara berkala sebagai indikator untuk mendeteksi tekanan harga sejak dini.

Dalam jangka lebih panjang, Eliza menilai ketahanan sistem pangan terhadap perubahan cuaca perlu diperkuat melalui infrastruktur air dan logistik, fasilitas penyimpanan komoditas mudah rusak, serta penguatan posisi petani dan peternak dalam rantai pasok.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia