Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Erupsi Terbaru Gunung Anak Krakatau Rusak Kamera Pemantau

NadiKabar Biro
Erupsi Terbaru Gunung Anak Krakatau Rusak Kamera Pemantau
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Erupsi Terbaru Gunung Anak Krakatau Rusak Kamera Pemantau.

JAKARTA — Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi pada akhir pekan ini. Saat ini status gunung tersebut tetap  di Level III (Siaga).

Dalam peristiwa erupsi yang terbaru, material vulkanik letusan Gunung Anak Krakatau merusak kamera pantau gunung berapi di perairan yang memisahkan Pulau Sumatra dan Pulau Jawa  tersebut.

Akibatnya, pemantauan sementara ini dilakukan secara kasat mata, melalui pos pantau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten dan Lampung.

Rusaknya kamera pantau GAK itu ditulis dalam laporan yang disusun Rioboniek Situmorang yang kemudian diunggah ke Magma Indonesia, situs resmi milik Kementrian ESDM.

"CCTV pengamatan di lapangan OFF terkena lontaran," begitu tulisnya, dikutip Sabtu, 05 September 2026, pukul 12.09 WIB.

Rekaman video letusan Gunung Anak Krakatau beredar luas diberbagai platform media sosial (medsos).

Dalam laporan tersebut, suara gemuruhnya terdengar hingga ke Pos Pantau Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

"Terdengar Dentuman dan Gemuruh dari Pos GAK Pasauran," tulisnya lagi.

Masih dalam laporan tersebut, masyarakat dilarang beraktifitas dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Anak Krakatau (GAK), demi keselamatan bersama, agar menghindari lontaran material GAK.

"Pengamatan kegempaan, terjadi 1 kali gempa letusan atau erupsi, dengan amplitudo 70 mm, dan lama gempa 21.600 detik," jelasnya.

BNPB meminta masyarakat di kawasan pesisir Banten dan Lampung tenang dan jangan panik menyusul kekhawatiran ancaman tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tersebut.

BNPB bersama PVMBG merekomendasikan masyarakat, nelayan, maupun wisatawan untuk mensterilkan seluruh aktivitas dari radius bahaya tiga kilometer dari kawah aktif.

Warga diminta kesiapsiagaan jalur evakuasi dan titik kumpul di pesisir, serta imbauan agar warga tidak mendekati lokasi hanya untuk mendokumentasikan erupsi.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan di Jakarta, Sabtu (5/9), mengatakan bahwa kekhawatiran masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung, terhadap potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau turut menjadi perhatian pemerintah.

Kekhawatiran tersebut juga tidak terlepas dari pengalaman masyarakat terhadap peristiwa tsunami, 22 Desember 2018 yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Namun, sebagaimana hasil evaluasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) didapati pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan masif yang memicu tsunami.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia