Padang - Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia mengingatkan generasi muda untuk mewaspadai potensi ancaman kecerdasan artifisial (AI) terhadap ketahanan nasional di tengah perkembangan teknologi digital.
"Kita harus menempatkan teknologi sebagai salah satu instrumen pendukung kemajuan. AI bekerja berdasarkan algoritma dan data, sehingga penggunaannya tetap perlu disertai pertimbangan dan verifikasi untuk memastikan informasi yang dihasilkan sesuai dengan kebenaran," kata Gubernur Lemhanas Ace Hasan Syadzily dalam Kuliah Umum di Universitas Andalas, Padang, Kamis.
Ia mengatakan informasi yang dihasilkan berdasarkan algoritma memiliki celah sehingga tidak selalu mencerminkan kebenaran. Informasi yang salah dapat terlihat benar ketika didukung algoritma, begitu pula informasi yang benar dapat dinilai salah.
Penggunaan kecerdasan artifisial (AI) secara berlebihan juga berpotensi membentuk budaya serba instan di kalangan mahasiswa, karena proses pembelajaran dapat tergantikan oleh teknologi.
"Belum lagi dorongan pada budaya serba ingin instan, menghilangkan proses. Mahasiswa jika diberi tugas bisa menyelesaikan dalam 2 menit menggunakan AI. Instan tanpa proses. Ini juga berbahaya," ujarnya.
Ia mengatakan ketahanan nasional pada era modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer tetapi juga oleh berbagai aspek kehidupan nasional yang saling berkaitan. Aspek tersebut meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, sumber kekayaan alam, demografi, serta geografi.
Aspek sosial budaya memiliki peran penting dalam menghadapi derasnya arus informasi dan digitalisasi. Aspek tersebut berkaitan dengan pembentukan sumber daya manusia yang mampu menghadapi berbagai tantangan global.
"Karena itu generasi muda memperkuat pemahaman mengenai geopolitik dan kesadaran kebangsaan agar mampu menghadapi perubahan peta kekuatan dunia termasuk yang terjadi di ruang digital," kata dia.
Penguatan nasionalisme dapat dilakukan dengan mempertahankan nilai-nilai budaya lokal yang berkembang di tengah masyarakat. Ia mencontohkan filosofi masyarakat Sumatera Barat "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" yang dinilai dapat menjadi landasan dalam membentuk karakter masyarakat yang adaptif dan religius.
Ia mendorong institusi pendidikan untuk terus menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan akademik sehingga tidak berhenti pada pemahaman secara konseptual.
"Nilai-nilai Pancasila harus terus diinternalisasi dan menjadi bagian penting dalam pendidikan di era digital termasuk melalui pembelajaran di perguruan tinggi," ujarnya.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.