Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Gula berlebihan dapat tingkatkan risiko kerusakan ginjal

NadiKabar Biro
Gula berlebihan dapat tingkatkan risiko kerusakan ginjal
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Gula berlebihan dapat tingkatkan risiko kerusakan ginjal.

Jakarta - Konsumsi minuman manis tidak secara langsung menyebabkan gagal ginjal, namun asupan gula berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes yang dalam jangka panjang berpotensi memicu kerusakan ginjal apabila tidak terkontrol.

“Minuman manis bukan berarti langsung menyebabkan gagal ginjal. Yang perlu diwaspadai adalah konsumsi gula berlebihan yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Bila diabetes tidak terkontrol dalam jangka panjang, ginjal dapat ikut mengalami kerusakan,” ujar Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD-KGH, FINASIM dalam keterangannya pada Selasa.

Ia mengatakan penyakit ginjal dapat terjadi pada usia muda. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, penyakit ginjal kronis ditemukan pada kelompok usia 15–24 tahun sebesar 0,02 persen, usia 25–34 tahun sebesar 0,07 persen, dan usia 35–44 tahun sebesar 0,11 persen.

Sementara itu, data BPJS Kesehatan yang dikutip Kementerian Kesehatan mencatat 134.057 pasien gagal ginjal kronis menjalani hemodialisis sepanjang 2024.

Menurut dr. Mutalib, kerusakan ginjal dapat berlangsung perlahan dan pada tahap awal sering tidak menimbulkan gejala khas. Diabetes dan hipertensi merupakan dua penyebab penting penyakit ginjal kronis. Kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak sistem penyaringan ginjal, sedangkan tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah pada ginjal.

Selain konsumsi gula berlebihan, faktor risiko lainnya meliputi pola makan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, merokok, berat badan yang tidak terkontrol, serta penggunaan obat pereda nyeri, jamu, atau suplemen tanpa pengawasan. Penyakit ginjal juga dapat disebabkan batu atau sumbatan saluran kemih, penyakit autoimun, infeksi, kelainan bawaan, hingga faktor genetik.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain perubahan frekuensi atau jumlah urine, urine berbusa secara menetap, pembengkakan pada kaki, mudah lelah, mual, penurunan nafsu makan, serta tekanan darah yang sulit dikontrol.

Pemeriksaan fungsi ginjal dapat dilakukan melalui tes darah untuk mengetahui kadar kreatinin dan memperkirakan estimated glomerular filtration rate (eGFR), serta pemeriksaan urine untuk mendeteksi albumin atau protein.

“Pasien dengan hipertensi, diabetes, batu saluran kemih berulang, atau riwayat penyakit ginjal dalam keluarga sebaiknya menjalani pemeriksaan secara berkala,” kata dr. Mutalib.

Ia menambahkan penyakit ginjal tidak secara otomatis membuat seseorang harus menjalani cuci darah. Hemodialisis dapat diperlukan apabila fungsi ginjal telah mengalami penurunan sangat berat dan tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara memadai.

Untuk mendukung penanganan gangguan ginjal dan saluran kemih, Bethsaida Hospital Gading Serpong menghadirkan Urology & Nephrology Clinic yang menyediakan layanan deteksi dini, diagnosis, terapi medis, tindakan minimal invasif hingga hemodialisis sesuai kondisi pasien.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Margareth Aryani Santoso, MARS mengatakan penanganan penyakit ginjal membutuhkan pendekatan menyeluruh dan terkoordinasi, mulai dari pencegahan, deteksi dini, diagnosis, terapi hingga pemantauan jangka panjang.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia