Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Harga CPO Naik-Diramal ke US$1.720, RI Makan Buah Simalakama Efek B50?

NadiKabar Biro
Harga CPO Naik-Diramal ke US$1.720, RI Makan Buah Simalakama Efek B50?
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Harga CPO Naik-Diramal ke US$1.720, RI Makan Buah Simalakama Efek B50?.

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia dihadapkan pada pilihan sulit dalam mengelola industri sawit nasional pada 2027. Di tengah proyeksi kenaikan harga crude palm oil (CPO) dunia, produksi sawit Indonesia justru diperkirakan turun akibat dampak El Nino. Pada saat yang sama, kebutuhan CPO dalam negeri untuk mandatori biodiesel B50 diproyeksikan meningkat.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung mengatakan, kondisi tersebut menjadi tantangan dilematis bagi pemerintah. Kenaikan harga CPO dunia memang membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor dan memperoleh devisa lebih besar. Namun, kebutuhan domestik seperti minyak goreng rakyat dan biodiesel juga harus tetap diprioritaskan.

"Secara nasional, ini tantangan yang dilematis dalam pengelolaan industri nasional pada masa El Nino saat ini. Disatu sisi, kenaikan harga minyak sawit dunia memberi kesempatan bagi Indonesia untuk memperbesar ekspornya, untuk memperoleh devisa yang lebih besar. Namun di sisi lain, ketersediaan CPO untuk kebutuhan domestik, khususnya minyak goreng rakyat atau Minyakita dan mandatori biodiesel yang menjadi prioritas pemerintah, jangan dikorbankan," kata Tungkot kepada CNBC Indonesia, Senin (31/8/2026).

Tungkot memproyeksikan pasar minyak sawit dunia pada 2027 mengalami excess demand yang lebih tinggi dibandingkan kondisi 2026. Harga CPO dunia diperkirakan berada di kisaran US$1.650-1.720 per ton.

"Harga CPO dunia tahun 2027 diperkirakan sekitar US$1.650-1.720 per ton," ujarnya.

Proyeksi kenaikan harga tersebut terjadi ketika produksi CPO dunia diperkirakan turun. Produksi CPO dunia yang mencapai 85,4 juta ton pada 2025 diperkirakan menjadi 85,2 juta ton pada 2026 dan kembali turun menjadi sekitar 83,6 juta ton pada 2027.

Indonesia sebagai produsen sekaligus eksportir sawit terbesar dunia juga diproyeksikan mengalami penurunan produksi. Produksi CPO Indonesia sebesar 51,6 juta ton pada 2025 diperkirakan turun menjadi sekitar 49,2 juta ton pada 2026 dan kembali turun menjadi sekitar 47,6 juta ton pada 2027.

Penurunan produksi tersebut diperkirakan merupakan dampak El Nino yang melanda Indonesia dan Malaysia sejak kuartal III-2026 dan diperkirakan masih berlanjut hingga kuartal II-2027.

"Dampak El Nino pada produksi sawit Indonesia sudah mulai terlihat pada kuartal IV-2026 dan dampak terbesarnya terjadi sepanjang tahun 2027," ucap dia.

Di tengah produksi yang menurun, lanjut Tungkot, konsumsi CPO domestik Indonesia justru meningkat. Pada 2026, B50 yang dimulai 1 Juli 2026 membutuhkan CPO sekitar 14 juta ton. Kebutuhan CPO untuk pangan diperkirakan sekitar 10,2 juta ton dan oleokimia sekitar 2,2 juta ton. Total konsumsi CPO domestik Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 26-27 juta ton, meningkat dari sekitar 24,6 juta ton pada 2025.

Tungkot mengatakan, jika B50 diberlakukan secara penuh pada 2027, kebutuhan CPO untuk B50 diperkirakan mencapai sekitar 18 juta ton. Dengan produksi CPO Indonesia yang diperkirakan hanya sekitar 47,6 juta ton, volume CPO yang tersedia untuk ekspor dipastikan semakin sedikit.

Ia menyebut kenaikan harga CPO memang memberikan insentif bagi pelaku perkebunan sawit Indonesia untuk meningkatkan produksi dan ekspor. Namun, ruang untuk meningkatkan produksi pada masa El Nino ekstrem saat ini secara teknis tidak banyak.

Bagi kebun sawit yang relatif toleran terhadap kekeringan, masih terbuka peluang meningkatkan produksi melalui perbaikan atau inovasi best practices yang quick yielding. Kebun-kebun tersebut perlu diidentifikasi dan dijadikan andalan pada masa El Nino.

Sementara itu, data Gapki menunjukkan produksi, konsumsi, dan ekspor industri kelapa sawit Indonesia secara tahunan pada Januari-Juni 2026 masih tumbuh dibandingkan periode yang sama 2025.

Pada Juni 2026, produksi CPO mencapai 4.823 ribu ton, naik 8,59% dibandingkan Mei 2026 sebesar 4.165 ribu ton. Produksi PKO juga naik menjadi 449 ribu ton dari 387 ribu ton pada Mei.

Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO pada Juni 2026 mencapai 5.277 ribu ton, naik 8,59% dibandingkan Mei sebesar 4.552 ribu ton. Secara kumulatif Januari-Juni 2026, total produksi mencapai 30.284 ribu ton, naik 15,82% dibandingkan periode yang sama 2025 sebesar 27.889 ribu ton.

Namun, peningkatan produksi tersebut dibarengi dengan kenaikan konsumsi dan ekspor yang turut menekan stok.

Total konsumsi dalam negeri pada Juni 2026 mencapai 2.201 ribu ton, naik 5,92% dibandingkan Mei sebesar 2.078 ribu ton. Peningkatan konsumsi terutama terjadi pada sektor biodiesel yang mencapai 1.131 ribu ton, naik dari 1.035 ribu ton pada Mei.

Secara kumulatif Januari-Juni 2026, konsumsi dalam negeri mencapai 12.994 ribu ton, naik 5,48% dibandingkan periode yang sama 2025 sebesar 12.272 ribu ton.

Di sisi lain, total ekspor produk sawit pada Juni 2026 mencapai 3.275 ribu ton, melonjak 64,08% dibandingkan Mei sebesar 1.996 ribu ton. Secara kumulatif Januari-Juni 2026, total ekspor mencapai 16.595 ribu ton, naik 5,79% dibandingkan periode yang sama 2025 sebesar 15.686 ribu ton.

Nilai ekspor produk sawit pada Juni 2026 mencapai US$3,92 miliar, naik 57,45% dari US$2,49 miliar pada Mei. Secara kumulatif Januari-Juni 2026, nilai ekspor mencapai US$19,45 miliar, naik 12,57% dibandingkan 2025 sebesar US$17,277 miliar.

Dengan stok awal tahun sebesar 2.068 ribu ton, total produksi Januari-Juni 2026 sebesar 30.284 ribu ton, konsumsi dalam negeri 12.994 ribu ton, ekspor 16.595 ribu ton, serta impor 32 ribu ton, stok akhir Juni 2026 tercatat sebesar 2.844 ribu ton.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan, stok CPO pada akhir 2026 seharusnya masih berada di kisaran 2,5-2,9 juta ton.

"Stok akhir tahun 2026 seharusnya masih di sekitar 2,5-2,9 juta ton. Tidak ada pengetatan pasokan," ucap Eddy, dihubungi terpisah.

Meski demikian, Eddy mengatakan produksi 2027 tetap berpotensi mengalami penurunan. Berdasarkan laporan dari cabang Gapki, sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu dan Kalimantan Utara masih mengalami hujan.

"Saya sudah mendapatkan laporan dari Cabang ternyata Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu dan Kaltara masih ada hujan. Jadi tetap kemungkinan produksi tahun 2027 terjadi penurunan, karena beberapa masih ada hujan penurunannya sekitar 3 juta ton," ujarnya.

Kendati demikian, Eddy memastikan produksi CPO untuk tahun 2026 masih mencukupi dalam mendukung B50.

"Tahun ini 2026 ya, artinya tidak ada masalah dengan B50 di tahun ini," pungkas dia.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia