Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

HIPPI-LestarX inisiasi CCH dorong DKI jadi pusat ekonomi karbon

NadiKabar Biro
HIPPI-LestarX inisiasi CCH dorong DKI jadi pusat ekonomi karbon
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait HIPPI-LestarX inisiasi CCH dorong DKI jadi pusat ekonomi karbon.

Jakarta - Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Jakarta Pusat bersama LestarX menginisiasi pengembangan Jakarta Carbon Central Hub (CCH) untuk memperkuat posisi Jakarta sebagai pusat aktivitas ekonomi karbon, pembiayaan hijau, inovasi teknologi iklim, dan pengembangan proyek dekarbonisasi Indonesia.

Inisiatif tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara HIPPI Jakarta Pusat dan LestarX dalam rangka membangun kolaborasi strategis pengembangan ekosistem karbon yang mempertemukan pemilik proyek, pelaku usaha, industri, investor, lembaga keuangan, penyedia teknologi, serta pemangku kepentingan pemerintah.

Co-Founder LestarX (Lestari Carbon X) Zulfahmy Wahab mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi karbon dunia. Namun, potensi tersebut perlu ditransformasikan menjadi ekosistem bisnis yang terintegrasi, kredibel, terukur, dan memiliki akses terhadap pembiayaan serta pasar.

“Indonesia jangan hanya menjadi pemilik sumber daya karbon, tetapi harus menjadi salah satu pusat penciptaan nilai ekonomi karbon dunia. Jakarta harus mengambil posisi strategis sebagai hub yang menghubungkan proyek, teknologi, pembiayaan, pasar, dan investasi karbon Indonesia dengan ekosistem global,” ujar Zulfahmy di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, paradigma pembangunan ekonomi hijau ke depan tidak cukup hanya berbicara mengenai perdagangan kredit karbon.

"Ekosistem karbon harus dikembangkan menjadi mesin ekonomi baru yang mendorong investasi, industrialisasi hijau, penciptaan lapangan kerja, peningkatan daya saing industri, serta lahirnya berbagai model bisnis baru berbasis dekarbonisasi," kata Zulfahmy.

Dia menyebutkan CCH dirancang bukan semata sebagai marketplace karbon, melainkan sebagai platform ekosistem yang menghubungkan sisi hulu hingga hilir ekonomi karbon.

"Pada sisi hulu, Indonesia itu punya potensi besar dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan, mangrove dan blue carbon, pertanian regeneratif, pengelolaan limbah, energi terbarukan, efisiensi energi, hingga teknologi carbon removal, seperti biochar," papar Zulfahmy.

Sementara pada sisi hilir, kata dia, terdapat kebutuhan dekarbonisasi dari korporasi, kawasan industri, lembaga keuangan, investor, serta rantai pasok global.

CCH pun diharapkan menjadi jembatan yang mempertemukan kedua sisi tersebut melalui pengembangan proyek, peningkatan kapasitas, teknologi MRV (Measurement, Reporting and Verification), akses pembiayaan hijau, pengembangan pasar, serta kemitraan investasi.

“Kita ingin membangun jembatan antara potensi karbon Indonesia yang tersebar di berbagai daerah dengan capital, technology, industry dan market yang terkonsentrasi di Jakarta. Dengan begitu, nilai tambah ekonomi karbon tidak berhenti pada penerbitan kredit karbon, tetapi berkembang menjadi ekosistem industri baru,” tutur Zulfahmy.

Dia menilai momentum pengembangan ekonomi karbon harus dimanfaatkan Indonesia untuk melakukan lompatan ekonomi.

Dia pun menekankan kekayaan sumber daya alam Indonesia tidak boleh kembali menghasilkan pola lama ketika Indonesia hanya menjadi pemasok komoditas mentah, sementara sebagian besar nilai tambah dinikmati di luar negeri.

“Kita tidak ingin mengulang sejarah ekonomi ekstraktif dalam bentuk baru. Indonesia memiliki hutan, mangrove, biomassa, lahan pertanian, sumber energi terbarukan dan potensi carbon removal yang luar biasa. Kekayaan tersebut harus kita konversi menjadi kekayaan intelektual, teknologi, investasi, industri, lapangan kerja dan nilai ekonomi yang sebesar-besarnya bagi Indonesia,” tegas Zulfahmy.

Oleh karena itu, kata dia, CCH akan didorong menjadi kolaborasi yang terbuka bagi pemerintah pusat dan daerah, BUMN, swasta, kawasan industri, lembaga keuangan, universitas, asosiasi bisnis, komunitas, pemilik proyek, serta mitra internasional.

Dalam tahap berikutnya, HIPPI Jakarta Pusat dan LestarX akan mendorong pembentukan forum kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menyusun denah pengembangan CCH sekaligus mengidentifikasi proyek-proyek yang dapat menjadi flagship projects.

"Sejumlah sektor potensial akan dijajaki, misalnya biochar dan pemanfaatan biomassa, kehutanan dan agroforestri, blue carbon, pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular, energi bersih, efisiensi industri, serta berbagai solusi carbon removal," tutur Zulfahmy.

Inisiatif tersebut, sambung dia, dapat memperkuat posisi Jakarta bukan hanya sebagai pusat perekonomian Indonesia, tetapi juga sebagai salah satu simpul penting ekonomi hijau di kawasan.

“Visi besarnya sederhana, proyek karbon dapat berada di seluruh penjuru Nusantara, tetapi Jakarta harus menjadi tempat bertemunya modal, teknologi, kapasitas orang dan pasar. Dari Jakarta, kita ingin membawa nilai ekonomi karbon Indonesia ke panggung dunia,” pungkas Zulfahmy.

Sementara itu, Ketua Umum HIPPI Jakarta Pusat Denma Willyando menegaskan transformasi menuju ekonomi rendah karbon harus menjadi peluang bagi dunia usaha nasional, termasuk pengusaha pribumi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dia mengatakan keterlibatan HIPPI dalam pengembangan CCH merupakan bagian dari upaya membuka akses dunia usaha terhadap peluang ekonomi baru yang muncul dari agenda transisi energi dan pembangunan berkelanjutan.

“Ekonomi hijau tidak boleh menjadi ruang yang hanya dapat dimasuki perusahaan besar. Pengusaha nasional dan UMKM harus menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi karbon. HIPPI ingin membuka akses terhadap pengetahuan, teknologi, proyek, pembiayaan, dan pasar sehingga transisi hijau juga melahirkan pengusaha-pengusaha baru Indonesia,” ungkap Denma.

Lebih lanjut, dia menuturkan Kolaborasi HIPPI Jakarta Pusat dan LestarX juga diarahkan untuk mendorong lahirnya proyek-proyek karbon yang memiliki dampak ekonomi langsung bagi masyarakat dan daerah.

Pengembangan Jakarta sebagai CCH, menurut dia, memiliki relevansi strategis, sejalan dengan transformasi Jakarta menuju kota global sekaligus pusat ekonomi dan bisnis nasional.

"Dengan konsentrasi lembaga keuangan, korporasi nasional dan multinasional, investor, asosiasi dunia usaha, penyedia teknologi, konsultan profesional, serta berbagai institusi strategis lainnya, Jakarta memiliki modal untuk berkembang menjadi pusat orkestrasi ekonomi karbon Indonesia," imbuh Denma.

Dalam kerangka tersebut, CCH akan dikembangkan melalui lima pilar utama, yakni Carbon Project Development, Carbon Market & Offtake, Green Finance & Investment, Technology & MRV, serta Capacity Building & Green Entrepreneurship.

"Ekosistem ini diharapkan dapat mempertemukan potensi proyek karbon dari berbagai daerah Indonesia dengan kebutuhan dekarbonisasi korporasi serta sumber pembiayaan domestik dan internasional," pungkas Denma.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia