Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Inaplas nilai dinamika geopolitik momen perkuat pasar domestik

NadiKabar Biro
Inaplas nilai dinamika geopolitik momen perkuat pasar domestik
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Inaplas nilai dinamika geopolitik momen perkuat pasar domestik.

Jakarta - Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menilai dinamika geopolitik global yang berdampak pada gangguan perdagangan dan kenaikan biaya logistik dapat menjadi momentum untuk memperkuat pasar domestik.

Menurut Fajar, ketidakpastian geopolitik masih membuat kondisi pasar sulit diprediksi, termasuk pergerakan harga komoditas yang menjadi bahan baku industri.

Namun, kata dia dalam pernyataan yang sudah dikonfirmasi di Jakarta, Rabu, saat ini tantangan utama industri tidak hanya berasal dari faktor bahan baku dan harga, melainkan juga biaya logistik yang semakin meningkat.

"Memang posisinya itu masih belum menentu ya, dari sisi harga karena naik turun karena memang geopolitik masih begini, sehingga harga minyak naik turunnya itu lebih sering. Tetapi untuk beberapa komoditas, memang saat ini justru fenomenanya yang jadi kendala bukan masalah bahan baku dan harga, tapi yang jadi kendala adalah logistik," ujar Fajar.

Ia menjelaskan, lonjakan biaya pengiriman turut menekan aktivitas perdagangan, termasuk masuknya produk impor. Di sisi lain, pasar domestik masih cenderung menunggu perkembangan permintaan sebelum kembali meningkatkan aktivitas pembelian.

"Logistik, jadi sekarang freight-nya itu mahal-mahal semua, sehingga barang-barang impor pun juga mulai turun. Dari China juga sudah mulai agak tinggi harganya. Tetapi pasar lokal kayaknya juga masih wait and see untuk ambil posisi, karena pengirimannya itu tidak terlalu bisa dipastikan, yang kedua juga harganya fluktuasi, sehingga orang cenderung ke wait and see dan memang pasca ajaran baru ini memang tren turun," kata Fajar.

Ia menilai kondisi tersebut dapat dimanfaatkan industri dalam negeri untuk meningkatkan penetrasi pasar lokal. Namun, peluang tersebut harus didukung kebijakan pemerintah agar industri nasional tetap terlindungi ketika kondisi perdagangan global kembali membaik.

Selain tekanan perdagangan global, Fajar mengatakan persoalan daya beli juga masih menjadi tantangan bagi industri petrokimia. Penurunan permintaan berdampak langsung terhadap tingkat utilisasi pabrik yang harus tetap beroperasi secara berkelanjutan.

Menurutnya, pemulihan daya beli di berbagai sektor ekonomi akan menjadi faktor penting untuk mendorong peningkatan permintaan manufaktur. Sejumlah sektor seperti pertambangan, tekstil, makanan dan minuman, infrastruktur, hingga otomotif dinilai memiliki keterkaitan besar terhadap pemulihan industri.

Dari sisi pasokan, industri juga menghadapi perubahan pola sumber bahan baku global. Gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah membuat pelaku industri harus mencari alternatif pemasok dengan konsekuensi biaya lebih tinggi dan waktu pengiriman yang lebih panjang.

"Jadi memang sumber bahan baku dari Middle East sudah mulai susah, sudah macet, sehingga harus mencari alternatif sumber bahan baku di tempat lain. Nah sudah dapat dari tempat lain, tapi dengan harga yang lebih sedikit premium. Nah itu sudah ada. Kemudian yang kedua juga masalah waktunya, sehingga kalau dulu kan sebulan sudah bisa sampai, kalau ini kan bisa butuh waktu 60 hari sehingga kan mau nggak mau yang di perjalanan makin banyak sehingga modal kerjanya makin nambah," paparnya.

Di tengah kondisi tersebut, Fajar melihat penggunaan LPG sebagai alternatif Naphtha dapat menjadi salah satu peluang untuk menjaga efisiensi produksi ketika harga energi lebih kompetitif. Namun, manfaatnya tetap bergantung pada dinamika harga energi global.

Sementara itu, perkembangan kendaraan listrik juga dinilai membuka peluang baru bagi industri nasional, khususnya melalui peningkatan penggunaan komponen dan bahan baku lokal.

"Kemudian di otomotif kita berharap mobil listrik segera diproduksi dalam negeri sehingga komponen-komponennya bisa menggunakan supplier lokal dan bahan bakunya bahan baku lokal," kata Fajar.

Kata Fajar, pelaku usaha masih membutuhkan kepastian pasar hingga pasokan bahan baku guna menjaga daya saing.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia