Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

Iran siap penuhi kewajiban jika AS berkomitmen pada MoU perdamaian

NadiKabar Biro
Iran siap penuhi kewajiban jika AS berkomitmen pada MoU perdamaian
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait Iran siap penuhi kewajiban jika AS berkomitmen pada MoU perdamaian.

Teheran - Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Selasa (1/9) mengatakan bahwa jika Amerika Serikat (AS) kembali berkomitmen pada nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) perdamaian dengan Iran, Teheran siap memenuhi kewajibannya.

Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Cooperation Organization/SCO) 2026 di Bishkek, ibu kota Kirgizstan, ungkap pernyataan dari kantornya. Pezeshkian menegaskan bahwa AS tidak dapat lagi memaksakan tuntutan-tuntutan "ilegal"-nya kepada Iran dengan menggunakan kekuatan. Mengacu pada "agresi" AS dan Israel terhadap Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer dan warga sipil, Pezeshkian mengatakan bahwa "kejahatan-kejahatan tersebut tidak memiliki dasar hukum apa pun, dan agresi semacam itu sama sekali tidak dapat dibenarkan." Dia juga mengatakan bahwa Iran akan menentang unilateralisme serta kebijakan yang didasarkan pada tekanan dan sanksi, seraya menyerukan penguatan kerja sama regional dan multilateralisme. Pezeshkian menggambarkan hubungan Iran-Rusia sebagai hubungan yang "strategis" dan "berada pada tingkat yang sangat baik," seraya memuji dukungan Moskow kepada Teheran. Sementara itu, Putin menyatakan keprihatinan atas ketegangan regional yang terus berlanjut dan menyampaikan harapannya akan hasil nyata dalam perundingan AS-Iran. Dia juga menegaskan komitmen Rusia untuk mempererat hubungan dengan Teheran di segala bidang. Secara terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei pada Selasa menolak klaim AS sekaligus menyebutnya sebagai sebuah "kebohongan" bahwa serangan terbarunya terhadap Pulau Larak, Iran, dilakukan karena pasukan Iran tengah bersiap memasang ranjau di Selat Hormuz. Dalam konferensi pers mingguan, Baghaei menyinggung klaim berulang AS mengenai niat Iran untuk mengembangkan senjata nuklir, seraya mengatakan bahwa pola Washington adalah "selalu mengarang kebohongan untuk membenarkan kejahatannya." Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan sejumlah kota lain di Iran.

Iran merespons dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan dan aset militer AS di kawasan Timur Tengah, dan memperketat kendali atas Selat Hormuz. Pada 18 Juni, AS dan Iran menandatangani MoU untuk mengakhiri perang di kawasan tersebut, dengan perundingan dijadwalkan berlangsung dalam kurun 60 hari, yang berakhir pada 17 Agustus, guna mencapai kesepakatan akhir. Namun, nasib perundingan itu masih belum jelas di tengah eskalasi yang terus berlanjut.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia