Tokyo - Jamur Matsutake sangat dihargai sebagai hidangan lezat musim gugur di Jepang, tetapi di kerajaan Himalaya, Bhutan, tempat jamur tersebut tumbuh di pegunungan di seluruh negeri, tidak banyak warga lokal yang berminat mengonsumsinya.
Hal itu menjadikan matsutake asal Bhutan sebagai "harta karun tersembunyi" bagi para pembeli asal Jepang, karena rasa dan aromanya setara dengan varietas yang tumbuh di Jepang, tetapi harganya jauh lebih murah.
Panen tahun ini juga berjalan lancar, berbanding terbalik dengan Jepang, di mana cuaca panas ekstrem dan curah hujan yang rendah menyebabkan hasil panen yang buruk pada tahun lalu.
"Ada satu di situ, tepat di bawah dedaunan itu," kata Chimi Rinzin sambil menyibakkan tanah di sebuah gunung dekat ibu kota Thimphu pada akhir Juli untuk memperlihatkan sebatang matsutake kecil.
Dalam kurun waktu satu jam, pria berusia 43 tahun itu telah mengumpulkan lebih dari selusin jamur dengan berbagai ukuran.
"Saat-saat seperti inilah jamur mulai banyak bermunculan, dan kami bisa terus memetiknya hingga sekitar akhir September," ujarnya.
Pekerjaan utama Rinzin adalah mengelola sebuah restoran Tionghoa, tetapi selama enam atau tujuh tahun terakhir, ia mengambil cuti selama musim panen untuk berburu matsutake.
Ia menjual hasil buruannya ke perusahaan perdagangan lokal yang mengekspor jamur tersebut ke Jepang, dan menggunakan uang hasil penjualan jamur untuk membantu biaya pendidikan anak-anaknya.
Berdasarkan pengalamannya, Rinzin mengatakan tempat terbaik untuk menemukan matsutake adalah area dengan tanah yang sedikit lembap di ketinggian antara 3.000 hingga 3.400 meter.
Bhutan memiliki area di mana setiap orang diizinkan untuk mencari jamur, serta area lain di mana pemanenan dibatasi hanya untuk warga setempat.
Dikenal secara lokal sebagai "Sangay Shamu," yang berarti "jamur Buddha," matsutake tetap saja tidak terlalu populer di kalangan masyarakat Bhutan.
Di pasar pusat Thimphu, Dawa Dema, 36 tahun, mengatakan bahwa jamur chanterelle adalah jamur yang paling populer.
"Rasanya enak, jadi orang menggunakannya dalam berbagai jenis masakan," katanya. "Tidak banyak orang yang membeli matsutake karena mereka tidak suka aromanya."
Matsutake dijual di pasar tersebut seharga 1.000 ngultrum, atau sekitar 1.700 yen ($10), per 250 gram.
Pengimpor makanan yang berbasis di Tokyo, FUI Japan Co., melihat peluang bisnis tersebut dan mulai mengimpor jamur tersebut pada tahun 2014 melalui pembeli lokal.
Hiroya Ueyama dari perusahaan tersebut mengatakan harga bervariasi tergantung pada hasil panen dan periode musimnya, tetapi secara umum berada di kisaran seperlima hingga sepersepuluh dari harga matsutake Jepang.
Dengan volume ekspor yang masih relatif kecil dan proses prosedur yang cepat, jamur itu dapat tiba di Jepang dengan tetap terjaga kesegarannya, katanya.
"Matsutake Bhutan secara bertahap telah meraih reputasi di kalangan penikmat kuliner," kata Ueyama, seraya menambahkan bahwa semakin banyak restoran tradisional Jepang kelas atas dan tempat makan lainnya, termasuk yang berkelas tiga bintang Michelin, yang menggunakannya.
Yoshihiro Murata, pemilik generasi ketiga dari restoran legendaris Kyoto, Kikunoi, juga memberikan nilai tinggi untuk matsutake Bhutan dan menyajikannya dalam beberapa hidangan.
"Bentuknya sangat mirip dengan matsutake Jepang, dan keunggulan lainnya adalah jamur ini tidak rusak oleh hama serangga," kata Murata.
Namun dengan pasokan dari Bhutan yang masih terbatas, ia melihat masih ada ruang bagi pasar ini untuk berkembang.
"Jika kami bisa mendapatkan pengiriman yang rutin, saya pikir jamur ini akan makin laku keras," katanya.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.