Gorontalo - Jaringan Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (JAPESDA) mendorong kepastian wilayah tangkap melalui pemetaan partisipatif guna memperkuat ekonomi nelayan masyarakat Bajo di Desa Bajau, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Gorontalo.
Divisi Advokasi dan Kebijakan JAPESDA Zulfianto Biahimo mengatakan kepastian terhadap wilayah yang selama ini dimanfaatkan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberlanjutan mata pencaharian nelayan.
"Hari ini kami melakukan penguatan kapasitas sekaligus pembentukan kelompok masyarakat yang khusus mendorong hak-hak tenurial masyarakat Bajo," kata Zulfianto di Desa Bajau, Jumat.
Ia mengatakan penguatan hak tenurial dilakukan antara lain melalui pemetaan wilayah secara partisipatif untuk mengidentifikasi wilayah pemanfaatan masyarakat. Mulai dari wilayah tangkap nelayan, serta kawasan yang memiliki nilai adat.
Menurut dia, pemetaan tersebut penting karena masyarakat setempat memiliki pengetahuan langsung mengenai wilayah yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menjalankan aktivitas ekonomi.
"Yang lebih tahu soal wilayah sekitar, wilayah pemanfaatan maupun wilayah adat adalah masyarakat di tingkat tapak. Karena itu kami memfasilitasi masyarakat untuk membuat peta sendiri, termasuk peta yang mencakup hak tenurial masyarakat Bajo," ujarnya.
Zulfianto mengatakan persoalan hak tenurial juga berkaitan dengan akses masyarakat untuk meningkatkan kegiatan ekonomi mereka secara mandiri. Sebagian masyarakat masih menghadapi kendala dalam memenuhi hal tersebut karena persoalan kepemilikan aset.
Ia mencontohkan kondisi rumah masyarakat Bajo yang sebagian berdiri di atas laut sehingga persoalan pengakuan terhadap kepemilikan rumah dan wilayah tempat tinggal menjadi bagian yang perlu diperjuangkan.
"Pengakuan terhadap hak kepemilikan rumah beserta wilayahnya juga menjadi bagian yang kami dorong melalui kegiatan ini," katanya.
Selain memperkuat akses ekonomi nelayan, JAPESDA juga mendorong penguatan tata kelola penangkapan ikan yang berkelanjutan dengan tetap menjaga ekosistem laut dan terumbu karang.
Sementara itu, nelayan Desa Bajau Ain Badu mengatakan kegiatan pemetaan memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat dalam mengenali wilayah yang selama ini menjadi tempat nelayan mencari ikan.
"Kami mendapatkan pengetahuan baru tentang pemetaan wilayah tangkap untuk nelayan mengambil ikan. Ada tujuh titik yang saat ini menjadi wilayah tangkap," kata Ain.
Ia mengatakan pelatihan tersebut telah dilaksanakan sebanyak lima kali dengan melibatkan aparat desa, masyarakat, dan karang taruna.
Menurut Ain, keterlibatan berbagai unsur masyarakat dalam pemetaan membantu warga memiliki pemahaman bersama mengenai wilayah pesisir yang selama ini dimanfaatkan untuk mendukung kehidupan masyarakat.
Penguatan kapasitas masyarakat tersebut selanjutnya akan dilanjutkan melalui Sekolah Advokasi Pesisir (Sadar) yang menyasar anak muda masyarakat pesisir.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi persoalan pesisir, melakukan advokasi, serta memperjuangkan kepentingan masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir secara berkelanjutan.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.