Tokyo - Kementerian Perindustrian Jepang, Senin, berupaya melakukan survei awal di sebuah kota di Prefektur Ibaraki, dekat Tokyo, dengan tujuan menjadikannya lokasi potensial pembuangan limbah radioaktif tingkat tinggi.
Hitachiomiya akan menjadi lokasi kelima untuk survei awal semacam itu jika kota tersebut menerima rencana tersebut.
Proses pemilihan itu melibatkan tiga tahap yang berlangsung selama sekitar 20 tahun.
Survei awal, yang merupakan tahap pertama, memakan waktu sekitar dua tahun, dan pemerintah daerah yang berpartisipasi dapat menerima subsidi hingga 2 miliar yen (Rp222 miliar).
"Secara pribadi, saya memandang usulan ini secara positif. Saya akan mendengarkan pendapat anggota dewan kota sebelum mengambil keputusan akhir," kata Wali Kota Hitachiomiya, Sadayuki Suzuki.
Namun, sebagian warga setempat telah menyatakan kekhawatiran mereka.
"Saya khawatir tentang apa yang mungkin terjadi, terutama dengan banyaknya gempa bumi yang terjadi belakangan ini," kata seorang perempuan berusia 29 tahun yang bekerja di klinik gigi setempat.
"Saya ingin pemerintah kota dan pemerintah pusat memberikan bukti bahwa hal ini aman," tambahnya.
Dengan populasi sekitar 35.000 jiwa, Hitachiomiya adalah kota yang tidak memiliki akses laut (terkurung daratan) di bagian utara Prefektur Ibaraki, berbatasan dengan Prefektur Tochigi di sebelah barat.
Pada peta yang dirilis pemerintah pusat pada 2017, yang mengidentifikasi wilayah dengan karakteristik geologis yang berpotensi mendukung pembuangan limbah radioaktif tingkat tinggi di bawah tanah, kota itu diklasifikasikan memiliki "potensi kesesuaian yang relatif tinggi."
Proses itu dapat dimulai baik ketika pemerintah daerah mengajukan diri sebagai lokasi kandidat maupun ketika pemerintah pusat meminta persetujuan mereka.
Hitachiomiya adalah lokasi kedua yang diincar pemerintah pusat sebagai calon tempat pembuangan, setelah Kepulauan Ogasawara yang dikelola pemerintah metropolitan Tokyo, termasuk Pulau Minamitori yang berada di ujung paling timur wilayah perairan negara itu di Pasifik.
Suttsu dan Kamoenai (keduanya di Hokkaido, Jepang utara) serta Genkai (Prefektur Saga, Jepang barat daya) juga sedang dipertimbangkan.
Pada Januari 2007, sebuah kota di Prefektur Kochi, Jepang barat, mengajukan permohonan survei awal namun akhirnya menarik kembali permohonan tersebut akibat penentangan dari warga setempat.
Sementara itu, pada September 2023, wali kota Tsushima di Prefektur Nagasaki, Jepang barat daya, memutuskan untuk tidak menerima survei awal meskipun dewan kota mendesaknya untuk melakukan hal tersebut.
Pembuangan limbah nuklir melibatkan proses pemadatan limbah cair, yang dihasilkan selama pengolahan ulang bahan bakar nuklir bekas, menjadi bentuk kaca, serta penguburannya di kedalaman lebih dari 300 meter di bawah tanah.
Karena limbah tersebut memancarkan radiasi yang sangat kuat, limbah itu harus tetap terkubur dan terisolasi dari populasi manusia selama puluhan ribu tahun.
Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.