Memuat Waktu WIB...
Trending:
#5G Indonesia #BI Rate #Timnas Day #Ekonomi Digital
Nasional

JPS minta kajian pengolahan sampah jadi energi diperkuat

NadiKabar Biro
JPS minta kajian pengolahan sampah jadi energi diperkuat
Dokumentasi dan liputan resmi tim redaksi NadiKabar.com terkait JPS minta kajian pengolahan sampah jadi energi diperkuat.

Jakarta - Jakarta Public Service (JPS) meminta agar kajian tentang fasilitas pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WTE) di Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter, Jakarta Utara, diperkuat sehingga tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

“Pemprov DKI Jakarta perlu melakukan kajian mendalam sebelum fasilitas WTE dioperasikan, terutama terkait aspek lingkungan, teknologi, kesehatan masyarakat, serta pengelolaan residu hasil pengolahan sampah,” kata Direktur Eksekutif JPS M Syaiful Jihad di Jakarta, Sabtu.

Dia mengatakan pengalaman pengoperasian fasilitas pengolahan sampah di RDF Rorotan dapat menjadi bahan evaluasi.

Persoalan lingkungan dan keluhan masyarakat yang muncul dalam pengoperasian RDF Plant Rorotan, kata dia, menunjukkan aspek pengendalian dampak harus menjadi perhatian sejak tahap perencanaan.

"Jangan sampai kita memiliki fasilitas pengolahan sampah, tetapi kemudian muncul persoalan baru di lingkungan sekitar. Karena itu, analisis mengenai dampak lingkungan harus benar-benar dilakukan secara komprehensif dan terbuka," ujar Syaiful.

Menurut dia, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sebelumnya telah melakukan sejumlah langkah pengendalian dampak lingkungan di RDF Plant Rorotan, termasuk memperkuat sistem pengendalian emisi dan menambah perangkat penetral bau.

"Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga menyatakan pengangkutan menuju fasilitas tersebut menggunakan truk compactor tertutup untuk mengurangi potensi bau dan ceceran air lindi," tutur Syaiful.

Dia pun menilai pengalaman tersebut seharusnya menjadi pembelajaran dalam menyiapkan ITF Sunter.

Dia juga menegaskan kajian tidak cukup hanya menghitung kapasitas pengolahan dan produksi energi, tetapi juga harus memperhitungkan dampak terhadap udara, air, tanah, lalu lintas pengangkutan sampah, hingga kondisi sosial masyarakat di sekitar fasilitas tersebut.

ITF Sunter diketahui memiliki kapasitas pengolahan hingga 2.200 ton sampah per hari dengan teknologi WTE.

Fasilitas tersebut diproyeksikan mampu mengolah sampah menjadi energi listrik dan mengurangi volume sampah secara signifikan.

"Pemprov DKI Jakarta menyebut kapasitas tersebut dapat mereduksi volume sampah lebih dari 80 persen dan menghasilkan listrik hingga 35 megawatt (MW). Nilai investasi proyek diperkirakan mencapai Rp5,3 triliun," ungkap Syaiful.

Dia menyebutkan dengan kapasitas 2.200 ton per hari, maka ITF Sunter secara teoritis dapat menangani sekitar 27-29 persen dari timbulan sampah Jakarta yang berada di kisaran 7.700-8.000 ton per hari.

"Artinya, fasilitas tersebut berpotensi memberikan kontribusi cukup besar dalam mengurangi beban pengelolaan sampah, meski tidak dapat menjadi satu-satunya solusi," imbuh Syaiful.

Pembangunan WTE , sambung dia, juga harus berjalan beriringan dengan kebijakan pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber.

“Upaya pemerintah dalam mencari solusi terhadap persoalan sampah Jakarta perlu didukung,” tegas Syaiful.

Lebih lanjut, dia menyebutkan rencana Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk merealisasikan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WTE) harus mendapat dukungan, terlebih volume sampah yang dihasilkan di Jakarta masih sangat besar.

“Kondisi ini membutuhkan penanganan di luar pola pembuangan ke tempat pemrosesan akhir,” kata Syaiful.

Berdasarkan data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, volume sampah Jakarta berada pada kisaran 7.700-8.000 ton per hari, sementara timbunan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang telah mencapai sekitar 55 juta ton.

Syaiful mengungkapkan kondisi tersebut menunjukkan perlunya fasilitas pengolahan sampah yang mampu mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan manfaat lain.

"Upaya untuk mengatasi persoalan sampah di Jakarta tentu harus kita dukung. WTE bisa menjadi salah satu solusi karena sampah tidak hanya dibuang, tetapi juga diolah dan dimanfaatkan menjadi energi," ujar Syaiful

Dia pun berharap rencana pengaktifan kembali ITF Sunter dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan transparansi.

Pemprov DKI Jakarta, kata dia, perlu melibatkan masyarakat serta memastikan seluruh standar lingkungan dan pengendalian emisi dipenuhi sebelum fasilitas tersebut beroperasi.

"WTE jangan sampai hanya menjadi proyek infrastruktur pengolahan sampah, tetapi benar-benar menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah Jakarta yang berkelanjutan," pungkas Syaiful.

Laporan Khusus & Verifikasi Fakta: Tim Redaksi NadiKabar.com • Standar Jurnalisme Siber Indonesia.

Topik Terkait: #Nasional #Berita Terkini #NadiKabar #Indonesia